Livy Dovey

Livy Dovey drama📲
Day in my life💅
trend tiktok👯

“Tiga bulan k4win sama Pak Bos, belum di-unb0xing juga? Yakin suamimu kagak bel0k?"“Iya, aneh masa tahan banget sampe ti...
18/12/2025

“Tiga bulan k4win sama Pak Bos, belum di-unb0xing juga? Yakin suamimu kagak bel0k?"

“Iya, aneh masa tahan banget sampe tiga bulan nggak anuan. Jangan-jangan suamimu emang ….”

Aku terkekeh mendengar pertanyaan dua orang temanku, Lea dan Rinda.

"Biasa laki-laki tuh paling nggak bisa nahan diri, loh, Fi ... bahkan walaupun nggak ada cinta, bisa mereka."

“Aku mah bodo amat, Le, yang penting bisa makan enak tiap hari, terus t f-an lancar. Iya, kan?” ujarku sambil menyantap mie ramen di restoran Jepang elit ini dengan lahap. Tak menyangka, jika menjadi istri seorang bos bisa semenyenangkan ini rasanya.

Kita tak perlu berpikir bagaimana caranya mendapatkan uwng karena tanki kewangan selalu terisi penuh. Maka Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?

“Tapi, kamu yakin dia s**a sama cewek?” Pertanyaan Rinda, temanku yang lain, hanya kubalas dengan senyuman manis.

“Kalau soal itu aku nggak tahu, tapi apa pun itu. Whatever! Bukannya bagus, ya, kalau aku dinikahi cuma demi status? Kan jadi nggak harus capek-capek ngejalanin kewajiban, terus nggak harus repot-repot juga keramas tiap pagi. Ya, kan?”

“HAHAHA. Bener-bener! Yang penting soal dv.it aman, kan, Fi?”

“Aman itu, mah, beres!”

“Bagus bagus bagus! Jadi makanan kita semua ini, kamu yang traktir, kan, Fi?” tanya Rinda, yang kubalas dengan anggukan santai.

“Nah, gitu, d**g, itu baru namanya istri bos!”

“HAHAHA bisa aja."

Puas makan, aku dan kedua temanku lanjut nonton. Malam ini ada film bagus yang baru tayang premier, jadi apa salahnya aku nonton? Janji bikin happy tak masalah, kan? Toh dv.it suamiku banyak, jadi pasti dia tak akan mempermasalahkan jika aku memakainya sekedar untuk makan di luar dan nonton.

***

Setelah makan dan nonton, aku pulang ke rumah pada hampir pukul sembilan malam. Dan seperti biasanya suamiku yang g1.la kerja belum pulang jam segini. Oke, tak jadi soal.

Aku yang sejak beberapa bulan belakangan harus terbiasa hidup dalam kemewahan, memilih mandi dengan air hangat untuk merefresh kembali pikiranku.

Setelah mandi dan membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi mewah itu dengan perasaan yang jauh lebih baik. Masih sambil memakai handuk kimono berwarna merah muda, aku berjalan menuju ke arah lemari untuk memilih baju tidur mana yang bakal aku pakai malam ini.

“Aku ingin kau melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri malam ini.” Aku yang sedang memilah dan memilih baju, terkesiap saat menyadari seseorang sudah berdiri di belakangku. Dia Reynand Dinata, pria 31 tahun yang dulu merupakan bosku dan sejak tiga bulan ini resmi menjadi suamiku.

“Kau mendengarku, kan, Alifia?” sentaknya dengan suara yang sedikit keras. Membuatku yang masih berdiri kaku di depan lemari besar ini tergeragap.

“I-iya, dengar.” Aku menjawab gugup pertanyaannya.

Aku menahan gerakan tanganku saat menyadari pria ini semakin dekat.

Bukankah selama ini dia hanya peduli dengan pekerjaannya? Aku saja sempat beranggapan jika pernikahan ini tak lebih dari sekedar status agar dirinya dicap sebagai pria normal yang berkomitmen.

Lalu, ini? Sekarang dia minta hak? Apakah aku tidak salah dengar?

“Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Mari kita mulai sekarang. Layani aku sebagai suamimu malam ini,” ucapnya dingin dan terdengar sedikit mengerikan. Aku diam membatu, tak tahu harus menanggapi bagaimana permintaannya yang tiba-tiba seperti ini.

“Kenapa diam? Bukankah aku memintamu melakukan tugasmu seorang istri? Aku tak perlu mengajarimu, kan, tentang apa yang harus kau lakukan. Jadi, ayo, lakukan tugasmu dengan baik.”

“Ma-maaf, Mas. Aku mau pake baju dulu,” ujarku sesaat setelah memilih dengan asal baju tidur berbahan kaos untuk dipakai malam ini.

“Tidak perlu repot-repot pakai baju. Begini saja sudah cukup."

Pria yang tak kuketahui alasannya mau menikah denganku tiga bulan lalu, menyeringai penuh saat dirinya memaksaku membalik badan. Membuat jantungku berdebar kencang dengan bulu kuduk yang tiba-tiba terasa meremang.

Dari desas-desus yang pernah kudengar, dia adalah pria bebas sebelum menikah denganku. Makanya, selama ini aku tak pernah mempermasalahkan jika pria itu tak menuntut hak selama berbulan-bulan lamanya. Yang penting uwng bulanan lancar. Itu saja sudah cukup.

“Let’s try, Honey, kamu pasti bakal ketagihan setelah mencobanya sekali,” ujarnya lantas menyeringai penuh, membuatku seluruh tubuhku merinding saat menatapnya.

Aku yang benar-benar belum siap jika harus memberikan hak yang diminta secara tiba-tiba ini, refleks menghindar dan menjauhinya secepat mungkin.

Namun, dengan cepat pria ini mengejarku dan sontak membuatku tak berkutik sama sekali saat kedua tangannya yang kekar mengunci diriku ke tembok. Harum tv.buhnya yang maskulin tercium tercium lekat di indera penciumanku. Namun, bukannya terlena, aku justru t4.kut saat pria ini tiba-tiba ….

"Tidak ada alasan lagi, Fia. Lakukan tugasmu sebagai seorang istri dan puwskan aku malam ini.”

Aku kira pria ini tak normal karena membiarkanku tak tersentuh sampai tiga bulan menikah. Namun, nyatanya ….

Aku gemetaran dan hampir lupa caranya bernapas saat dia ….

***

Baca kisah lengkapnya di KBM app

Judul : Setelah Aku Menjadi Istrimu

Penulis : Askana Sakhi

“Kau tak tau betapa perk4s4nya  kuli sepertiku di atas ran-jang?”“Tidak, sebelum aku membuktikannya.” Evelyn menantang.“...
18/12/2025

“Kau tak tau betapa perk4s4nya kuli sepertiku di atas ran-jang?”
“Tidak, sebelum aku membuktikannya.” Evelyn menantang.
“Tapi, aku tak s**a bekas lelaki lain.”

Awalnya aku merendahkan istriku yang tak lagi suci, pada akhirnya kuketahui ternyata dia korban fitnah, hingga suatu malam aku dan dia ….

***

"Kau berlama-lama di kamar mandi, Nona. Apa kau baru saja melakukan ritual pembersihan dosa? Keperaw4wananmu tak kan kembali. Kau tak perlu gugup, aku takkan menyentuhmu malam ini, dan malam-malam berikutnya," kata Danu.

Berat, serak, tanpa basa-basi. Khas suara seorang suami yang baru saja menjalani pernikahan yang dipaksakan. Dan ... suara frustasi pria yang tak bahagia.

"Si-al," ucapnya sambil menyalakan ro-kok. Asap mengepul ke udara.

Evelyn yang berada di kamar mandi, menelan ludah. Detik berikutnya, dia keluar dari kamar mandi. Mata mereka sempat bersirobok, lalu saling membuang muka.

Evelyn memaksakan udara masuk ke paru-parunya. Ini bukan lobi kantor, ini bukan sesi presentasi. Sejak akad nikah, pria berambut gondrong ini, memang tak menyukainya. Memandang jijik padanya.

Ia berjalan tegap menuju ranjang, mengambil bantal tambahan, dan melemparkannya ke arah sofa tunggal di sudut, sebuah sofa beludru berwarna ungu tua.

"Kau tidur di sofa, ranjang ini milikku," kata Evelyn, suaranya berusaha tegas, tapi terdengar sedikit melengking karena menahan amarah yang sudah dipendam sejak akad nikah pagi tadi. "Aku tidak menerima bantahan, Danu. Ada kesepakatan ...."

"Kesepakatan konyol," potong Danu, suaranya datar, tanpa emosi, membuat Evelyn merasakan sensasi dilempar ke dalam kulkas display toko swalayan. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, status. Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau, u-ang untuk biaya pengobatan ibuku. Selebihnya, tak ada yang perlu kita bagi, termasuk ran-jang, Nona Evelyn."

"Bagus kalau kau tahu batas! Maka, jangan coba-coba melanggar batas ranja-ngku ini."

Danu bangkit. Gerakannya lambat, seperti lempengan bumi yang bergeser. Dalam hitungan detik, ia berdiri di hadapan Evelyn. Bau keringat, ro-kok, dan sabun murahan menguar, menusuk hidung Evelyn yang terbiasa dengan aroma Chanel.

"Apa yang kau takutkan, Evelyn?" Danu mencond**gkan tubuhnya. Matanya yang dingin kini tampak lebih menghakimi di bawah lampu neon yang berkedip-kedip di plafon. "Kau bukan seorang wanita terhormat yang menjaga kehormatannya hingga malam pernikahan."

Evelyn memalingkan wajah, menghembuskan napas keras.

"Terserah kau saja mau bilang apa, aku mengantuk," keluh Evelyn, sumpah, dia lelah.

"Jangan sok suci di depanku. Aku sudah tahu tentangmu, Nona." Danu mendengus, tawa kering dan sinis itu seperti kerikil yang dilemparkan ke wajah Evelyn. "Kabarnya kau tak lagi pera--wan. Itu sebabnya dinikahkan denganku, orang rend-ahan yang tak punya pilihan. Jadi, apalagi yang kau jaga? Kehormatan yang sudah hilang, atau harga dirimu yang palsu?"

Deg!

Kata-kata itu. Bukan karena keja-mnya, tapi karena kebetulan benar dan diucapkan di saat yang paling rentan.

"Apa?" tanya Evelyn.

"Sudahlah," jawab Danu. Dia mengedikkan bahu tak peduli.

Di kantor, Evelyn dijuluki singa betina yang cerdas. Ia memenangkan tender, ia menjatuhkan lawan bicara hanya dengan satu kalimat dingin. Kini, singa betina itu merasa dilecehkan di kandangnya sendiri, oleh seekor ... kucing liar yang berlumuran debu.

Palsu. Itu kata kuncinya.

Wajah Evelyn memerah, darah mendidih seolah seluruh pembuluh darahnya diisi oleh kopi yang baru diseduh. Ia tidak bisa membantah soal statusnya, tapi ia bisa membantah penghinaan yang baru saja ia telan.

Bugh!

Tanpa berpikir, tanpa meeting plan yang biasa ia susun, tangan Evelyn sudah melayang. Bukan tamparan elegan ala sinetron, melainkan tinju keras yang dipelajari secara acak di kelas kickboxing setahun lalu. Tinju itu menghantam rahang Danu, tak terduga, secepat e-mail yang dikirim di detik terakhir.

Danu, si pria batu, terhuyung mundur. Ia memegang rahangnya, bukan karena kesakitan, tapi karena kaget tak masuk akal.

"Beraninya kau bicara seperti itu, breng--sek!" Evelyn berteriak, air mata kepedihan dan amarah membasahi pipinya yang tadi sudah ia poles dengan foundation mahal.

Danu menatap Evelyn, matanya yang dingin kini berubah menjadi kobaran api yang mengerikan. Ia tidak membalas tinju. Ia hanya menyeringai, sebuah reaksi sangat mengerikan, jauh dari senyum.

"Wah, calon istriku ternyata jago berkelahi," bisik Danu. Ia tidak terdengar marah, ia terdengar ... terhibur.

Evelyn, karena terlalu marah, menganggap seringai itu sebagai tantangan. Ia maju, bertekad menghajar Danu hingga pria itu mengakui bahwa ia telah menikahi Harimau Bengal. Dia bukan wanita yang lemah lembut.

Di tengah kamar pengantin yang seharusnya sakral, yang ada hanyalah suara kain sutra yang bergesekan, bantal yang melayang, dan dua manusia yang baru saja menikah saling melancarkan serangan brutal.

Evelyn mencoba menendang tulang kering, Danu berhasil mengelak, tapi kakinya tersandung koper Louis Vuitton imitasi. Mereka jatuh bersama, ke atas ranjang busa yang berderit nyaring, menciptakan kekacauan yang ironis di bawah sprei motif bunga mawar.

Mata mereka membola. Tak seharusnya ada adegan seperti ini di perkelahian mereka.

Evelyn, dinikahi kuli angkuh karena dia tak suci lagi dan kekasihnya tak mau menikahinya, cukup dengan iming-iming uang, Danu dijerat keluarganya hingga mereka berakhir di sini, di ranjang yang mengenaskan.

Lalu, apa yang diharapkan? Malam pengantin?

"Evelyn, kau tak tau kekuatan kuli sepertiku di atas ran-jang, ha?"

"Danu, kau ....."

Baca selengkapnya di KBM APP
Judul : Dear, Mas Kuli
Penulis : Gleoriud

🔞 W4RNING!! KHUSUS PEMBACA DEW4SA!! 🔞     “Ahhh… pelan-pelan, Sayang… sakit… angghh—s-stop!”“Sh*t… kamu enak banget! Aku...
17/12/2025

🔞 W4RNING!! KHUSUS PEMBACA DEW4SA!! 🔞


“Ahhh… pelan-pelan, Sayang… sakit… angghh—s-stop!”

“Sh*t… kamu enak banget! Aku nggak bisa berhenti… arghh!”

“Cepetan… aku nggak tahan…!”

Jeritan itu memecah kepalanya. Marsha tersentak bangun, napasnya berat, jantungnya memukul da da seperti berusaha keluar. Dengan tangan gemetar, dia meraih gelas di nakas dan meneguk air sampai habis seolah itu satu-satunya hal yang bisa membuatnya tetap hidup.

Pelukan lengan sendiri menjadi upaya terakhir untuk meredam kepanikan. Dia tidak mau kembali ke titik ketika pikirannya hampir han cur.

Tok. Tok. Tok.

“Marsha? Udah bangun, Nak? Hari ini jadwal dokter, ya?” suara Papanya lembut, hangat, namun malah menu suk perih.

“Iya, Pah. Ini mau siap-siap,” jawabnya, berusaha stabil.

“Oke. Sarapan di meja. Papah mau ajak Mama jalan-jalan dulu.”

Dari jendela, Marsha melihat Papahnya mendorong kursi roda Mama menuju taman kecil di kompleks. Pemandangan sederhana itu justru memu kul sisi dirinya yang paling sakit, Mama selalu mencoba tersenyum, sementara Marsha merasa dunia terus mero bek-ro beknya.

“Ayok, Sha… jangan lemah,” katanya pada diri sendiri, meski matanya masih basah.

Namun, bagaimana dia bisa kuat? Hampir tiga bulan lalu, hidupnya berubah dari rencana bahagia menjadi ne raka yang disusun rapi oleh dua orang yang tidak pernah dia duga. Arvino pacarnya dan kakak sepupunya sendiri, Ayumares tengah bersetu buh di apartemen yang dibeli hasil patungan Marsha dan Arvino.

Tiga tahun hubungan, rencana cincin, masa depan yang dibangun… hancur begitu saja.

Kini, bukan dia yang akan bertunangan. Tapi Ayumares, wanita yang selalu membandingkan diri, selalu iri, selalu mencari cara untuk berada di atasnya. Luka itu membuat Marsha harus menjalani terapi demi tetap waras, dan pukulan paling ke jam adalah ketika Mama semakin drop karena sedih melihat anaknya dihan curkan keluarga sendiri.

Eyang, orangtua Mamanya yang seharusnya memberi pelukan, tapi malah melem par garam ke luka.

“Kalau Arvino milih Ayumares, berarti Ayuma lebih baik dari kamu.”

“Baru pacaran aja drama. Pulang sana.”

Mereka tak pernah membela Marsha. Bahkan dulu Mamanya dulu diusir karena menikah dengan pria yang mereka anggap ‘tidak pantas’.

Marsha menarik napas panjang. “Lo harus kuat demi Mama, Sha. Lo punya kerjaan, punya café, punya hidup. Jangan kalah sama dua manusia sampah itu,” gumamnya sambil menyetir mobil.

Di rumah sakit, perutnya melilit kelaparan. “Ck. Harusnya gue sarapan tadi,” gumamnya sambil berjalan ke kafetaria.

Langkahnya terhenti mendadak. Arvino dan Ayumares. Berjalan mesra.

“Dokter bilang Rahim kamu sehat. Aku mau anak banyak,” kata Arvino bangga.

“Asal jatah bulanannya gede d**g, Kak.” Ayumares terkekeh manja.

Si al. Kenapa trau manya harus hadir lagi di tempat ini? Pa nik menguasai tubuh Marsha. Dia berbalik tanpa pikir panjang, langkahnya kacau, napasnya memendek. Dia terseret masuk ke lorong gelap yang buntu. Sementara langkah pasangan itu semakin dekat.

Tuhan. Kenapa kaki mereka menuju ke sini?

Dan kemudian, pintu di ujung lorong terbuka. Seorang pria muncul, tinggi, tegap, wajahnya sebagian tertutup bayangan lampu. Marsha bertindak sebelum logikanya sempat bekerja.

Dia meraih kerah pria itu, menarik tubuhnya mendekat, dan berjinjit. Bi birnya menempel pada bi bir lelaki asing itu, berusaha mengusir dua orang yang ada dibelakangnya dengan ade gan tidak seno noh ini.

“Eh, Kak… kayaknya mereka lagi…” suara Ayumares mengecil.

“Kita salah jalan. Ayo,” kata Arvino. “Pa caran di lorong gelap… kayak nggak punya uang.”

Mereka pergi. Marsha melepas pria itu perlahan. Tubuhnya masih bergetar seperti daun diterpa badai.

“Maaf… dan terima kasih,” bisiknya, kemudian melarikan diri tanpa menoleh.

****

“Jendral Lautan kok cupu ya, Bu? Punya pacar gak dikenalin sama kita,” ujar pria bernama Bimo, mantan Jendral yang kini menikmati hidupnya sebagai pelukis.

Sang istri yang tengah menyeduh teh itu menyahut, “Anak buahnya pasti malu punya atasan kayak dia, masa gak berani memperkenalkan pacarnya ke keluarga. Julukan Jendral Lautan malah membuatnya tampak konyol ya, Pak?”

Kalandra Galuhpati mendengus, pria berusia 38 tahun dengan pangkat Laksamana Pertama itu sudah muak dengan obrolan ini. Bahkan jabatannya sebagai Deputi Intelijen Maritim tidak membuat kedua orangtuanya berhenti menyindirnya.

“Sudah saya bilang, Pak, Bu, kalau dia itu gadis gi la. Saya tidak kenal sama sekali, tiba-tiba menci um begitu saja.”

“Kalau itu gadis asing, kenapa Abang gak nuntut?” tanya Kinar, sang adik. “Mereka tuh kayaknya lagi berteng kar deh, Bu. Soalnya si cantik itu langsung lari, terus si Abang gak kejar malah diem aja.”

“Bapak gak ngajarin kamu gitu loh, Bang.”

“Gak tahu tuh, Pak. Punya pacar disembunyiin aja udah bentuk sifat penge cut, ini pacarnya ngambek gak dikejar apalagi. Nih, Bapak sama Ibu kalau gak percaya bisa lihat hape Kinar, sebenernya Kinar foto mereka hehehehe. Pas mau kejar Abang, eh malah lihat dia ciu man.”

“Mana? Ibu mau lihat?”

Kalandra sampai berdiri dari duduknya dan menghela napas dalam. “Kamu gak ada kerjaan di rumah sakit ‘kah? Kayak dokter pengangguran aja,” ucap Kalandra pada sang adik yang malah diba las dengan tawa.

Malas dengan ketidakpercayaan mereka bertiga, terlebih lagi dipojokan, maka Kalandra meraih jaketnya yang tersampir di lengan sofa.

“Kamu mau kemana, Bang?” tanya Rindiani, sang Ibu. “Itu keponakan kamu bentar lagi datang, masa gak mau main dulu sama mereka?”

“Besok saja. Saya ada urusan dulu.”

“Abang, kalau pacarnya gak disembunyikan terus, Ibu bakalan seriusin rencana perjodohan kamu! Kamu sudah mau kepala empat! Gak boleh ditunda-tunda lagi. Kalandra, dengar tidak apa kata Ibu?!”

Tapi Kalandra tidak menanggapi, dia malah masuk ke dalam mobil dimana sang ajudan, Gabriel sudah menunggu. “Kamu dapat datanya?”

“Dapat, Pak. Namanya Marsha Kencana, 25 Tahun, seorang Owner Café. Dia berada di rumah sakit untuk check-up rutin pada dokter spesialis keji waan,” ujar Gabriel menyerahkan berkas sebelum melajukan mobil.

Kalandra terkekeh disana. “Sudah saya duga, pasti wanita gi la.”

“Anda mau menuntutnya, Pak?”

“Tidak perlu, saya punya banyak pekerjaan daripada harus berurusan dengan wanita gi la ini.”

“Baik, Pak.”

“Saya ada libur ’kan selama seminggu ini setelah Operasi Arunika selesai?” Dia bersandar sedikit ke belakang, jemarinya mengetuk pelan map hitam di pangkuan.

“Izin melapor, Pak… liburnya memang sudah dijadwalkan. Tapi baru saja ada perintah masuk dari Laksamana Madya Dirgantara.”

“Apa?”

“Beliau meminta Bapak untuk… mendampingi tim jurnalis kelautan,” ujarnya hati-hati. “Bukan sembarang jurnalis, Pak. Mereka dari program khusus Marine Public Insight, semacam proyek edukasi publik tentang kondisi laut, ekologi, dan langkah pemulihan yang sedang berjalan.”

“Edukasi publik,” gumamnya.

Gabriel tersenyum canggung. “Iya, Pak. Tapi… tim itu belakangan sering memberitakan keru sakan laut yang dianggap akibat manuver TNI. Beliau ingin Bapak membuktikan bahwa operasi kelautan tidak meru sak ekosistem, dan bahwa TNI AL tidak tinggal diam dalam pemulihan lingkungan.”

****

“Mbak serius, ini Marine Public Insight jadi tanggung jawab aku?” tanya Marsha sambil memegang map biru yang tadi disodorkan.
Yessy, atasannya sekaligus mentor yang paling dia percaya itu tersenyum lembut. “Serius, Sha. Kamu yang paling tepat,” ujarnya. “Artikel-artikel tentang pesisir, ekologi, dan kerusakan laut yang vi ral itu… sebagian besar kan kamu yang bantu kerjakan waktu aku hamil muda. Kamu yang paling kri tis, paling ta jam, dan paling ngerti bagaimana menyentuh pembaca tanpa bikin instansi pemerintah kepanasan.”

Marsha terdiam.

“Sha… aku tau kamu lagi nggak baik-baik saja. Makanya aku pengin kamu ambil proyek ini. Marine Public Insight lagi jadi sorotan nasional. Kalau sukses, namamu bakal naik. Dan yang paling penting… ini bisa bikin kamu fokus sama hal yang jauh lebih besar daripada dua manusia yang nggak layak itu.”

“…Makasih, Mbak Yess. Makasih udah percaya sama aku,” katanya pelan tapi mantap.

Tok! Tok! Tok! “Izin, Mbak. Sopir dari kantor sudah siap. Kendaraannya menunggu di depan untuk mengantar Mbak Marsha ke Markas Besar Angkatan Laut.”

Yessy langsung berdiri, mengibas tangannya seolah mengusir anak ayam. “Nah, tuh! Jalan. Jangan bikin para Laksamana nunggu.”

Marsha pun pergi, duduk diam di mobil dengan pikiran melayang. Dia tidak mau tenggelam dalam kesedihan walaupun TNI Angkatan Laut mengingatkannya pada Arvino.

Begitu mobil berhenti di depan Markas Besar Angkatan Laut, Marsha benar-benar harus menarik napas panjang. Seorang pria dengan seragam dinas rapi mendekat.

“Selamat pagi, Mbak Marsha Kencana? Saya Letda Riswan. Saya ditugaskan mengantar Ibu ke ruang briefing.”

“O-oh, iya. Pagi, Pak,”

Letda Riswan mempersilakannya berjalan masuk ke gedung utama. “Jadi… hari ini Mbak akan diperkenalkan dengan pendamping utama dari pihak TNI AL,” jelas Riswan sambil membuka satu pintu sensor. “Dalam program Marine Public Insight, beliau bertugas memastikan keamanan, akurasi, dan… kestabilan setiap kegiatan peliputan di wilayah laut.”

Marsha mengangguk.

“Beliau adalah Laksamana Pertama Kalandra Galuhpati. Deputi Intelijen Maritim.”

“Laksamana…? Kenapa orang sepenting dia yang mendampingi saya?”

“Karena beliau adalah salah satu perwira paling disegani di matra laut. Jadi akan membuat Mbak dengan cepat mendapatkan bahan untuk liputan.”

Riswan membukakan salah satu pintu. “Ini ruangannya, Mbak. Saya tinggal Mbak di sini. Beliau akan segera datang. Semoga briefingnya lancar.”

Dan tanpa memberi kesempatan untuk bertanya, Riswan pergi begitu saja. Marsha berdiri terpaku. Ruangan itu sunyi, dingin, tapi rapi. Di tengahnya ada meja panjang, layar monitor, dan kursi-kursi yang terlalu formal untuk diduduki dengan santai.
Beberapa menit berlalu. Cukup lama untuk membuatnya bosan. Sampai akhirnya, Klik. Pintu terbuka.

Refleks, Marsha berdiri tegap saat sosok itu masuk. Tinggi. Seragam biru lautnya terpasang sempurna. Medali menghiasi da danya. Wajahnya tegas, garis rahang ta jam, tatapan dingin. Kalandra berhenti sejenak di depan pintu, terkejut melihat siapa yang menunggu.

“Halo, selamat pagi, Pak. Perkenalkan nama saya—”

“Marsha?”

Marsha langsung membeku. “E-excuse me? Bapak sudah tahu siapa saya?”

Kalandra terkekeh pelan. “Bagaimana saya bisa lupa,” katanya sambil mendekat satu langkah. “Wanita gi la yang tiba-tiba menci um saya di koridor rumah sakit… lalu kabur begitu saja.”

“A-apa…?” Dia mengerjap cepat, otaknya berusaha mengulang frame kejadian di lorong gelap itu.

Bayangan bahu tegap. Aroma yang samar maskulin. Siluet tinggi dengan rahang ta jam. Mata gelap yang tidak berkedip. Dan ketika dia menyipitkan mata… Wajah itu. Pria itu. Laksamana itu.

Marsha langsung menutup mulutnya dengan tangan, terkejut setengah ma ti. Kalandra mengangkat satu alis, sudut bi birnya naik sinis. “Kamu tidak akan bisa kabur kali ini.”

Bersambung...



Judul : TAW4NAN G4IRAH SANG JENDRAL
Penulis : Red Lily
Status : Ongoing
Genre : Romance

Baca cerita menarik ini lebih lengkapnya di aplikasi Innovel dan Dreame. Tap 💜 masukkan pustaka.
Red Lily

Aku jarang dib3l@i karena suamiku gak pernah kasih jat@h. Siapa sangka sepupuku yang ga ga h itu malah bikin aku GE Ra h...
12/12/2025

Aku jarang dib3l@i karena suamiku gak pernah kasih jat@h. Siapa sangka sepupuku yang ga ga h itu malah bikin aku GE Ra h setiap malam.

_1_

"O u h … a h! Ya, ampun … apa aku ini gi la?" d3s@h seorang wanita di dalam ka mar mandi utama, yang pintunya terkunci. Tvbvhnya mene gang, punggung melengkung tanpa sadar, dan napasnya terengah. Ia bersandar di dinding porselen dingin, sambil membe kap mu lut untuk meredam suara yang keluar.
Ini sudah dilakukannya selama empat tahun. Kenapa?

​Namanya Diana, seorang istri pada umumnya yang mendamba k3pu4san dari hubungan int*m. Alih-alih men je rit nik mat karena 'olahraga' bersama suami, ia justru harus bekerja sendirian—menggunakan alat sekadar menipu sepi dan h45rat yang tak pernah dipenuhi.

​Di luar kamar mandi, suara dengkuran ke ras suaminya terdengar meng e j e k, itu menjadi pengingat me nya kitkan. Rayan enak-enakan t1dur setelah melakukan kegiatan yang sama sekali tidak pa nas. Bahkan tidak pernah memikirkan haknya sebagai istri.

​D*s4han itu lama-lama berubah menjadi isak tangis dan tu bu h nya gemetar hebat. Ia menunduk, rambut panjang cokelat gelapnya menutupi wajah.

​“Sampai kapan aku … harus begini?” gumamnya, dengan suara desahan mendadak serak.

Tub uhnya meng ge le par saat badai pe le pa san nya datang. Namun, belum sempat Diana bernapas lega, handle pintu dipaksa dibuka. Ia melo tot dan spontan menahan napas.
Pintu diketuk.

Itu pasti suaminya, sebab tidak ada pria lain di rumah ini.

“Kamu ngapain, sih, Di? Aku nggak bisa ti dur, kamu berisik!” te riak sang suami dari luar. “Buka pintunya!” perintah pria itu.

“I–iya, Mas. B–bentar,” sahutnya sambil mondar-mandir di depan cermin. “Aduh, gimana, nih?” Ia takut pria itu menemukan alatnya.

“Lama banget. Aku mau pipis, cepat!” perintah sang suami lagi.

Saking paniknya Diana menjatuhkan ‘alat’ itu dari genggaman. Ia gegas memungutnya dan membersihkan alat yang masih ba sah oleh ca-i-rannya. Ia menaruh benda itu di tempat paling tersembunyi. Setelahnya, barulah membuka pintu.

Pandangannya beradu dengan pria itu. Diana buru-buru membuang muka.

“Umm … Mas Rayan, kenapa bangun? Tadi ‘kan—”

Rayan—suaminya itu menyela cepat, “Kamu berisik. Ngapain, sih?”

Sambil memainkan rambutnya, Diana berusaha menjawab, “A–aku … akuu tadi itu ….”
Ia menahan ucapannya, karena li d ah nya terasa berat. Bagaimana kalau Rayan tahu? Apa pria itu tersinggung?

“Ah, sudahlah. Aku mau pi pis!” Rayan masuk kamar mandi. Sedangkan Diana ber b a r i ng kaku di atas ra-n-jang.

Tak lama, Rayan ikut bergabung. Namun, seperti biasa Diana hanya bisa menatap pung gung pria yang berstatus sebagai suami. Jangankan dipe luk, ditatap penuh sayang saja tidak.

​Diana menggeser tvbuhnya, merapat pada pria itu. Ia bersandar di pung gung yang seharusnya terasa nyaman.

​Pria itu mend o r o ng tubuh Diana menjauh. “Pa nas, Di. Jangan ganggu ti durku!”

​Diana melirik pada pendingin ruangan yang bahkan suhunya saja membuat ia meringkuk di bawah selimut. Ditolak untuk kesekian kali, akhirnya mereka ti dur saling memunggungi.
​Paginya Diana mengerjap karena silau dari sinar matahari. Ia menoleh, sambil berkata, “Mas Ray, bisa antar—” Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Ranjang kosong. “Kamu pergi tanpa bilang-bilang lagi?”

​Diana segera bersiap-siap pergi ke butik miliknya. Baru saja menuruni anak tangga, mata cokelat karamelnya disambut dua botol minu man hitam, di sana bertuliskan.

​[Diminum jamunya, ya, Nak. Pagi ini Ibu ada arisan dulu.]

​Diana mendesis kecil membaca pesan dari ibu mertua. B1birnya menekuk dalam tatkala meraih dua botol jamu itu. Sudah em pat tahun ia menerima 'perhatian' ini. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, ia meneguknya sampai habis. Rasa amis dan pahit me nye ngat di lidah, meskipun ia sudah lelah dengan semuanya. Ini dilakukan demi me ngan dung buah cintanya bersama suami.

​Mini Cooper putih mutiara yang dikendarai Diana melaju dengan kecepatan sedang. Begitu tiba di butik, ia disambut hangat oleh stafnya.

​“Selamat pagi, Bu Diana.”
​Seperti biasa, Diana selalu tersenyum manis.
“Pagi. Apa desain gaun malam Bu Joko sudah mendapat respons?” tanyanya, suaranya mengalun lembut.

​“Bu Joko bilang s**a sekali dengan desainnya, Bu.”
​Informasi itu cukup menyenangkan di telinga Diana.

​“Saya ke ruangan dulu, ya. Untuk dua jam ke depan tidak bisa diganggu, karena saya mau menyelesaikan desain gaun pengantin,” pesannya pada staf.

​“Baik, Bu.”

​Langkah Diana begitu hati-hati menaiki setiap an*k tangga. Ia memang sudah terlatih dan terdidik sejak kecil untuk tampil anggun. Namun, gerakannya terhenti tatkala mendengar bisik-bisik pegawai. Bukan karena membicarakannya, tetapi ia menganggap obrolan mereka terasa penting. Wanita itu sengaja menguping dalam diam.

​“Eh, Dita, gimana hasil Konsul ke terapis itu? Suami makin ku at nggak?” ucap seorang staf.

​“Iya bener. Kita lihat, rambutmu setiap hari lem bab terus. Ceritain d**g,” timpal yang lainnya.
​Wanita yang bernama Dita langsung me rem me lek dan menga cung kan ibu jarinya. “Aku dan suami sudah du a bulan ini Konsul ke terapis s3ksu@l rekomen dari Desi. Hasilnya luar biasa. Bikin k4surku ba sa h setiap malam.”

​“Wah, suamimu jadi ku at gitu? Semoga kalian cepat punya a n ak, ya,” ucap temannya lagi.

​“Terima kasih banyak. Iya suami harus kuat, dan istri wajib rileks, itu sih kata Terapis Dhava,” jelas Dita, menekan suaranya agar tidak berisik.

​Dari ujung an*k tangga terakhir, Diana merasa da danya berdesir halus kala mendengar nama dokter itu. Napasnya te re ngah dan ba dannya kegerahan.

​“Terapis Dhava? Apa yang mereka maksud itu … Mas Dhava … sepupuku?” gumamnya ragu-ragu. Ia pun menggeleng, menurutnya pria bernama Dhava itu ju ta an. Meskipun ia tahu kakak sepupunya itu seorang psikolog yang melanjutkan studi sampai strata tiga.

​Diana berusaha melupakan percakapan pegawainya. Ia gegas ke ruangan dan fokus mendesain. Namun, konsentrasinya rusak sejak telinganya mendengar nama Dhava.

​Pada akhirnya Diana mencari informasi tentang sang sepupu di sosial media dan mesin pencari. Ia sempat ternganga dan geleng-geleng karena klinik milik Dhava menjadi rekomendasi terbaik. Da danya kembang kempis kala membaca setiap ulasan dari pasien.

​Semangat membara untuk memperbaiki hubu ngan dengan suami, Diana berniat mengunjungi klinik Dhava. Para pegawainya dibuat heran karena atasan mereka tiba-tiba keluar dari butik.

​“Saya keluar sebentar,” pesannya pada staf.
​Diana segera melajukan mobilnya menuju alamat yang tertera di situs resmi klinik.

​Tidak membutuhkan waktu lama, ia akhirnya tiba di sana. Sepatu hak kecilnya begitu percaya diri membawa Diana ke dalam klinik. Pemandangan pertama yang dilihat adalah sepasang suami istri tersenyum malu-malu dan saling meng go da.

​“Papa senang Mama makin mengg*irahkan dan s e k si sekarang. Ternyata Terapis Dhava hebat, ya.” Respons pasien itu membuat Diana tak sabar bertemu dengan sepupunya.

​Mungkin ini jawaban yang dikirimkan oleh semesta, sebab sudah setahun belakangan ia menemui konselor lain belum ada hasil. Sekarang mengapa tidak dicoba?

​Diana mendekati meja informasi, tetapi ketika hendak mendaftar, baru sadar semua yang datang berpasangan. Ia menengok kanan dan kiri, hanya dirinya sendirian.

​Perlahan, ia melangkah mundur sambil memainkan ujung rambutnya yang ikal. Kepalanya pun menunduk, entah mengapa semangat yang tadi membara kini lenyap tak bersisa. Apalagi … Dhava adalah sepupunya sendiri.

​Tidak!

​Ini tidak boleh dilanjutkan, bisa-bisa masalah rumah tangganya diketahui keluarga besar, dan ini memalukan baginya.

​“Aku pulang aja,” lirihnya, sambil memutar b a dan ...

​Belum sempat memutar tubuhnya, Diana dibuat membeku mendengar suara bariton seseorang. “Kamu … Diana ‘kan?”

Judul : ADUH, SAYANG JANGAN G0DA AKU TERUS
Penulis : NACL
baca lengkapnya di GOODNOVEL

Ali m3ringis menah4n rasa s4kit saat Warga memot0ng alat vit4lnya. Sedang terjadi pr0-k0ntra di kalangan masyarakat Indo...
09/12/2025

Ali m3ringis menah4n rasa s4kit saat Warga memot0ng alat vit4lnya.

Sedang terjadi pr0-k0ntra di kalangan masyarakat Indonesia ada yang setuju dengan tind4kan s4dis pembunvh4n terhadap Ali dan ada yang menent4ng dan berkata seibli-iblisnya Ali, maka lebih iblis mereka yang teg4h memot0ng alat vit4l Ali. Sebagian warga negara mendesak kepolisian untuk menangk4p pel4ku, namun sampai sekarang belum ada pel4ku yang secara resmi diumumkan pihak Kepolisian yang telah dit4ngkap padahal pel4ku berjumlah banyak.

Yang lain berkata bahwa Ali diser3t dari siang sampai tengah malam dan tidak ada polisi berada di situ untuk menghentikan para pelaku.
Ternyata polisi tidak mengetahui kejadian itu, setelah alih tew4s dan disimpan warga di pinggir jalan dengan ditutupi rumput, barulah polisi datang dan menemuk4n Ali sudah tew4s.

Kini publik bingung, apakah kejadian itu dianggap leg4l karena itu sudah menjadi tradisi, atau akankah pihak kepolisian memenjar4kan pelaku.
Waktu akan menjawabnya beberapa hari ke depan.

Address

Jalan Paving
Blora
58254

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Livy Dovey posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category