22/03/2026
bab 200
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan tinggi. Tanah basah, licin, dan sunyi—terlalu sunyi untuk sebuah tempat yang seharusnya dipenuhi suara alam.
Jenderal Mohamed Ghoul berdiri diam.
Matanya menyapu sekeliling.
Naluri tempurnya berteriak.
“Kita tidak sendiri,” gumamnya pelan.
President Mahmoud Abbas menatap wajah Ghoul.
Ia mengerti.
Bahaya sudah dekat.
U Aung Min tiba-tiba mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.
Semua membeku.
Lalu—
KREKK…
Suara ranting patah.
Dari arah utara.
Satu.
Dua.
Lalu puluhan langkah kaki.
Ghoul langsung berbisik, “Posisi bertahan. Lindungi Yang Mulia.”
Para pengawal bergerak cepat, membentuk lingkaran.
president Abbas tetap berdiri.
Tenang.
Namun kali ini— tangannya menggenggam flash disc itu lebih erat.
SERANGAN PERTAMA
DOR!
Satu tembakan memecah keheningan.
Peluru menghantam batang pohon tepat di samping kepala seorang pengawal.
“SNIPER!” teriak Ghoul.
Rentetan tembakan langsung menyusul.
DOR! DOR! DOR!
Peluru beterbangan dari berbagai arah.
Tanah muncrat.
Kayu pecah.
“Berlindung!” teriak jenderal Ghoul.
Rombongan berpencar ke balik pohon dan batu besar.
U Aung Min menarik president Abbas ke balik batang pohon besar.
“Jangan keluar!” katanya tegas.
Wajah president Abbas tetap tenang.
Namun kali ini— ia tidak lagi hanya seorang pemimpin.
Ia adalah target.
PASUKAN PEMBURU MUNCUL
Dari balik kabut—
mereka muncul.
Berpakaian hitam.
Tanpa tanda.
Tanpa bendera.
Namun gerakannya terlatih.
Mematikan.
“Pas**an bayangan,” bisik jenderal Ghoul.
“Ini bukan tentara biasa…”
Salah satu dari mereka mengangkat tangan.
Isyarat maju.
Mereka bergerak seperti hantu— diam, cepat, mematikan.
“Target utama hidup,” terdengar suara dingin dari radio mereka. “Jika tidak memungkinkan—habisi.”
jenderal Ghoul menarik napas dalam.
“Peluru kita terbatas,” katanya pada timnya. “Kita hanya butuh waktu.”
“Untuk apa?” tanya salah satu pengawal.
Ghoul menatap langit.
“Untuk mereka datang.”
LANGIT BERGEMURUH
Beberapa detik terasa seperti jam.
Lalu—
d