Sembuh Tanpa Obat

Sembuh Tanpa Obat Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Sembuh Tanpa Obat, DKI Jakarta, Padang.

6 Tanda Tubuh Banyak Gula ;1. Sering Haus2. Sering Lapar3. Sering pipis4. Lemah dan Lesu5. Kaki Kebas, dan terasa panas2...
20/01/2024

6 Tanda Tubuh Banyak Gula ;

1. Sering Haus
2. Sering Lapar
3. Sering pipis
4. Lemah dan Lesu
5. Kaki Kebas, dan terasa panas2
6. Berat Badan Turun

17/01/2024

Dapatkan Segera Paket Promo
Alat Kesehatan Dr Laser
Terbatas Cuma 5 produk Yaa.✅✅

Sambungan....12.  Ada  berapa  tahapan dalam menjalani  program  Fastosis ?  Fastosis  terdiri  dari  3  tahap, ;1. Fase...
16/01/2024

Sambungan....

12. Ada berapa tahapan dalam menjalani program Fastosis ?

Fastosis terdiri dari 3 tahap, ;
1. Fase Induksi,
2. Fase Konsolidasi
3. Fase Maintenance.

Kita lihat satu-persatu :👇👇👇

1. Fase Induksi

Fase Induksi adalah fase dimana tubuh dipicu untuk menggunakan dan menghabiskan semua cadangan glukosa dalam bentuk "glycogen" pada massa otot dan liver ditubuh.

Tujuannya agar setelah "glycogen" ini habis, maka tubuh akan menginisiasikan pembentukan "Ketone" di liver sebagai bahan bakar pengganti glukosa di seluruh tubuh, terutama untuk sel-sel otak.

Target utama dari fase Induksi adalah memperoleh keseimbangan "gula darah puasa" dibawah 80 mg/dL, dimana dengan memiliki gula puasa serendah itu dan dengan syarat tidak mengalami gejala "Hypoglycemic" di level tersebut, telah membuktikan bahwa tubuh sudah beralih menggunakan "Lemak" (Free Fatty Acid) dan "Ketone" sebagai sumber bahan bakar dominan ditubuh.

Puasa merupakan kunci utama dalam program Fastosis, sehingga penguasaan terhadap jam puasa merupakan "Target Utama" didalam program ini.

Puasa wajib dilakukan minimal selama 16 jam pada fase induksi, dimana disarankan untuk berhenti makan sebelum jam 8 malam dan bisa makan kembali setelah jam 12 siang di keesokan harinya.

Dengan demikian otomatis hanya sarapan yang dihilangkan dari kebiasan makan sehari-hari. Kondisi puasa adalah kondisi dimana hormon insulin menjadi sangat rendah, dan sebaliknya hormon glucagon menjadi dominan ditubuh.

Kondisi puasa juga merupakan kondisi dimana pencernaan ma**sia beristirahat, sehingga usus tidak lagi mengkonsumsi banyak energi untuk digunakan dalam proses mencerna makanan padat.

Untuk mencapai hal ini, maka sudah pasti hanya sumber "Lemak" dalam bentuk cair (liquid) yang dapat dikonsumsi sebagai sumber kalori di jam puasa. selain lemak hanya minuman bebas kalori yang dapat dikonsumsi disaat periode puasa.

Protein dan karbohidrat dalam bentuk cair sekalipun tidak diperkenankan untuk dikonsumsi di jam puasa, sehingga kondisi puasa menjadi kondisi yang terjaga dari kenaikan hormon insulin akibat asupan minuman.

Lalu disaat jam makan telah datang, fase induksi hanya mengijinkan sumber "Hewani" (Fauna/Dunia Hewan) yang bisa dikonsumsi sebagai makanan dan menghindari semua sumber "Nabati" (Flora/Dunia Tumbuh-tumbuhan) didalam makanan, kecuali hanya sedikit seperti yang terdapat pada bumbu-bumbu masakan seperti contohnya bawang, merica, cabai dan sebagainya (Kecuali yang tinggi karbohidrat seperti gula, kecap, dll).

Hal ini bertujuan untuk memudahkan menjaga batasan sumber karbohidrat yang bisa masuk ketubuh sehingga akan menunda proses pembersihan "glycogen" didalam tubuh. Batas maksimal karbohidrat yang di ijinkan dalam fase induksi hanya 10g, sehingga dengan hanya memilih sumber makanan dari hewani, akan mudah menjaga batasan karbohidrat yang masuk ketubuh.

Sumber serat untuk memperlancar pencernaan dapat diperoleh dalam bentuk yang bebas karbohidrat, seperti contohnya agar-agar, cincau, rumput laut atau suplemen serat lainnya yang tidak memiliki nilai kalori sama sekali atau sangat rendah.

2. Fase Konsolidasi

Fase konsolidasi adalah fase dimana tubuh diperkenalkan kembali dengan unsur karbohidrat yang berasal dari "Nabati", dimana sumbernya pun harus memiliki nilai karbohidrat yang cukup rendah, sehingga dapat mempertahankan batasan karbohidrat yang bisa masuk ketubuh dalam fase ini, yaitu dibawah 15g per hari.

Hal ini bertujuan untuk menjaga dan memperkuat kondisi "Ketosis" yang telah diperoleh dari fase induksi sebelumnya, dan sumber karbohidrat dari Nabati yang rendah ini, tidak akan mudah mengisi kembali "Glycogen" di seluruh tubuh, terutama pada liver. Dalam fase ini, seharusnya gula darah puasa tidak mudah kembali terpicu untuk naik diatas 80 mg/dL, karena penambahan karbohidrat dari makanan tidak seharusnya mengisi kembali "glycogen" ditubuh yang menyebabkan keseimbangan gula darah naik.

Namun bila didapati kenaikan gula darah puasa di fase ini, maka di wajibkan mengulang kembali ke fase induksi untuk memperkuat kembali kondisi "ketosis" nya lebih dahulu, sebelum kembali menggunakan fase konsolidasi yang mengijinkan penambahan sumber Nabati sebagai tambahan menu dimakanan.

Untuk memudahkan pemilihan sumber Nabati yang rendah Karbohidrat, maka disarankan untuk mengkonsumsi jenis sayuran yang tinggi serat saja, seperti yang terdapat pada unsur daun-daunan, batang, dan bunga pada tumbuh-tumbuhan.

Hindari konsumsi sumber Nabati yang berasal dari akar-akaran, buah buahan, biji-bijian dan bagian lainnya dari tumbuh-tumbuhan yang memiliki kandungan tinggi karbohidrat.

Dalam fase konsolidasi ini, jam puasa wajib ditambah menjadi minimal 18 jam, karena dikondisi "ketosis" seharusnya sudah lebih mudah bagi tubuh untuk mengakses sumber lemak cadangan (body fat) dan bisa efektif menggunakannya sebagai sumber energi ditubuh, tanpa banyak memerlukan penambahan sumber energi dari asupan makanan.

Fase konsolidasi ini bertujuan untuk memantapkan kemampuan tubuh dalam menggunakan energi lemak yang tersimpan di jaringan lemak, sehingga tubuh akan beradaptasi dengan kondisi tanpa makanan lebih lama.

Fase Maintenance Fase Maintenance adalah fase pemeliharaan kondisi "Ketosis" yang optimal, dimana difase ini batasan karbohidrat yang masuk bisa lebih tinggi dibanding fase-fase sebelumnya.

Dalam fase ini seharusnya gula darah puasa telah terpantau stabil dibawah 80 mg/dL, dimana penambahan sumber Nabati yang berasal dari sayur-sayuran tinggi serat, tidak memicu kenaikan gula darah puasa. Oleh sebab itu fase ini mengijinkan adanya penambahan sumber Nabati dari unsur buah-buahan yang rendah nilai karbohidratnya, seperti contohnya buah-buah masam seperti jenis beri.

Namun konsumsi buah-buahan rendah karbohidrat ini harus tetap dibatasi agar tidak melewati batasan total karbohidrat sehari yang di ijinkan di fase ini, yaitu dibawah 20g perhari.

Pada fase ini, efektifitas penggunaan lemak cadangan didalam tubuh seharusnya sudah sangat optimal, sehingga puasa wajib dinaikkan menjadi minimal 20 jam sehari.

Dengan demikian akan sangat mudah di fase ini untuk mempertahankan kondisi "ketosis" yang optimal, dimana jam makan (feeding window) yang tersedia akan cukup pendek untuk membatasi masuknya sumber energi dari makanan, dan mengoptimalkan penggunaan sumber energi dari lemak cadangan ditubuh.

Selama fase maintenance, tubuh akan menjadi sangat efisien dalam menggunakan sumber energi yang tersedia dari lemak cadangan, dan akan membentuk "adaptasi" terhadap kondisi tanpa makanan yang sangat efektif.

Kemampuan bertahan hidup tanpa makanan akan menjadi sangat tinggi, sehingga tubuh akan memasuki kondisi selektivitas yang sangat tinggi terhadap sel-sel abnormal yang terlalu boros energi, seperti pada sel kanker, patogen, sel rusak/menua, dan sel-sel over aktif lainnya yang biasanya bersifat "inflamatif" ditubuh.

Di level ini, kadar inflamasi ditubuh akan menjadi sangat rendah dan menciptakan tingkat kesehatan yang sangat optimal. Karena dengan kemampuan tubuh untuk menciptakan kondisi "efisiensi tinggi" dari rendahnya sumber energi dari makanan, maka hanya sel-sel normal dan sehat lah yang bisa bertahan didalam tubuh dikondisi seperti ini. Bersambung.....

Source KFI Protokol Mas Tyo

Keto Masih Bisa Ngemil, Wajib Pake Tepung Keto Ya...✅✅✅
16/01/2024

Keto Masih Bisa Ngemil, Wajib Pake Tepung Keto Ya...✅✅✅

Bersambung....Immunator  Honey  merupakan  "alat"  yang  digunakan  diprogram  untuk  membentuk  "Conditioning" terhadap...
15/01/2024

Bersambung....

Immunator Honey merupakan "alat" yang digunakan diprogram untuk membentuk "Conditioning" terhadap sistem immune ma**sia untuk selalu "Melek" (sensitif), sehingga mampu memicu identifikasi terhadap segala "abnormalitas" ditubuh.

Abnormalitas ini dapat berupa kehadiran sel-sel "antigenic" seperti "pathogen" maupun "sel kanker". Abnormalitas ini juga dapat berupa kondisi "Inflamasi" berlebihan yang terjadi sebelumnya, akibat sel-sel immune yang bersifat "overreaktif" dan "inflammatif".

Kondisi "sensitif" yang dipicu Immunator Honey, akan mengembalikan keseimbangan respon immune dan mencegah terjadinya "Over-Inflammasi" dalam "Usaha" sel-sel immune membereskan masalah yang ada "sebelumnya" (Existing Problem/abnormalitas). Kondisi "sensitif" ini akan mengoptimalkan "proses perbaikan" yang akan berlangsung, namun tetap menjaga "intensitas" respon immune agar tidak menyebabkan "Over-Inflamasi" yang bersifat "Negatif" dan justru akan melukai "Host" (tubuh) nya sendiri.

Hal ini diperoleh saat semua receptor dipermukaan sel-sel immune menjadi meningkat kesensitifannya dan dapat mengatur proses "Signalling" antar sel lebih baik (Negative Feed Back Loop).

Sehingga respon immune untuk perbaikan kondisi, menjadi lebih terkontrol dan menciptakan "Thermostat" alami yg dapat mencegah terjadinya "Indikasi Over-Inflamasi" yang mungkin terjadi. Sel-sel Immune yang telah sensitif ini juga akan memperhalus transisi menuju kondisi "Ketosis", dimana kemungkinan kemunculan gejala "Hypoglycemic" akan terkontrol dan tidak menyebabkan efek "inflamasi" lanjutan ditubuh.

Hal ini diperoleh dari efek sensitifitas sistem immune yang mampu mencegah terjadinya "Over-Inflamasi" seperti yang telah dijelaskan sebelumnya diatas. Sensitifikasi sistem immune ini juga memicu "aktivitas" sistem immune ma**sia yang lebih "Aktif". Dimana kondisi "Aktif" ini akan membuat konsumsi "Energi" menjadi lebih besar ditubuh, akibat kebutuhan energi yang diciptakan oleh sel-sel immune yang menjadi aktif "Bergerilya" (Immuno-Surveillance) untuk mencari "antigen-antigen asing/abnormal" ditubuh, seperti antigen dari "pathogen" maupun "sel kanker".

Aktivasi sistem immune ini juga akan memicu proses pembersihan (Phagocytosis) terhadap "kotorankotoran" (impurities) ditubuh, seperti halnya proses "Scavenging" yang dilakukan oleh "Macrophage" pada "Plak" di arteri pembuluh darah.

Aktivitas pembersihan ini memicu peningkatan kebutuhan "energi" ditubuh. Dengan demikian, secara "overall" aktivasi sistem immune jelas akan meningkatkan kebutuhan energi (metabolisme) ditubuh, dan akan menciptakan "Kalori Defisit" yang lebih "Besar".
Kalori Defisit ini akan mempercepat proses pembersihan (konsumsi) glukosa ditubuh, dan akan "Mempercepat" proses "Transisi" ke kondisi "Ketosis" yang diharapkan. Immunator Honey merupakan "Alat" yang digunakan untuk memicu "Sensitifikasi" sistem immune, dimana hal ini dapat terjadi disaat "Tubuh" mengalami "Ancaman".

Immunator Honey menggunakan protein yg berasal dari Colostrum Sapi, yang diproses secara "Ultrafiltrasi" sehingga menghasilkan ukuran partikel yg sangat kecil (Dalton Size). Ukuran I sangat kecil untuk bisa meniru ukuran protein pada "antigen" Virus. Antigen Virus merupakan protein yg dilapisi Glukosa (Glycosylated Viral Protein - Glycoprotein), sehingga agar protein dari colostrum sapi ini bisa meniru bentuk dari antigen Virus, maka protein yang telah di "Ultrafiltrasi" ini di "Infused" (Inkubasi) dengan madu, sehingga akan membentuk proses "enzymatic" yang memicu perekatan Glukosa dari Madu pada permukaan protein tersebut. Inilah tujuan mengapa Immunotherapy yang dihasilkan oleh Immunator Honey, harus menggunakan media Madu sebagai "Pembawa" nya (Carrier).

Efek yang dihasilkan oleh "Ancaman Fiktif" dari Immunator Honey, akan membuat sistem immune menjadi "Waspada" (Alert). Disinilah proses "Sensitifikasi" sel-sel immune terjadi, dimana kondisi Alert ini akan menyebabkan sel-sel immune menjadi "Aktif" bergerilya mencari "Antigen-Antigen non-Self" (antigen asing atau malignant) dilingkungan "Microcellular" didalam tubuh (Immuno-Surveillance). Respon Immune yang dihasilkan Protein berlapis glukosa ini akan menimbulkan "Alert" di sel-sel immune Adaptif, seperti CD4 (T-Helper Cells), CD8 (T-Killer Cells), CD56 (NK-Cells) dan CD19 (B-Cells).

Dimana "Lymphocte Subset" ini adalah sel-sel immune yang bertugas "Menseleksi" dan "Mencari" sel-sel yang terinfeksi ditubuh dan juga sel-sel yang bersifat "Malignant" (sel Kanker). Bersambung.....

Source KFI Protokol Mas Tyo

Sambungan....10.  Mengapa  dalam  program  Fastosis  ini  Lemak  atau  Cholesterol  harus  menjadi  asupan  utama  diban...
15/01/2024

Sambungan....

10. Mengapa dalam program Fastosis ini Lemak atau Cholesterol harus menjadi asupan utama dibanding Karbo dan Protein?

Lemak merupakan "substrate" bahan bakar yang paling ketogenic. Dimana lemak hanya memiliki 10% komposisi glycerol yang bisa dirubah menjadi glukosa.

Ini berarti lemak memiliki sifat yang sangat rendah kemungkinannya untuk bisa memicu Insulin (Insulinogenic), maupun untuk dirubah menjadi glukosa (Glucogenic) Protein merupakan "substrate" yang menjadi "building block" utama dalam "sintesis" sel-sel baru, seperti untuk regenerasi sel dan untuk perbaikan sel.

Namun protein memiliki 56% komposisi "amino acid" yang bersifat "Glucogenic" yang artinya dapat dirubah menjadi glukosa melalui jalur "Gluconeogenesis".
Ini juga berarti bahwa 56% komposisi protein bersifat "Insulinogenic".

Karbohidrat merupakan "substrate" yang paling tinggi komposisi nya untuk dirubah menjadi glukosa ditubuh. Dimana karbohidrat memiliki 100% komposisi yang dapat digunakan dalam langsung untuk proses "Glycolysis" (metabolisme glukosa di cytoplasma).

Hal ini menyebabkan Karbohidrat memiliki sifat 100% "Glucogenic", yang otomatis juga akan bersifat 100% "Insulinogenic". Dalam program Fastosis, kunci utama nya adalah Puasa. Dimana kondisi puasa adalah kondisi yang sangat rendah hormon "Insulin", namun merupakan kondisi yang tinggi hormon "Glucagon" (antagonis insulin yg diproduksi juga di pancreas).

Saat di jam puasa, kondisi rendah insulin ini akan memicu glucagon untuk lebih aktif memicu degradasi lemak (Lipolysis) untuk energi, sedangkan kemunculan respon insulin akan membatalkan proses ini.

Lalu saat di jam makan (feeding window) pada program Fastosis, respon insulin tetap ditekan dengan memilih rasio makronutrisi yang tinggi Lemak, dan rendah protein/karbohidrat. Tujuannya agar level hormon glucagon tetap dominan ditubuh, dan tidak mengganggu proses atau adaptasi pada metabolisme "ketogenesis".

Ketogenesis yang optimal akan memberikan suplai "ketone" yang optimal didarah, sehingga menciptakan kondisi ketosis yang sempurna dan dapat "mereverse" berbagai problem yang sebelumnya terjadi akibat "Surplus Energi" dari glukosa yang memicu tinggi konsentrasi Radikal Bebas (ROS), memicu pelengketan/karamelisasi di tubuh (Glycation) dan berbagai abnormalitas/anomali lainnya akibat kondisi tinggi glukosa didarah.

11. Mengapa dalam program Fastosis ini harus juga mengkonsumsi rutin VCO dan Madu Immunator? Bukankah madu itu gula?

VCO merupakan jenis lemak yang memiliki rantai karbon yang pendek (Medium Chain Triglyceride/MCT) yang mudah di pecah oleh Liver menjadi "Glycerol" (bahan pembuat glukosa) dan "Fatty Acid" (bahan metabolisme lemak dan untuk diproses lebih lanjut menjadi "Ketone" di liver).

Supplementasi dengan VCO ini, jelas akan menolong proses transisi tubuh menuju metabolisme lemak, dimana Liver akan lebih cepat memproduksi "Ketone" untuk segera menggantikan posisi glukosa yang mulai hilang ditubuh dalam Fastosis. Hal ini penting untuk membentuk "Transisi Halus" dari metabolisme glukosa ke metabolisme lemak ditubuh, dan mencegah efek "Hypoglycemic" yang mungkin terjadi atau menimbulkan gejala yang berlebihan.

Namun seiring proses adaptasi "Ketosis" yang lebih sempurna, yang biasanya terjadi setelah periode 3 bulan program, maka VCO dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan dalam program. Karena saat sudah beradaptasi dengan Lemak dalam bentuk apapun, seperti terhadap tipe "Medium Chain Triglyceride" (MCT) maupun "Long Chain Triglyceride" (LCT).
Tipe LCT ini merupakan tipe yang paling dominan ditubuh ma**sia, dimana LCT ini merupakan tipe yang paling banyak ditemukan pada jaringan penyimpan lemak ma**sia (Adipose Tissue).
Bersambung....

Source : KFI Protokol mas tyo

Sambungan.....SELECTION  (Seleksi)  adalah  kondisi  dimana  metabolisme  lemak  (Fat  Metabolism)  yang  membutuhkan "M...
14/01/2024

Sambungan.....

SELECTION (Seleksi) adalah kondisi dimana metabolisme lemak (Fat Metabolism) yang membutuhkan "Mitochondria" (Generator Energi didalam sel Ma**sia/Mamalia) dan Defisit Kalori yang dihasilkan Puasa, akan memicu "Selektivitas" terhadap keberadaan sel-sel abnormal ditubuh.

Seleksi ini akan terjadi pada sel-sel yang bersifat terlalu "Anabolic" (Berkembang/Bertumbuh Pesat) seperti : 👇👇👇

1) Sel Kanker/Tumor
merupakan sel "Malignant" yang hanya bisa menggunakan "Glukosa" (dari sumber Karbohidrat), untuk metabolismenya.

Ini terjadi karena sel Kanker merupakan sel yang telah mengalami "disfungsi" atau "kerusakan" pada "Mitochondria" nya,

sehingga sel Kanker hanya dapat menggunakan "glukosa" untuk dipakai sebagai "Bahan Bakar" penghasil energi, melalui jalur "Fermentasi" (Lactic Acid Fermentation),

dimana jalur metabolisme dengan fermentasi ini tidak membutuhkan "Oksigen" seperti halnya jalur metabolisme sel normal yang menggunakan "Mitochondria" sebagai "Generator Energi" yang membutuhkan proses Oksidasi dengan Oksigen untuk menghasilkan energi.

Output dari proses "Fermentasi Glukosa" sel kanker ini adalah Energi dan Lactic Acid/Lactat (Asam Laktat)., asam laktat ini kemudian akan memicu "Pengentalan Darah" dan "Penurunan PH darah" ditubuh.

Asam Laktat ini juga akan "Menaikkan" glukosa darah dari efek "Recycle" terhadap asam laktat ini di liver untuk dirubah kembali menjadi Glukosa (Cori Cycle).

Output dari metabolisme sel normal yang menggunakan jalur "Mitochondria" untuk memproses "Glukosa" (Karbohidrat), "Lemak" (Fatty Acid), "Ketone", dan "Protein" (Amino Acid), akan menghasilkan Energi dan ekses metabolisme berupa CO2 (Karbon DiOksida) dan H2O (Air) 2) Sel Glycolytic (sel yang bersifat sangat aktif menggunakan glukosa dan menjadi independent atau ketergantungan dengan glukosa untuk metabolismenya)

Contoh sel-sel seperti ini adalah sel-sel yang terinfeksi dan sel-sel yang rusak/menua yang mengalami penurunan fungsionalitas ditubuh.

Sel-sel ini akan "Terseleksi" oleh kondisi "Defisit Kalori" dan "Rendahnya keberadaan glukosa" ditubuh.

Sel normal yang mengalami "Infeksi" akan mengalami penurunan fungsi "Mitochondria" dan juga akan menggunakan jalur "Fermentasi" seperti halnya yang terjadi pada "sel Kanker". Sifat "Glycolytic" ini merupakan sifat yang dimiliki "sel primitif" seperti "Pathogen" yang diduplikasi didalam sel normal yang di "infeksi" oleh pathogen tersebut.

Ini sebabnya saat infeksi berlangsung, maka produksi "asam laktat" pun akan turut meningkat ditubuh, dan biasanya diikuti dengan kenaikan level glukosa darah saat Infeksi ini berlangsung. 3) Sel-sel Immune yang Abnormal (Autoimmune) Respon Immune abnormal yang terlihat pada berbagai kasus autoimmune merupakan ekspresi dari aktivitas "glycolytic" yang tinggi pada sel-sel immune.

Dengan kondisi rendah glukosa dan kalori defisit yang diciptakan oleh Fastosis, akan menggeser differensiasi sel-sel immune abnormal ini menjadi respon immune yang anti inflamasi, dimana bahan bakar lemak (fatty acid) akan menjadi pemicu utk mengubah tipe sel-sel immune tersebut dari "autoreactive" menjadi "tolerance" (toleransi terhadap sel normal ditubuh) ,, bersambung

Source : KFI Protokol mas tyo

Sambungan...7.  Dimana  dan  kapan  Ketone  muncul  dalam  tubuh? Ketone  diproduksi  secara  eksklusif  di  Liver  dari...
14/01/2024

Sambungan...

7. Dimana dan kapan Ketone muncul dalam tubuh?
Ketone diproduksi secara eksklusif di Liver dari degradasi lemak (Fatty Acid) dan hanya diproduksi saat cadangan "Glycogen" (simpanan Glukosa) di Liver telah habis, karena digunakan untuk metabolisme saat kondisi Puasa, atau makan rendah karbohidrat (sumber glukosa)

8. Mengapa kita butuh Ketone?
Ketone dibutuhkan saat kondisi Puasa, Defisit Kalori atau makan dengan pola rendah karbohidrat. Dimana dengan hadirnya Ketone ini, maka rendahnya kadar Glukosa Darah (gula darah) tidak akan memicu reaksi "Hypoglycemic" (gejala rendah gula darah).

Saat Ketone menggantikan glukosa diotak, maka sel otak akan menggunakan Ketone untuk metabolisme energinya. Ketone memiliki "Potensial"energi yang lebih besar dibanding glukosa, dan metabolisme Ketone ini akan mengurangi ekses Radikal Bebas (Reactive Oxygen Species - ROS) dari hasil Oksidasi didalam sel (didalam Mitochondria) sehingga otomatis akan menurunkan level Inflamasi (Iritasi) yang terjadi didalam otak.

Hal ini berlaku p**a diseluruh tubuh, dimana saat semua sel-sel ditubuh menggunakan Ketone sebagai pengganti Glukosa, maka kadar Radikal Bebas (ROS) akan menurun

9. Apa maksudnya Rejection dan Selection dalam program Fastosis?
REJECTION (Penolakan) adalah kondisi dimana Sistem Immune ma**sia menjadi sensitif untuk mengenali abnormalitas ditubuh, seperti kehadiran dan keberadaan sel-sel yang abnormal.

Sel abnormal ini dapat berupa Pathogen (Virus, Bakteri, Jamur dan Parasit), Kanker/Tumor, Sel Rusak/Menua, dan sel-sel yang terinfeksi.

Rejection ini dipicu oleh "Challenge"(Tantangan) yang dihasilkan oleh Immunator Honey, saat menyentuh lapisan Mukosa (Mucosal) ditubuh, seperti jalur "Oral" (lidah, gusi, dibawah lidah/sublingual, rongga mulut, esophagus, "Intranasal" (dalam hidung), "intraotitis" (dalam telinga), "intraocular" (mata), "intrarectal" (jalur a**s), "intrava**nal" (jalur va**na) dan "subcutaneous" (luka terbuka/dibawah kulit) "Challenge" yang dihasilkan saat Immunator Honey menyentuh lapisan mukosa ini, akan memicu "Antigen Receptor" pada seluruh sel-sel immune ditubuh menjadi "Sensitif" (Melek) dan akan membuat sel-sel immune bisa mengenali kehadiran sel-sel "abnormal" lain ditubuh.

Efek identifikasi yang dihasilkan ini akan memicu "Immune Response" terhadap sel-sel abnormal tersebut, dan akan menginisiasikan proses "Rejection" untuk meng"eliminasi" sel-sel ini.

Efek "Sensitifikasi" sistem immune ini tidak hanya sebatas "Rejection" saja, namun juga memicu "Toleransi" (Immuno-Tolerance) pada kondisi seperti Autoimmune, Allergy dan Hypersensitivitas.

Selain itu kondisi "Sensitif" ini akan mencegah terjadinya "Over Inflammation" (Inflamasi Berlebih) yang mungkin dihasilkan oleh "Respon Immune" yang "abnormal" ditubuh dan malah menimbulkan efek "negatif" terhadap kesehatan.

Kondisi "Sensitif" ini juga akan memicu "Pembersihan" terhadap "Impurities" (kotoran/racun) yang ada ditubuh, seperti penumpukan "Plaque" (plak) pada arteri, materi sel-sel rusak atau tidak fungsional, antigen asing yang menempel dipermukaan sel normal (pemicu autoimmunitas), radikal bebas (ROS), protein/lemak yang teroksidasi, glycation (pelengketan glukosa/karamelisasi), dan berbagai materi lainnya yang mengganggu keseimbangan (Homeostasis) ditubuh.

Hal ini dilakukan melalu proses yang disebut "Phagocytosis", yaitu proses pembersihan ditubuh yang dilakukan oleh sel immune (Phagocytes) seperti "Macrophage". Efek "Sensitifikasi" ini juga memicu "Rejuvenation" (perbaikan/regenerasi/reverse aging), dimana sensitifikasi sel-sel immune akan memicu proses "Signalling" (komunikasi) melalui "cytokine" berlangsung dengan cepat.

Saat sel-sel immune membersihkan lokasi masalah yang terindentifikasi, maka sinyal-sinyalperbaikan dilokasi tersebut akan memicu kehadiran berbagai unsur "Regenerasi Sel" yang akan dilanjutkan dengan Regenerasi ulang terhadap sel-sel yang bermasalah sebelumnya.

Dan hal ini akan memicu "Restorasi" kembali terhadap fungsionalitas sel-sel yang sebelumnya bermasalah atau kehilangan fungsinya akibat suatu hal, seperti contohnya infeksi, oksidasi radikal bebas, glycation, dsb.

Source : KFI protokol mas tyo.

Address

DKI Jakarta
Padang

Telephone

+82311489765

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sembuh Tanpa Obat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share