08/10/2025
Syekh Abdul Wahab Rokan: Mursyid Agung dan Konsep Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah
Oleh: Serambi Rokan Hulu
Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi an-Naqsyabandi (1811-1926 M) merupakan salah satu tokoh ulama sufi paling berpengaruh di Nusantara pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Sebagai seorang ahli fikih, mursyid (pembimbing rohani) Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, dan pejuang, beliau meninggalkan warisan spiritual dan intelektual yang mendalam, khususnya melalui pusat tarekat yang didirikannya di Babussalam, Langkat, Sumatera Utara.
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif Biografi Syekh Abdul Wahab Rokan serta konsep ajaran tarekat yang disebarkannya.
Biografi Syekh Abdul Wahab Rokan Syekh Abdul Wahab Rokan, yang lahir dengan nama Abu Qosim, berasal dari keluarga bangsawan yang terpelajar dan taat beragama di Rokan, Riau.
Latar belakang keluarganya yang merupakan keturunan ulama dan bangsawan, termasuk keterkaitannya dengan pejuang legendaris Tuanku Tambusai dan Kesultanan Langkat, memberikan fondasi yang kokoh bagi perjalanan spiritual dan intelektualnya di kemudian hari.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari kampung halamannya di Riau, berlanjut ke Semenanjung Melayu, hingga akhirnya mencapai puncaknya di Mekah.
Di kota suci inilah beliau belajar selama enam tahun (1863-1869) kepada para ulama terkemuka pada masanya.
Guru utamanya dalam dunia tarekat adalah Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Abu Qubais, yang memberinya ijazah dan membaiatnya sebagai "Khalifah Besar Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah".
Sejak saat itulah namanya menjadi Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi an-Naqsyabandi
Setelah kembali ke tanah air, Syekh Abdul Wahab Rokan memulai dakwahnya dengan mendirikan pusat-pusat perkampungan tarekat. Perjalanan dakwahnya yang dinamis membawanya dari Rokan, Dumai, hingga Kualuh (Labuhan Batu), seringkali atas undangan para sultan Melayu yang menjadi murid dan pengikut setianya.
Puncak dari usahanya adalah pendirian perkampungan Babussalam (Pintu Keselamatan) pada tahun 1883 di Langkat, di atas tanah wakaf dari muridnya, Sultan Musa al-Muazzam Syah.
Babussalam, yang juga dikenal sebagai Besilam, menjadi pusat penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah yang paling penting di kawasan tersebut dan masih eksis hingga hari ini.
Lanjut #2