Wiro Sableng Rahasia Cinta Tua Gila Wasiat Malaikat Dendam Dalam Titisan

  • Home
  • Wiro Sableng Rahasia Cinta Tua Gila Wasiat Malaikat Dendam Dalam Titisan

Wiro Sableng Rahasia Cinta Tua Gila Wasiat Malaikat Dendam Dalam Titisan Wiro Sableng Rahasia Cinta Tua Gila Wasiat Malaikat Dendam Dalam Titisan

02/10/2024

Eps 7 Sang Penerus Karya Sh Mintardja



Yang penting, pusaka-pusaka itu tidak boleh berpindah ketangan orang lain.

"Manggada dan Laksana mengangguk-angguk p**a.

Namun tiba-tiba saja Laksana bertanya

"Tetapi apakah benar tidak boleh ada pihak lain yang ikut melindungi pusaka-pusaka itu, kek.

Misalnya prajurit Pajang atau setidak-tidaknya orang-orang padukuhan ini. "

Alasanku seperti yang pernah aku katakan ngger. Aku tidak berpura-pura. Kau tentu tahu, jika aku melibatkan orang-orang padukuhan untuk melawan orang-orang berilmu tinggi itu, apakah tidak sama artinya aku menabur maut di padukuhan ini?

Manggada dan Laksana masih saja mengangguk-angguk.

Mereka mengerti bahwa akibatnya memang akan menjadi sangat parah.

Sementara itu.

Kiai Gumrah juga tidak dapat menyerahkan pusaka-pusaka itu kepada prajurit Pajang.

Sudahlah. Apapun yang terjadi, kita akan mempertahankan pusaka-pusaka itu dengan kekuatan dan kemampuan kita sendiri.

Berkata Kiai Gumrah.

Lalu katanya p**a "Tetapi sebaiknya malam nanti kau tidak terlalu lama berada di banjar.

Sebaiknya setelah beberapa saat berkumpul dengan anak-anak muda jika mereka datang ke banjar, kalian harus segera p**ang.

Kalian dapat memberi alasan apa saja.

Mungkin ada pekerjaan yang harus kalian lakukan, atau salah seorang dari kalian mengatakan bahwa badan kalian sedang tidak enak atau apapun.


Elang yang berputar-putar itu membuat aku menjadi gelisah.

Apalagi orang-orang itu tentu sudah mengenal kalian p**a. "

"Baik kek"

Jawab Manggada

"kami tidak akan terlalu lama berada di banjar malam nanti. "

0ooo0dOw0ooo0Buku 3 TETAPI sebelum matahari turun disisi Barat belahan langit, Ki Gumrah yang sedang sibuk menuang minyaknya kedalam guci, terkejut mendengar suara orang memanggilnya sambil mengetuk pintu depan rumahnya.

Karena Kiai Gumrah tidak segera menjawab, maka ketukan pintu dan suara yang memanggil namanya itu menjadi semakin keras.

Tetapi suara itu terdengar akrab sekali.

Manggada dan Laksana yang sedang membantunya menuang minyak itu termangu-mangu.

Sementara Kiai Gumrah berkata "Lihat, siapa yang datang.

Tetapi berhati- hatilah.

Pergilah kalian berdua. "

Manggada dan Laksanapun telah pergi ke pintu depan rumahnya.

Pintu itu tidak diselarak.

Karena itu, maka Manggadapun telah membuka perlahan-lahan, sementara Laksana tetap berhati-hati karena hal-hal yang tidak terduga akan dapat terjadi.

Ketika pintu itu terbuka, maka kedua anak muda itu terkejut.

Yang berdiri dimuka pintu ternyata tidak hanya seorang saja.

Tetapi tiga orang.

Seorang laki-laki, seorang perempuan dan seorang gadis yang sedang tumbuh dewasa.

Ternyata bukan saja Manggada dan Laksana yang terkejut.

Tetapi ketiga orang yang berdiri dimuka pintu itupun terkejut.

Dengan kerut dikeningnya, laki-laki yang berdiri didepan pintu itu bertanya

"Bukankah ini rumah Kiai Gumrah?"

Manggada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawab "Ya paman. Rumah ini rumah Kiai Gumrah. "

"Apakah Kiai Gumrah ada?"

Bertanya orang itu.

"Ada. Kakek sedang menuang minyak. Biarlah aku memanggilnya"

Sahut Manggada. "Tetapi siapakah kalian berdua?"

Bertanya orang itu.

"Kami cucunya, paman"

Jawab Manggada.

"Cucunya? He, kalian anak siapa?"

Bertanya perempuan yang berdiri termangu-mangu.

Manggada dan Laksana memang menjadi bingung.

Mereka tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

Namun selagi keduanya berdiri termangu-mangu, maka terdengar suara Kiai Gumrah

"He, ternyata kalian yang datang.

Marilah, masuklah. "

Ketiga orang itupun kemudian melangkah masuk ke- ruang dalam.

Dengan wajah yang cerah Kiai Gumrah berkata

"Marilah. Sudah lama kalian tidak datang melihat rumah ini. "

"Kami memang sedang sibuk ayah"

Jawab laki-laki itu

"daerah kami baru saja terserang banjir. Hujan yang tidak berkeputusan telah membuat. Kali Panjer meluap. Untunglah bahwa rumah kami tidak hanyut. "

"Sokurlah"

Kiai Gumrah mengangguk-angguk "marilah, duduklah. "

Kiai Gumrahpun kemudian melangkah mendekati gadis yang sedang tumbuh dewasa itu

"Kau sudah besar sekarang nduk.

Sudah berapa tahun kau tidak ikut datang kemari.

Ketika ayah dan ibumu beberapa waktu yang lalu datang kemari, kau tidak ikut bersama mereka. "

"Ayah dan ibu tidak memperbolehkan aku ikut kek. "

Jawab gadis itu.

"Kenapa?"

Bertanya Kiai Gumrah.

Gadis itu tidak menjawab.

Tetapi ia berpaling memandangi laki-laki dan perempuan yang ternyata adalah ayah dan ibunya itu. Ayahnya tersenyum sambil menjawab

"Waktu itu kami datang hanya sekedar menengok ayah.

Kami hanya bermalam satu malam saja.

Anak itu tentu akan kelelahan jika ikut bersama kami. "

Sebenarnya tidak kek. Aku dapat berjalan dengan jarak dua tiga kali lipat jarak yang kami tempuh sampai ke-rumah kakek ini.

Sahut gadis itu. Kakeknya tertawa. Katanya

"Nah, ayah dan ibumu tidak mau kau menjadi sangat letih. Sekarang ayah dan ibumu agaknya akan bermalam lebih dari satu malam disini. "

"Anak itu p**alah yang memaksa kami untuk datang kemari, ayah"

Berkata ibunya.

"Bukan. Bukan aku kek"

Sahut gadis itu "ayah dan ibu memang ingin menengok kakek. "

Kiai Gumrah tertawa berkepanjangan. Katanya kemudian "Duduklah. Duduklah. "

Mereka bertigapun kemudian duduk diamben yang cukup besar diruang dalam, sementara Manggada dan Laksana masih berdiri termangu-mangu.

Baru sejenak kemudian ayah gadis itu bertanya

"Ayah, siapakah kedua orang anak muda ini? Mereka mengatakan bahwa mereka adalah cucu ayah.

Sepengetahuanku cucu ayah hanya seorang saja.

Winih ini. "

Kiai Gumrah tertawa. Katanya

"Keduanya memang cucuku meskipun ayah dan ibunya kedua-duanya bukan anakku. ".

"Maksud ayah?"

Bertanya anaknya.

"Mereka telah tersesat kerumah ini dalam perjalanannya ke Pajang. Ternyata keduanya kerasan tinggal disini. . Sehingga mereka telah aku anggap sebagai cucuku sendiri. "

K

iai Gumrah berhenti sejenak, lalu katanya kepada Manggada dan Laksana

"Nah, sekarang kau sempat berkenalan dengan anakku. Bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku mempunyai seorang anak tetapi sudah lama sekali pergi meninggalkan rumah ini? Sekarang ia datang bersama seluruh keluarganya karena anaknya memang hanya seorang yang dinamainya Winih. "

Anak dan menantu Kiai Gumrah itu tertawa.

Tetapi Winih menundukkan kepalanya.

Sementara Manggada dan Laksana mengangguk hormat.

Dengan nada rendah Manggada berkata

"Kami mohon maaf paman. Kami berdua belum mengenal paman sebelumnya. "

"Namanya Prawara. Panggil saja paman Prawara. "

Potong Kiai Gumrah sambil tertawa.

Jika kalian kemudian dianggap cucu ayahku dan kau juga menganggap ayahku sebagai kakekmu, maka kita sudah menjadi keluarga.

Namun Prawara itupun kemudian bertanya

"Ayah, jika demikian sebaiknya siapakah yang lebih dituakan. Winih atau kedua anak muda ini?"

"Biarlah Manggada dan Laksana dianggap lebih tua. Umurnya memang lebih tua dari Winih. "

Jawab Kiai Gumrah. Lalu katanya kepada Winih

"nDuk, panggil keduanya dengan sebutan. kakang, karena kau dianggap sebagai cucuku yang lebih muda dari mereka. "

Seleret Winih memandang Manggada dan Laksana.

Namun iapun kemudian menundukkan kepalanya p**a.

Ketika Kiai Gumrah kemudian juga duduk diamben itu, iapun berkata

"Marilah,-duduk p**alah disini. "

Manggada dan Laksana menjadi ragu-ragu. Diluar sadarnya Manggada berkata

"Kami akan ke dapur kek. "

"Duduk sajalah dahulu. Biarlah nanti saja kita membuat minuman bagi tamu-tamu kita. "

Jawab Kiai Gumrah.

"Tidak usah ngger"

Berkata Nyi Prawara "biarlah, nanti aku dan Winih membuatnya sendiri. "

Manggada dan Laksana tidak membantah lagi.

Mereka duduk diamben yang besar itu p**a bersama ketiga orang tamu yang baru datang itu.

Kiai Gumrahpun kemudian telah mempertanyakan keselamatan mereka.

Keadaan tempat tinggal mereka yang diterpa banjir.

Serta perjalanan mereka sampai kerumah itu.

Sementara itu Ki Prawarapun bertanya p**a "Bagaimana p**a keadaan ayah selama ini?"

Kami baik-baik saja disini. Kedua anak muda ini telah membantu aku dalam segala hal. Mereka p**alah yang setiap hari membersihkan banjar, menyalakan lampu dan jika di banjar itu hadir anak-anak muda sebelum ke banjar yang baru, maka keduanya ikut p**a bersama mereka. Bahkan kedua anak ini dapat mewakili aku melakukan kegiatan di padukuhan ini.

"Sokurlah"

Ki Prawara mengangguk-angguk "kami memang selalu memikirkan keadaan ayah disini.

Bahwa ayah tidak bersedia tinggal bersama kami, membuat kami kadang-kadang gelisah sebagaimana sejak dua pekan terakhir.

Akhirnya kami memaksa diri untuk datang betapapun sibuknya kami mengerjakan sawah dan ladang dimusim seperti ini.

Kiai Gumrah tertawa.

Katanya "Aku sudah menduga bahwa kalian akan datang.

Dalam kegelisahan seperti ini, kedatangan kalian dapat sedikit memberikan ketenangan kepada kami.

"Ki Prawara mengerutkan keningnya.

Diluar sadarnya, dipandanginya Manggada dan Laksana.

Namun Kiai Gumrah yang tanggap itupun berkata

"Keduanya telah mengetahui segala-galanya tentang pusaka-pusaka itu.

Setidak-tidaknya sebagian besar dari persoalan yang sedang aku hadapi. "

Ki Prawarapun menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata

"Kami datang sesuai dengan pesan ayah. "

Kiai Gumrah mengangguk-angguk.

Katanya dengan nada rendah kepada Manggada dan Laksana "Aku telah memberikan kesan kepada anakku.

Ia memang anakku.

Bukan dongeng sebagaimana pernah kalian dengar dan kepura-puraan yang pernah kalian lihat terjadi dirumah ini.

Kegelisahan yang semakin mencengkam memaksa aku untuk memanggilnya, karena aku berharap bahwa anakku dapat membantuku

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil.

Seperti juga Kiai Gumrah dan kawan-kawannva yang berdagang gula itu, maka Ki Prawara itu menilik ujud lahiriahnya tidak lebih dari seorang petani kebanyakan.

Pakaiannya, sikapnya dan caranya berbicara.

Namun Manggada dan Laksana yakin bahwa Ki Prawara adalah seorang yang tentu juga berilmu tinggi.

Namun dalam pada itu.

Nyi Prawara yang sejak semula mendengarkan pembicaraan itupun berkata

"Ayah, biarlah aku pergi kedapur untuk merebus air. "

Namun Manggadalah yang menyahut "Masih ada air terjerang diatas perapian. "

"Kebetulan"

Jawab Nyi Prawara yang kemudian menggamit Winih

"marilah. Bantu aku membuat minuman. ""Kau dapat mencari mangkuk di paga bambu"

Berkata Kiai Gumrah "Biarlah aku mengambilnya"

Berkata . Laksana.

"Tidak"

Dengan cepat Nyi Prawara menyahut

"duduk sajalah ngger. Biarlah aku dan Winih yang berada di-dapur. Bukankah kami berada dirumah ayah sehingga tidak bedanya dirumah sendiri. "

Laksana tidak menjawab.

Iapun merasa bahwa Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih adalah keluarga terdekat Kiai Gumrah.

Sedangkan ia dan Manggada adalah orang yang tersesat saja sampai kerumah itu.

Sehingga karena itu, maka Nyi Prawara dan winih dapat berbuat lebih banyak dirumah itu.

Karena itu, ketika Nyi Prawara dan Winih pergi ke dapur, Laksana tidak beranjak dari tempatnya.

Dalam pada itu Kiai Gumrahpun berkata kepada Manggada dan Laksana "Baiklah aku berterus terang.

Anakku memang memiliki sedikit kemampuan sehingga ia akan dapat membantuku melindungi pusaka-pusaka itu disamping beberapa orang kawan-kawanku, para pedagang gula itu.

Seperti pernah aku katakan, bahwa orang-orang yang menghendaki pusaka-pusaka itu mulai bersungguh- sungguh, sehingga kamipun harus mulai bersungguh- sungguh p**a.

Karena itu, maka kami harus menghimpun segala orang yang akan dapat ikut serta membantuku.

Tentu bukan anak-anak muda padukuhan ini, karena hal itu akan dapat berarti menghancurkan mereka p**a.

Juga bukan para prajurit Pajang, karena mereka akan dapat membuat kebijaksanaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita meskipun mereka juga berniat melindungi pusaka- pusaka itu.

"Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.

Kiai Gumrah memang pernah mengatakan hal itu.

Tetapi agaknya ia sengaja mengulanginya dihadapan Ki Prawara.

Dalam pada itu, di dapur, Nyi Prawara dan Winih menjadi sibuk membuat minuman.

Meskipun mereka tidak terbiasa dengan peralatan dapur Kiai Gumrah, namun merekapun akhirnya dapat menyiapkan wedang jahe hangat dengan gula kelapa yang banyak terdapat didapur itu.

Namun dalam pada itu, selagi Nyi Prawara sibuk menyiapkan minuman, iapun terkejut ketika tiba-tiba seseorang telah berdiri dipintu dapur.

Orang itupun terkejut p**a melihat dua orang perempuan didapur itu.

Namun Nyi Prawara masih juga sempat bertanya

"Apakah keperluan Ki Sanak? Siapakah yang Ki Sanak cari?"

Tetapi Winih justru bertanya "Apakah Ki Sanak juga cucu kakek Gumrah?"

"Tidak"

Jawab orang itu "tetapi aku memang mencari Kiai Gumrah. "

Keduanya memang merasa heran, bahwa orang itu tidak mengetuk pintu depan, tetapi langsung ke pintu dapur.

Namun Nyi Prawara itupun kemudian berkata

"Winih, panggil kakekmu. "

Winihpun kemudian bergegas masuk keruang dalam sambil berkata "Kek, ada tamu. "

"Tamu?"

Bertanya Kiai Gumrah.

"Ya. Orang itu langsung masuk ke dapur"

Jawab Winih.

Kiai Gumrah mengerutkan dahinya.

Namun iapun kemudian segera bangkit dan melangkah menuju ke dapur. Ternyata Kiai Gumrahpun- terkejut.

Hampir diluar sadarnya ia berdesis

"Kundala. "

"Ya, Kiai"

Jawab orang itu lirih, seakan-akan hanya untuk didengarnya sendiri saja. -"Marilah, masuklah"

Kiai Gumrah mempersilahkan.

"Tidak Kiai"

Jawab Kundala "aku sedang dalam perjalanan menemui seseorang. "

"Siapa?"

Bertanya Kiai Gumrah.

Kunuala memang ragu-ragu.

Keningnya telah menitikkan keringat.

Bahkan baju dibagian punggungnyapun telah menjadi basah kuyup seakan-akan ia baru saja kehujanan di bulak panjang.

Ia memang tidak dapat dengan serta merta menyebutkan sebuah nama.

Kiai Gumrah-agaknya tanggap akan kesulitan perasaan Kundala.

Karena itu, maka ia tidak mendesaknya.

Ia justru bertanya

"Barangkali kau mempunyai keperluan dengan aku atau dengan kedua cucuku? Marilah duduklah. "

"Tidak Kiai"

Jawab Kundala

"tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin singgah untuk melihat keselamatan Kiai dan cucu-cucu Kiai. Agaknya semuanya selamat disini. Bahkan mungkin dirumah ini sedang ada tamu. "

"Ya. Memang ada tamu dirumah ini. Tetapi mereka adalah keluargaku sendiri. "

"Tidak ada yang ingin aku sampaikan kecuali sekedar menengok keselamatan Kiai itulah. "

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam.

Dengan nada lembut ia berkata "Kundala.

Aku tahu bahwa kau berada dalam kebingungan yang sangat.

Terserah kepadamu, apakah kau akan mengatakannya atau tidak.

Tetapi tentuada yang mendorongmu untuk singgah dirumahku ini.

Aku yakin bahwa itu adalah nuranimu yang untuk waktu yang panjang tentu telah kau timbuni dengan ketamakan, kedengkian dan kepura-puraan.

Tetapi kenapa kau justru berusaha menutup telinga hatimu dan membiarkan kepura- puraan itu menguasai dan kemudian menimbuni nuranimu sehingga tenggelam jauh kedasar jiwamu?

Kundala termangu-mangu sejenak.

Tetapi ia mengakui bahwa dorongan nuraninyalah yang telah membawanya singgah kerumah Kiai Gumrah.

Bahkan nuraninya itu p**a telah mendorongnya untuk mengatakan kenapa ia telah singgah.

Kiai Gumrah membiarkan Kundala itu termangu-mangu dimuka pintu.

Keringatnya semakin banyak mengalir membasahi pakaiannya, sementara hatinya telah diguncang-guncang oleh keragu-raguan.

Namun akhirnya ia berkata "Kiai.

Aku baru saja menemui utusan Panembahan. "

"Utusannya?"

Bertanya Kiai Gumrah.

"Ya Kiai. Utusan Panembahan itu akan berbicara dengan Kiai Windu Kusuma tentang pusaka-pusaka itu. "

Jawab Kundala.

"Kenapa utusan itu tidak langsung menemui Kiai Windu Kusuma?"

Bertanya Kiai Gumrah.

Nampaknya memang masih ada jarak antara Panembahan dan Kiai Windu Kusuma meskipun Kiai Windu Kusuma telan berada dibawah pengaruh Panembahan.

Jawab Kundala.

"Lalu apa tugasmu menemui utusan Panembahan?""

Kami akan membicarakan pertemuan antara Panembahan dan Kiai Windu Kusuma. Pertemuan langsung itu harus dilakukan tanpa gangguan apapun juga. Termasuk keselamatan Panembahan itu sendiri. Karena itu. maka penyelenggaraan pertemuan itu harus dilakukan dengan sangat berhati-hati

Jawab Kundpla. Kiai Gumrah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya

"Apakah Panembahan dan Kiai Windu Kusuma belum pernah melakukan pertemuan itu?"

Sudah. Sudah beberapa kali. Tetapi ditempat yang jauh dan terpencil. Pertemuan kali ini akan dilakukan ditempat Kiai Windu Kusuma.

Jawab Kundala p**a.

"Dimana tempat itu?"

Kundala tidak menjawab.

Ia justru termangu-mangu kebingungan.

Sekali-sekali dipandanginya Nyi Prawara yang duduk diamben yang lain di dapur itu.

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam.

Kepada Nyi Prawara ia berkata "Ngger.

Aku minta tamuku ini juga disuguh minuman yang hangat.

Nanti, hidangkan saja minuman yang lain keruang dalam.

Suamimu tentu sudah haus. "

Nyi Prawara seakan-akan tersadar dari sebuah renungan yang dalam. Tergagap ia berkata

"Ya, ya. Ayah. "

Nyi Prawarapun kemudian telah menyuguhkan minuman hangat kepada Kundala yang tegang.

Kemudian iapun telah membawa minuman ke ruang dalam.

"Ia menantuku"

Berkata Kiai Gumrah. Kundala mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata

"Aku tidak mempunyai banyak waktu. ".

"Minumlah. "

Kiai Gumrah.

mempersilahkan. Kundalapiun kemudian meneguk mangkuknya menghirup minuman hangat dengan gula kelapa.

Sementara itu Kiai Gumrah berkata

"Jadi bagaimana dengan burung- burung elang itu? Apakah burung-burung elang itu dilepaskan oleh Panembahan atau oleh Kiai Windu Kusuma?"

Seorang pembantu Panembahan yang menjadi serati burung-burung elang itu berada bersama Kiai Windu Kusuma

Jawab Kunuaia meskipun agak ragu.

"Tetapi kaulah yang mendapat tugas untuk menjadi penghubung sebelum pertemuan itu diselenggarakan"

Desis Kiai Gumrah. Kundala mengangguk kecil.

"Aku mengucapkan terima kasih atas keteranganmu"

Berkata Kiai Gumrah "tetapi apakah masih ada hal lain yang dapat aku ketahui?"

Kundala menjadi semakin tegang.

Beberapa kali ia mengusap keningnya yang basah oleh keringat.

Pertentangan didalam dirinya semakin bergejolak.

Sekali- sekali terdengar ia berdesah.

Kiai Gumrah membiarkan Kundala dalam kegelisahannya.

Bahkan iapun kemudian mempersilahkan lagi "Minumlah, selagi masih hangat. "

Kundala mengangkat mangkuknya. Iapun menghirup lagi seteguk. Baru kemudian ia berkata

"Panembahan nampaknya mengenali pusaka-pusaka yang tersimpan itu dengan baik, Kiai. "

"Darimana ia tahu?"

Bertanya Kiai Gumrah. Seakan-akan diluar sadar Kundalapun menceriterakan apa yang pernah didengarnya pembicaraan antara Kiai Windu kusuma dengan Putut Sempada tentang pusaka- pusaka yang tersimpan dirumah Kiai Gumrah itu.

Kiai Gumrahpun menarik nafas dalam-dalam.

Dengan kerut dikening Kiai Gumrah berkata hampir kepada diri sendiri

"Darimana ia mengetahui bahwa diantara pusaka-pusaka itu terdapat Kiai Simarengu dan Kiai Simariwut. "

"Entahlah"

Kundala menyahut lirih.

Namun tiba-tiba Kundala itupun berkata "Sudahlah Kiai.

Aku sudah terlalu lama disini.

Aku harus segera kembali agar aku tidak dicurigai oleh Kiai Wmdukusuma.

Apalagi sekarang dalam beberapa hal aku sudah mulai tersisih.

Bukan karena aku dianggap tidak setia, tetapi aku dianggap tidak cukup memiliki kemampuan untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan besar.

Namun mudah-mudahan pada suatu saat, aku masih diperlukan oleh Kiai Windukusuma. "

Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya

"Terima kasih. Keteranganmu sangat penting artinya bagi kami. Hati-hatilah. Mungkin burung elang itu memantau perjalananmu. "

"Memang mungkin, tetapi aku tidak melihat burung itu dilangit. "

"Minumlah dahulu. Aku akan melihat, apakah burung itu terbang atau tidak. "

Berkata Kiai Gumrah yangkemudian keluar dari dapur dan menengadahkan wajahnya.

Namun iapun kemudian masuk lagi kedapur sambil berkata

"Burung itu tidak ada. . "

"Baiklah Kiai"

Berkata Kundala "aku mohon diri. "

Berhati-hatilah. Kau berada dikandang serigala. Setiap saat serigala-serigala itu. akan dapat menggigitmu.

Pesan Kiai Gumrah.

Kundala tidak menunggu lebih lama lagi.

Iapun segera minta diri dan meninggalkan Kiai Gumrah yang termangu- mangu.

Ketika kemudian Kiai Gumrah berada diruang dalam bersama anak, menantu dan cucunya, maka ternyata Kiai Gumrah tidak merahasiakan kehadiran dan pesan-pesan Kundala.

Dengan demikian maka Manggada dan Laksana mengambil kesimp**an bahwa Kiai Gumrah mengharap kedatangan anaknya benar-benar untuk membantunya melindungi pusaka-pusaka itu.

Karena itu, maka kedua anak muda itu berkesimp**an bahwa Ki Prawara itu tentu juga seorang yang berilmu tinggi.

Jika tidak demikian, maka kehadirannya tentu tidak akan berarti apa-apa.

Justru malah membahayakan jiwa Ki Prawara itu sendiri.

Apalagi isteri dan anak gadisnya.

Ternyata pesan Kundala itu telah ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Kiai Gumrah dan Ki Prawara.

Mereka memperhitungkan bahwa Panembahan itu akan turun sendiri untuk mengambil pusaka-pusaka itu.

Lebih dari itu Panembahan itu berniat untuk mengorbankan seseorang. Ia memerlukan jantung seseorang yang masih segar. Bahkan mungkin jantung seseorang yang disyaratkan oleh Panembahan itu.

Berkata Kiai Gumrah. "Nampaknya Panembahan itu masih hidup pada.

jaman yang gelap, pada jaman manusia masih terpisah dari Yang Maha Agung.

Nampaknya Panembahan itu-masih belum menyadari panggilan Sumber Hidupnya, sehingga ia telah mengabdi kepada kegelapan.

"desis Ki Prawara "

dengan demikian maka ia merupakan manusia yang sangat berbahaya pada jaman seperti ini.

Ia sampai hati mengorbankan sesamanya dengan cara yang tidak pantas dan tidak berperikemanusiaan sama sekali untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Satu kekuatan yang berasal dari dunia kegelapan. "

"Itulah yang kita hadapi sekarang Prawara?"

Desis Kiai Gumrah "ternyata kita berhadapan dengan kekuatan iblis dalam arti yang sebenarnya. "

Manggadapun kemudian sempat menceriterakan dengan singkat, bagaimana seorang Panembahan yang juga memiliki burung-burung elang itu membenamkan Kerisnya didada gadis-gadis yang masih suci disetiap bulan purnama karena Panembahan itu memuja keris yang dianggapnya sangat bertuah itu.

Keris yang jika digenapi mereguk darah gadis-gadis dalam jumlah tertentu akan menjadi keris yang dapat mendukung derajatnya karena tuahnya yang tidak ada bandingnya.

Bahkan keris itu akan menjadi pusaka yang paling sakti dimuka bumi. "

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam, sementara tengkuk Nyi Prawara terasa meremang.

Sekarang kejahatan seperli itu akan diulangi. Aku yakin bahwa Panembahan yang kau katakan itu adalah Panembahan yang ingin memiliki pusaka-pusaka itu p**a. Beberapa pertandanya sama terutama bahwa ia memuja kuasa kegelapan.

Berkata Kiai Gumrah. Ki Prawara mengangguk-angguk. Katanya kemudian

"Jika demikian kita memang harus menjadi sangat berhati-hati. "

Kiai Gumrah mengangguk p**a. Katanya

"Malam nanti, seorang diantara kita akan berada dirumah ini p**a. "

"Siapa ayah?"

Bertanya Ki Prawara.

"Kiai Linggar. Ia akan tidur dirumah ini untuk menjaga kemungkinan buruk yang dapat terjadi. "

Jawab Kiai Gumrah.

"Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang lain?"

Bertanya Prawara

"Hampir semua saudara-saudara kita sudah mengetahui apa yang dapat terjadi disini. Mereka sudah berada diputaran kejadian sehingga tidak terlalu sulit lagi untuk menghubungi mereka seorang demi seorang, sebagaimana kau sendiri"

Prawara mengangguk-angguk.

Panembahan yang disebut-sebut itu telah bersungguh-sungguh p**a, sehingga merekapun harus bersungguh-sungguh sebagaimana Panembahan itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Nyi Prawarapun telah berada didapur p**a.

Ketika Kiai Gumrah akan menyiapkan makan bagi mereka, Nyi Prawara itu berkata

"Bukankah kami, perempuan, lebih pantas untuk berada didapur?"

Biasanya aku, Manggada dan Laksanalah yang masak untuk kami sendiri. Aku ajari mereka membumbui bermacam-macam masakan, sehingga sekarang mereka telah dapat melakukannya.

Berkata Kiai Gumrah.

"Tetapi hari-hari biasa dirumah ini tidak ada seorang perempuan. Sekarang ada dua orang perempuan disini. "

Sahut Nyi Prawara. Kiai Gumrah tertawa. Katanya

"Baiklah. Jika kau akan memetik sayuran, ambillah di halaman belakang. Daun kacang panjang, so, melinjo dan kroto, atau terung ungu. Jika kau senang sayur rebung, sekaranglah musimnya. "

"Baik ayah. Kami akan mengambil bahan-bahan itu sendiri di halaman belakang. "

Jawab Nyi Prawara.

Dengan kehadiran anak, menantu dan cucunya, maka rumah Kiai Gumrah menjadi semakin terasa hidup.

Rumah dan halaman yang telah dibersihkan oleh Manggada dan Laksana akan menjadi semakin nampak cerah karena ada tangan-tangan perempuan yang memeliharanya, meskipun hanya untuk sementara.

Dalam pada itu, ketika malam kemudian turun, maka rumah itu menjadi semakin ramai.

Ternyata. yang datang kerumah Kiai Gumrah bukan hanya seorang kawannya yang untuk sementara akan berada.

dirumah itu, tetapi, yang datang ternyata ampat orang termasuk juragan gula kelapa itu.

Diantara mereka terdapat orang-yang telah mengirimkan pesan untuk Ki Prawara.

Ki Prawara telah ikut menyambut tamu-tamu Kiai Gumrah itu.

Terdengar suara tertawa yang gembira.

Orang- orang tua itu mulai berkelakar dengan ramainya.

"Pesanku kapan sampai kepadamu Prawara?,"

Bertanya salah seorang diantara tamu-tamu Kiai Gumrah.

"Dua. hari yang lalu Kiai. "

Jawab Prawara.

"Ternyata pesan itu memerlukan waktu tiga hari untuk sampai ketelingamu. ""

Tetapi aku sekarang sudah ada disini"

Jawab Prawara. Sementara itu Kiai Linggarpun berkata

"Jika demikian, maka aku tidak perlu lagi berada ditempat ini. Rumah ini akan menjadi penuh sesak. Selain Prawara, isteri dan anak gadisnya, disini sudah ada dua orang cucu Kiai Gumrah yang lain. "

"Ya"

Juragan gula itulah yang menjawab

"disini kau hanya akan memenuhi ruangan dan menghabiskan makanan yang disediakan oleh Nyi Prawara. "

Orang-orang -tua itu tertawa.

Ki Prawarapun tertawa p**a.

Demikianlah malam itu rumah Kiai Gumrah menjadi ramai.

Meskipun mereka tidak bermain dadu, tetapi kehadiran Ki Prawara telah menyerap perhatian tamu-tamu Kiai Gumrah.

Ki Prawara ternyata seorang yang pandai menyusun ceritera sehingga hal-hal yang biasa terjadi menjadi sangat menarik.

Ia sempat menceriterakan pengalaman hidupnya yang terpisah dari ayahnya untuk waktu yang lama.

Sementara itu, Nyi Prawara dan Winih masih saja sibuk didapur.

Manggada dan Laksana ikut membantunya dan kemudian menghidangkan suguhan keruang dalam.

Minuman, makanan dan makan malam.

Meskipun hanya sayur-sayuran saja, tetapi karena Nyi Prawara pandai memasak, hidangan itu terasa nikmat di mulut tamu-tamu Kiai Gumrah.

Namun menjelang, tengah malam, suara tertawa dan kelakar menjadi semakin susut.

Pembicaraan orang-orang tua itu menjadi semakin bersungguh-sungguh.

Manggada dan Laksana yang sudah selesai menghidangkan suguhan bagi mereka yang berada di ruang dalam, duduk dibersandar dinding didapur.

Justru karena mereka sudahtidak sibuk lagi, maka mereka mulai merasa kantuk.

Karena itu, maka Nyi Prawarapun berkata "Duduklah didalam ngger.

Kalian sudah berhak mendengarkan pembicaraan orang-orang tua itu, karena kalian memang sudah memanjat usia dewasa.

Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian Manggada itupun menyahut

"Biarlah kami duduk disini saja Nyi. Mungkin masih ada yang harus kami kerjakan. Jika minuman para tamu itu habis, maka kami akan menuang lagi. "

"Bukankah itu dapat dilakukan oleh Winih?"

Sahut Nyi Prawara sambil memandang anak gadisnya. Namun Manggada berkata

"Adi winih tentu letih. Bukankah ia baru datang hari ini. "

Tetapi Nyi Prawara tertawa, katanya

"Ia terbiasa berjalan jauh. Dirumah sehari-hari ia bekerja disawah, sehingga tubuhnya telah terbiasa. "

Manggada dan Laksana hanya mengangguk-angguk saja, sementara Winih sendiri memang tidak nampak letih.

Juga tidak nampak mengantuk.

Ia masih tetap nampak segar.

Dalam pada itu, diam-diam Manggada dan Laksana memandangi gadis itu.

Gadis itu nampak tegar.

Tubuhnya seakan-akan selalu bergerak, apapun yang dilakukan.

Seakan-akan gadis itu tidak dapat duduk diam barang sekejappun.

Jika ia duduk, maka kakinya atau tangannya yang bergerak-gerak, Meskipun ujudnya Winili telah dewasa, namun wajahnya masih nampak kekanak-kanakan.

Tetapi jika sekali-sekali Manggada dan Laksana, sempat memandang matanya, maka di mata itu seakan-akan tersimpan api gejolak jiwanya. Tetapi Winih masih belum menjadi akrab dengan Manggada dan Laksana.

Diantara mereka masih ada jarak, justru karena Manggada dan Laksana adalah anak-anak muda, sedangkan Winih seorang gadis yang sama-sama meningkat dewasa.

Namun dalam pada itu terdengar Kiai Gumrah memanggil Manggada dan Laksana.

Ternyata Kiai Gumrah justru ingin Manggada dan Laksana mendengarkan pembicaraan mereka yang mulai bersungguh-sungguh.

Sayang. Kita semuanya sudah menjadi tua. Satu- satunya orang yang masih terhitung muda adalah kau, Prawara.

Berkata Kiai Linggar.

"Itulah kelemahan kita"

Berkata juragan gula itu

kita mabuk akan kebanggaan atas diri kita sendiri, sehingga kita lupa, bahwa pada suatu saat kita akan menjadi tua, dan kehilangan landasan kekuatan kewadagan kita.

Jika sebentar lagi kita sudah harus merenungi kerapuhan wadag kita, maka orang-orang yang lebih muda masih belum siap untuk menggantikan tugas kita.

"Kiai sekalian masih belum terlambat"

Berkata Prawara

"masih ada kesempatan untuk menempa mereka yang lebih muda dari kita, atau katakan lebih muda dari aku. "

Kiai Gumrah mengangguk-angguk.

Hampir diluar sadarnya mereka memandang Manggada dan Laksana yang sudah duduk diamben itu p**a, meskipun agak dibelakang.

Tetapi Manggada dan Laksana agaknya menundukkan wajah mereka.

Orang-orang tua yang ada diruang dalam itu tanggap akan maksud Kiai Gumrah.

Tetapi mereka masih harus berpikir.

"apakah keduanya bersedia untuk benar-benar, bergabung dengan orang-orang tua itu dalam arti yang,sebenarnya. Karena mereka tahu, bahwa anak-anakmuda itu sedang dalam perjalanan p**ang kerumah mereka tidak jauh dari Kotaraja. Namun Prawaralah yang kemudian berkata "

T

etapi yang penting bagi kita adalah persoalan dalam waktu dekat ini. Jika menurut ayah, seorang pengikut Kiai Windu Kusuma yang bernama Kundala telah mengabarkan hal-hal tersebut, berarti bahwa kita harus menanggapinya dengan mengerahkan segenap, kemampuan yang ada pada kita. Untuk waktu yang pendek dan mendesak ini, kita belum sempat memikirkan, siapakah yang akan menjadi penerus kita kemudian. Karena dihadapan kita sekarang ternyata menganga mulut sekelompok buaya yang buas.

Orang-orang tua itu mengangguk-angguk. Juragan gula itupun berkata

"Untunglah, bahwa ada seseorang yang bernama Kundala. Dengan demikian kita berharap untuk selanjutnya, ia akan dapat membantu kita. "

Demikianlah, orang-orang tua itu berbicara berkepanjangan.

Namun akhirnya merekapun menjadi letih.

Kiai Linggarlah yang kemudian berkata "Sudahlah.

Kami datang untuk mengucapkan selamat datang kepada Prawara.

Selain itu, akupun tidak perlu lagi berada dirumah ini untuk sementara.

Karena itu, aku mohon diri. "

Ternyata orang-orang tua yang lainpun telah minta diri p**a. Juragan gula itupun berkata

"Sudah terlalu malam. Aku kira sudah tidak ada suguhan lagi yang akan dihidangkan. Karena itu, kami akan p**ang saja. "

Ki Prawara tertawa. Tetapi Kiai Gumrah berkata

"Kalian harus membayar sebanyak yang kalian makan hari ini. "

Orang-orang tua itu tertawa.

Namun mereka berjalan terus meninggalkan rumah Kiai Gumrah. Demikian mereka keluar dari regol halaman, mereka bertemu dengan beberapa orang anak muda yang sedang meronda.

Namun anak-anak muda itu sudah mengenal orang-orang tua itu, sehingga mereka tidak terlalu banyak bertanya-tanya.

Tetapi justru kepada Manggada dan Laksana anak-anak muda itu bertanya, kenapa ia tidak pergi ke banjar.

"Kami hanya sekedar menyalakan lampu. Kami harus segera p**ang karena dirumah banyak tamu. "

Jawab Manggada.

"Tetapi bukankah mereka tamu kakekmu?"

Bertanya salah seorang di antara mereka.

Ya. Tetapi bukankah harus ada yang merebus air dan menyediakan hidangan meskipun hanya sekedar merebus ketela pohon atau ubi rambat?

Anak-anak muda itu tersenyum. Seorang diantara mereka berkata

"He, jika tersisa bawa ke banjar. Kami akan beristirahat di banjar sebentar. "

Laksanalah yang menjawab "Sayang. Yang masih tersisa tinggal gua kelapa. "

"Tentu, kakekmu setiap hari membuat gula"

Sahut salan seorang dari anak-anak muda itu.

Manggada dan Laksana hanya tertawa saja.

Namun mereka kemudian justru masuk kembali keregol halamandan menutupnya ketika orang-orang tua yang meninggalkan rumah itu sudah menjadi semakin jauh.

Malam itu Manggada dan Laksana harus tidur diamben dapur.

Namun bagi mereka berdua sama sekali tidak ada persoalan.

Amben yang besar diruang tengah dipergunakan untuk Ki Prawara, Nyi Prawara dan Winih.

Namun kehadiran Ki Prawara memang membuat Manggada dan Laksana menjadi semakin tenang, karena mereka tahu bahwa Ki Prawara itu tentu memiliki ilmu yang dapat diandalkan sebagaimana dikatakan oleh Kiai Gumrah dan kawan-kawannya.

Ketika kemudian fajar menyingsing, sebagaimana biasa Manggada dan Laksana sudah bangun.

Mereka segera pergi ke banjar dan membersihkan halaman banjar, mengisi jambangannya dan memadamkan lampu-lampunya.

Baru kemudian mereka p**ang untuk membersihkan halaman rumah Kiai Gumrah.

Tetapi ketika mereka memasuki halaman, ternyata bahwa halaman rumah itu sudah menjadi bersih.

Mereka masih melihat Winih menyelesaikan pekerjaannya dengan memasukkan sampah kelubang sampah disudut halaman.

"Kami terlambat"

Berkata Manggada.

"Seberapa luas halaman banjar itu, sehingga kalian berdua baru selesai?"

Bertanya Winih yang sudah mulai mengatasi keseganan masing-masing.

"Bukan hanya membersihkan halaman"

Jawab Laksana "kami harus membersihkan ruangan-ruangan banjar dan mengisi jambangan di pakiwan. "

"O"

Winih mengangguk-angguk

"sebelum kalian datang, apakah semuanya itu dilakukan oleh kakek sendiri?""Agaknya memang demikian.

Tetapi justru karena itu, maka rumah kakek inilah yang tidak mendapat waktu untuk dibersihkan.

Waktu kami datang, nampaknya rumah dan halaman ini jarang disapu sedangkan perabot dida- lampun agaknya tidak sempat disentuh tangan.

Kakek memang terlalu sibuk.

Sedangkan pohon-pohon kelapa itu memerlukan perhatiannya"

Jawab Manggada.

"Kasihan kakek"

Desis Winih "jika aku tahu, aku tentu sudah datang jauh sebelum ayah dan ibu mengajak aku kemari. "

Manggada dan Laksana yang kemudian melintas sempat berhenti sejenak.

Namun; kemudian mereka mulai melangkah lagi melintas halaman samping.

Sambil berjalan Manggadapun berdesis

"Kami akan mengisi jambangan. "

"Ayah sudah mengisinya"

Sahut Winih

"Kalau begitu, apa lagi yang harus kami kerjakan? Menyiapkan minuman? "Laksana justru bertanya.

"Ibu sedang sibuk didapur"

Jawab Winih.

"Dan kakek?"

Bertanya Manggada.

"Kakek sudah berada dikebun dengan bumbung- bumbungnya. "

Manggada dan Laksana saling berpandangan.

Agaknya tugas mereka menjadi ringan oleh kehadiran Ki Prawara dengan keluarganya dirumah itu.

Namun dalam pada itu Winih itupun tiba-tiba berkata.

"Bukankah kita tidak mempunyai pekerjaan apa-apa lagi? Bagaimana jika kita pergi ke pasar?"

"Kepasar?"

Ulang Manggada.

Ya. Aku akan minta kepada ibu agar aku saja yang berbelanja dipasar. Tetapi bukankah kahan juga tidak adakerja dirumah pagi ini? Nah, kita sajalah yang pergi ke pasar.

Manggada dan Laksana memang menjadi ragu-ragu.

Mereka memang senang untuk berbelanja bersama Winih yang ceria itu.

Namun dengan ragu Manggada berkata

"Kami harus minta ijin dahulu kepada kakek. "

Kakek tentu tidak berkeberatan. Bukan kalian yang berbelanja. Tetapi aku. Bukankah pantas jika aku yang berbelanja? Kalian hanya menemani aku saja

Berkata Winih dengan lancar.

Seakan-akan mereka sudah akrab sebelumnya.

Manggada dan Laksana masih saja ragu-ragu.

Mereka selalu ingat akan pesan Kiai Gumrah, bahwa mereka harus berhati-hati karena orang-orang berilmu tinggi itu sudah mengenal mereka

"Kenapa kalian ragu-ragu? Apakah kalian merasa malu berjalan bersama seorang gadis?"

Bertanya Winih.

Manggada dan Laksana justru merasa jantungnya tergetar mendengar pertanyaan itu.

Namun mereka menyadari bahwa pertanyaan itu meluncur dari mulut Winih dengan lugu, jujur dan tanpa maksud apa-apa.

Karena itu, maka-meskipun agak memaksa diri Manggada menjawab "Tidak.

Soalnya bukan itu.

Tetapi kakek selalu berpesan agar kami berhati-hati dalam keadaan yang nampaknya semakin genting ini. "

Tetapi bukankah itu persoalan kakek, kawan-kawannya dan barangkali ayah. Tetapi itu bukan persoalan kita.

"Kami berdua sudah terlibat kedalam persoalan itu. "

Jawab Laksana.

"Jadi kalian takut pergi ke pasar?"

Bertanya Winih. Bagaimanapun juga Manggada dan Laksana tersinggung mendengar pertanyaan itu.

Namun justru karena itu, mereka tidak segera menjawab.

Tetapi Winih sambil meneruskan kerjanya berdesis seakan-akan kepada diri sendiri

"Jika demikian aku akan pergi sendiri ke pasar. "

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun Manggadapun kemudian berkata

"Baiklah. Kami akan pergi. Tetapi kami harus minta ijin lebih dahulu kepada kakek. "

Wajah Winih nampak menjadi gembira. Katanya

"Jika demikian aku akan segera mandi. Kita pergi kepasar selagi masih pagi. Kita akan mendapatkan sayur-sayuran yang masih segar. "

Hampir diluar sadarnya Laksana berkata "Selama ini kami mengambil sayuran dikebun. "

Tetapi dipasar kita mendapatkan sayuran yang jenisnya jauh lebih banyak dari yang ada dikebun kakek.

Jawab Winih.

"Tentu saja"

Sahut Laksana "tetapi kita harus membelinya. Dikebun kita tinggal memetik. "

"Aku akan minta uang kepada ibu"

Desis Winih.

Manggada dan Laksana hanya termangu-mangu saja.

Sementara itu Winihpuh telah berlari masuk rumah mencari ibunya, sementara, sapunya ditinggalkannya begitu saja.

Laksana menarik nafas dalam-dalam.

Iapun kemudian telah memungut sapu lidi yang ditinggalkan Winih dan menyelesaikan pekerjaan Winih yang tinggal sedikit.

Sebagian kecil sampah itu ternyata masih tersisa.

Belumseluruhnya masuk kedaiam lubang sampah disudut halaman itu.

Dalam pada itu, maka Manggada dan Laksanapun telah mencari Kiai Gumrah di kebun.

Agaknya Kiai Gumrah juga sudah selesai dengan pekerjaannya.

Sambil membawa beberapa buah bumbung legen ia berjalan menuju ke dapur.

Manggada dan Laksanapun telah membantunya membawa bumbung legen itu.

Sementara itu Manggadapun berkata "Kek, apakah kami berdua boleh pergi ke pasar?"

"Untuk apa?"

Bertanya Kiai Gumrah.

"Winih ingin pergi ke pasar. Ia minta kami mengantarkannya. "

"Ah, anak itu"

Desis Kiai Gumrah "ia tidak tahu bahaya yang tersembunyi di sekitar keluarga kita. "

"Winih nampaknya ingin sekali pergi ke pasar. "

Desis Laksana. Lalu katanya

"Agaknya iapun akan minta ijin kepada kakek. Tentu saja juga kepada ayah dan ibunya, karena Winih masih akan minta uang lebih dahulu. "

"Apa yang akan dicarinya di pasar?"

Bertanya Kiai Gumrah.

Anak itu ingin berbelanja. Katanya jenis sayuran dipasar jauh lebih banyak dari jenis sayuran yang ada dikebun.

Jawab Laksana. Kiai Gumrah mengangguk-angguk. Katanya

"Biar anak itu minta ijin ayah dan ibunya. Ayah dan ibunya tentu sudah tahu bahwa kita seluruh keluarga harus berhati-hati. "

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.

Tetapi mereka tidak menjawab lagi. Tetapi ketika mereka sampai didapur, Winih itu sudah menunggu.

Demikian ia melihat Manggada dan Laksana, maka iapun berkata lantang

"He,lcalian belum mandi?"

"Apakah kau sudah selesai berbenah diri?"

Bertanya Manggada.

"Tentu. Aku sudah menunggumu. "

Jawab Winih.

"Apakah kau sudah minta ijin ayah dan ibumu?"

Bertanya Kiai Gumrah.

"Sudah kek. Ayah dan ibu tidak berkeberatan. Ibu malahan sudah memberi uang belanja kepadaku. "

Kiai Gumrah menarik nafas dalam-dalam. Namun, kemudian katanya

"Baiklah. Jika kau sudah mendapat ijin ayah dan ibumu. "

Lalu Kiai Gumrah itupun berkata kepada Manggada dan Laksana "Kalian harus tetap berhati-hati. "

"Ya kek"

Jawab Manggada. Tetapi Winih segera memotong "Tetapi mereka belum mandi. "

Kiai Gumrah itupun tersenyum. Katanya "Mandilah. "

"Cepat sedikit. Biasanya laki-laki berbenah diri lebih cepat dari perempuan. "

Berkata Winih. Kiai Gumrah bahkan tertawa. Katanya

"Hari masih pagi. Pasar itu tidak akan segera bubar. "

"Tetapi sayuran yang segar itu sudah habis. "

Jawab Winih.

Tentu belum. Tetapi seandainya sudah habis, maka biarlah Manggada dan Laksana memetik sayuran segar dari kebun dan biar mereka membawanya kepasar. Nah, kau akan dapat membeli sayuran yang masih sangat segar.

Berkata Kiai Gumrah. "Ah, kakek mesti bercanda"

Desis gadis itu.

Sementara itu Manggada dan Laksana tergesa-gesa menyiapkan dirinya.

Sementara Winih menunggu didepan.

Bahkan hampir saja ia kehilangan kesabaran.

Tetapi ketika Manggada dan Laksana selesai berpakaian, maka mereka justru dipanggil oleh Nyi Prawara didapur.

Katanya "Kalian belum minum.

Nanti minuman ini menjadi dingin. "

"Terima kasih Nyi"

Jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.

Tetapi demikian keduanya meneguk minumannya, Winih telah berdiri dipjnfcu sambil berkata

"Kalian masih sempat minum. Matahari sernakin tinggi. "

"Kenapa kau Winih"

Ibunya yang menyahut

"biarlah mereka minum lebih dahulu. Bukankah hari masih pagi. Justru para penjual sayuran masih belum ada di pasar. "

"Kakek kalau pergi ke pasar agak siang"

Berkata Manggada.

Tetapi kakek menjual gula. Itupun sudah ada orang- orang tertentu yang menerimanya sehingga kakek tidak usah menjajakan dagangannya dan menungginya berlama- lama.

Jawab Winih.

"Baiklah"

Berkata Laksana kemudian "kami sudah selesai.

Demikianlah mereka bertigapun segera meninggalkan regol halaman rumahnya.

Disimpang tiga tidak jauh dari banjar mereka bertemu dengan beberapa orang anak muda yang akan pergi kesawah.

Ternyata anak-anak muda itu terkejut melihat Manggada dan Laksana berjalan bersama seorang gadis yang tumbuh dewasa.

Gadis yang sangat cantik menurut penglihatan mereka. "He"

Seorang dari anak-anak muda itu menegur. Dengan cepat Manggada tanggap dan menjawab

"Kami. mengantar adik"

Anak-anak muda itu tersenyum Seorang diantara mereka bertanya "Kapan adikmu datang?"

"Kemarin"

Jawab. Manggada.

Beberapa anak muda itu tanpa berjanji mengangguk hormat, sementara Winihpun mengangguk hormat p**a meskipun ia melihat kerlingan mata yang nakal.

Tetapi Winih tidak menghiraukannya.

Sebagai seorang gadis yang tumbuh dewasa dengan gaya hidupnya yang agak lebih bebas dari gadis-gadis sebayanya maka Winih telah sering melihat sorot mata yang seolah-olah ingin menusuk sampai kedasar jantungnya.

Tetapi anak-anak muda itu masih tetap dalam batas- batas kewajaran, sehingga Winihpun tidak terlalu merasa terganggu.

Sesaat kemudian, maka masing-masingpun telah meneruskan perjalanan mereka.

Winih diantar oleh Manggada dan Laksana ke pasar, sementara beberapa orang anak muda itu pergi ke sawah.

Namun belum lagi mereka melangkah terlalu jauh, merekapun telah berpaling ketika mereka mendengar langkah sorang berlari-lari.

Seorang anak muda yang bertubuh kekar dan berwajah keras.

Anak muda itu berlari- lari menyusul kawan-kawannya yang pergi kesawah.

Namun Manggada dan Laksana yang telah mengenal anak muda itu p**a menjadi berdebar-debar.

Dari kawan- kawannya Manggada dan Laksana mengetahui, bahwa anak muda itu adalah anak muda yang keras hati, yang hanya menuruti kemauannya sendiri tanpa menghiraukanperasaan orang lain.

Beberapa orang kawannya berusaha untuk menjauhinya.


7 Sang Penerus

Link Baca Online selengkapnya lihat di Group Cerita Silat Dan Novel Online

7 Sang Penerus

Baca Online Cerita Silat dan Novel

7

Address

Wiro Sableng Rahasia Cinta Tua Gila Wasiat Malaikat Dendam Dalam Titisan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wiro Sableng Rahasia Cinta Tua Gila Wasiat Malaikat Dendam Dalam Titisan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

  • Want your business to be the top-listed Grocery Store?

Share