10/07/2025
"Sebungkus Mi dan Sebungkus Rokok"
(Tulisan seseorang, semoga Allah menjaganya)
Setiap malam, meja makan kami tak pernah rumit. Tiga bungkus mi instan, dibagi untuk lima orang. Ibu akan menambahkan sedikit irisan sawi dan telur yang dibagi dua, tak lupa airnya di banyakin agar kelihatan lebih ‘berisi’. Kami duduk bersila, berhadap-hadapan di lantai, dengan piring melingkar seperti roda kecil kehidupan.
Tak ada yang mengeluh. Bahkan adik bungsuku, Arga, yang baru kelas 1 SD, sudah tahu caranya makan perlahan, agar mie-nya tidak cepat habis. Kakakku, Dina, yang sudah SMA, pandai menahan lapar, pura-pura kenyang, lalu menggeser sisa mi ke arah Arga.
Ibu hanya diam. Kadang menyuap perlahan, kadang malah tak makan sama sekali. “Ibu sudah kenyang dari tadi,” katanya. Tapi kami tahu, itu bohong.
Setelah makan, Ayah akan berdiri, menguap panjang, mengelus perut buncitnya lalu merogoh sakunya yang sudah robek di pinggir. Ia mengeluarkan uang kertas yang sudah lecek lalu memberikannya padaku.
“Beliin rokok, ya. Yang biasa.”
Aku menerimanya tanpa berkata, kuperhatikan angka dua puluh ribu yang pudar di ujungnya. Uang yang cukup untuk sekilo beras, untuk 10 butir telur, untuk segenggam kehidupan. Tapi tidak,
Ayah lebih memilih asap, bukan nasi, bukan anak-anaknya.
Aku menatap uang itu seperti menatap pisau. Tajam, menusuk lalu membunuh perlahan.
Aku berjalan ke warung Bu Sarip dengan langkah pelan, dengan menggenggam erat uang dua puluh ribu yang lusuh ditangan, dua puluh ribu yang tak pernah jadi telur, tak pernah jadi sayur, tak pernah jadi alasan untuk anak-anak tumbuh dengan sehat.
“Ini rokoknya, Ayahmu belum berhenti, ya?” tanya Bu Sarip sambil menyerahkan bungkusan kecil, aku hanya mengangguk.
Sesampainya di rumah, Ayah menyambut rokok itu seperti emas. Ia duduk di beranda, menyalakan satu batang, menghembuskan asap panjang ke langit, seperti mengusir lelah, katanya.
Dari balik tirai, aku melihat Ibu mencuci piring sambil sesekali mengusap matanya yang basah. M