15/04/2026
Judul : Sepotong roti
Genre : Cerpen
By : Tyo
Aku selalu percaya takdir itu seperti roti: sudah dipanggang rapi, tinggal disantap. Hidup hanya soal datang, duduk, lalu memilih mana yang terlihat paling menggoda. Tidak banyak berpikir, tidak banyak bertanya.
Sampai aku bertemu kamu… yang datang tanpa mentega, tanpa resep, tapi entah kenapa terasa lengkap.
Kita dipertemukan bukan di momen dramatis seperti hujan deras atau stasiun kereta yang penuh perpisahan. Justru di warung kecil yang kipasnya bunyi “krek-krek” tiap berputar, saat aku bingung memilih antara roti cokelat atau keju. Kamu berdiri di sebelahku, memperhatikan dengan ekspresi serius seolah ini keputusan hidup-mati, lalu dengan santainya bilang,
“Ambil dua-duanya, hidup terlalu singkat buat galau soal topping.”
Aku menoleh, sedikit kesal, tapi akhirnya tertawa. Dan anehnya, aku benar-benar membeli dua.
Sejak saat itu, hidupku jadi sedikit berubah. Bukan jadi lebih sempurna justru lebih berisik. Kamu selalu punya cara untuk membuat hal sederhana terasa penting. Seperti cara kamu menganggap… duduk berdua sambil makan roti di pinggir jalan itu sudah cukup seperti kencan mahal. Atau saat kamu dengan bangga mencelupkan roti ke teh panas, yang menurutku jelas-jelas pelanggaran terhadap etika per-roti-an.
Tapi dari semua pilihan anehmu, entah kenapa aku tetap memilih duduk di sebelahmu.
Hari-hari kita tidak selalu manis. Kadang hambar, kadang terlalu asin seperti roti yang kebanyakan mentega. Kita pernah diam terlalu lama, pernah juga tertawa terlalu keras sampai orang lain menoleh. Tapi di antara semua itu, selalu ada alasan kecil untuk tetap tinggal… entah karena cerita yang belum selesai, atau karena roti yang belum habis.
Orang-orang bilang jodoh itu takdir, sesuatu yang sudah ditulis rapi sejak awal. Tapi aku rasa kita ini lebih seperti pilihan yang keras kepala. Berkali-kali bisa pergi, tapi malah tetap tinggal. Berkali-kali bisa menyerah, tapi malah tambah sayang, seolah hati ini tidak tahu cara berhenti.
Dan mungkin, memang begitu kita seharusnya.
Bukan sesuatu yang pasti, tapi sesuatu yang dipilih… lagi dan lagi.
Kalau suatu hari nanti kita harus berpisah, mungkin aku akan kembali ke warung itu. Memesan roti yang sama, duduk di kursi yang sama, mendengar kipas yang masih saja bunyi “krek-krek” seperti dulu. Lalu tersenyum kecil, mengingat betapa sederhana semua ini pernah terasa.
Sadar bahwa kamu bukan takdirku…
tapi kamu tetap pilihanku.
Dan sepotong roti itu?
Ya… tetap saja aku makan.
Soalnya sayang kalau dibuang, sama seperti kamu dulu.
Di satu sudut kota, 15.04.26
Salam hangat untuk team PJ,
ROMAN SENJA Bayu Adikara Nyi Mas Kumbang Sari
Salam hormat untuk team Admod,
Semeru Jati Mbu Fitri Andriyani Anissa Telah Kembali Rindu Ghina Ineu Saharah Azura Zeyra Amira Safira Arie Jp Kidung Renjana Rezivsya Ananda Cahaya Hati dan yang lainnya.