04/02/2023
APA SISI GELAP KOTA SURABAYA YANG HANYA DIKETAHUI ORANG SURABAYA SAJA?
Warning…21+..
Tulisan ini sebenarnya tentang sisi gelap kemanusiaan. Mungkin terjadi di satu kota tertentu, bisa terjadi juga di tempat lain.
Dulu,
Saya ulangi, dulu, a long long time ago,
Ada korek api satu batang harganya seribu rupiah.
Jadi kalau dalam satu kotak ada 30 batang, total yang bisa didapat adalah 30 ribu rupiah. Kalau terjual dua kotak, ya tinggal mengkalikan.
Koq bisa?
Dulu,
Saya ulangi, dulu, di Surabaya ada lokalisasi namanya Gang Dolly, atau biasanya cuman disebut Dolly. Tempat tersebut sudah ditutup oleh walikota Surabaya Bu Risma tahun 2014. Sekarang sudah jadi kawasan pemukiman biasa. Tapi pada "masa jayanya", kawasan ini adalah kawasan "aquarium" terbesar di Asia Tenggara, mengalahkan Bangkok dan Singapura. Maksudnya "aquarium" adalah seperti ini
Gemerlap. Sexy. Dan uang.
Yang kurang diketahui masyarakat adalah, pekerja- pekerja di Dolly ada "pangkat"nya.
Kalau masih fresh kinyis kinyis, usia kebanyakan bahkan dibawah 20, dan wajahnya cukup layak, masuk ke Dolly. Tidak semua pekerja bisa masuk kesini, ada requirement ketat tentang fisik, karena tingkat persaingan tinggi. No cantik, no money.
Setelah agak berumur dan kurang "laku" karena kalah saingan sama pekerja baru, pindah ke sebelahnya, yaitu Gang Lebar. Bener- bener disebelahnya. Tapi beda kasta. Tarif di sini dibawah Dolly. Biasanya mereka "dipecat" oleh pengelola wisma. Karena sudah berubah dari asset menjadi liability. Bukan lagi mesin uang yang produktif.
Setelah di Gang Lebar kurang laku, pindah lagi ke tempat lain di bawahnya. Bisa ke Batu, Malang, atau ke Gresik. Tarif makin turun dan lingkungan semakin kumuh. Jangkauan tenaga medis yang kalau di Dolly seminggu sekali check penyakit, di sini kalau adapun frekuensinya entah. Dan pelanggannya orang- orang yang memang dont give a fu*k pada masalah higienitas.
Setelah kurang "laku" lagi, pindah ke jalan- jalan protokol di Surabaya. Persaingan keras dan kasar. Usia sudah tidak muda, kena angin malam terus. Premanisme, digaruk Dinsos, dipukuli pelanggan.
Kalah saingan di jalan, pindah ke pinggir rel kereta api. TKP nya ya di pinggir rel, pakai kardus atau tikar. Disini tarifnya lima ratus lima puluh lima ribu. Jasa pelayanan lima puluh ribu, parkir lima ribu, dokter lima ratus ribu. Because you will need to see a doctor anyway.
Nah, kalau dari pinggir rel kemana lagi?
Mangkal di terminal bis, di lokasi bis rongsokan parkir. Ketika hari mulai gelap, di lokasi parkir rongsokan itu gelap. Jual korek api, sebatang seribu. 30 batang 30 ribu. Kalau laku semua. Buat apa?
Buat melihat bebek nya.
Pelanggan punya kesempatan melihat bebek sampai sebatang korek api habis. Cuman melihat.
Caranya?
Ya ngangkang lah. Pelangganmu menyalakan korek tepat di depan bebekmu.
Siapa pelanggannya?
Anak- anak SMP. Seribu adalah harga yang pas buat mereka.
Ex. pekerja yang mesti sampai menjual korek api hanya sebagian kecil. Biasanya kalau sudah terasa kalah saingan di Dolly, para pekerja segera mencari suami. Apa laku? Ya laku lah. Ingat requirement fisik Dolly ketat, jadi mereka lebih glowing dari orang normal.
Kalau yang gak dapat suami, ya udah, cari terus, atau terpaksa jual korek kalau nggak dapet- dapet.
Oh ya, saya tambahkan bahwa tidak semua orang Surabaya tahu semua hal, know everything, tentang Surabaya. Misal pelaut dari Panama bisa jadi lebih tahu sudut hotel Alex*s di Jakarta daripada orang Jakarta sendiri. Jadi kalau ada orang sebuah kota bilang "Saya lebih tahu kota saya daripada orang di luar kota saya", thats a total BS