03/09/2016
Persepsi Seseorang Terhadap Berat Badannya Juga Dipengaruhi Faktor Genetik
__________________________________________________
Tak sedikit orang yang tidak puas terhadap bentuk tubuh dan berat badannya. Nah, persepsi seseorang terhadap keadaan fisiknya disebutkan juga dipengaruhi oleh faktor genetik.
Menurut Robbee Wedow, peneliti dari University of Colorado Boulder di Amerika Serikat, gen pada tubuh dapat memengaruhi perasaan seseorang terhadap kondisi berat badannya. Pengaruh ini dikatakan lebih berdampak pada orang dewasa muda, terlebih wanita.
Dalam studinya, Wedow dan tim mengukur apakah persepsi seseorang terhadap bobotnya ditentukan oleh proporsi variasi gen atau lingkungan. Heritabilitas atau daya waris diukur dalam rentang nol sampai 1. Skor nol mengindikasikan bahwa faktor gen tidak berkontribusi sama sekali.
Sedangkan, skor 1 menunjukkan bahwa gen adalah satu-satunya faktor yang memengaruhi persepsi seseorang terhadap berat badannya. Hasilnya, ditemukan skor 0,47 di mana persepsi seseorang terhadap berat badannya termasuk kategori juga dipengaruhi oleh faktor genetik.
"Perhitungan daya waris ini memberi kami bukti pertama bahwa persepsi seseorang terhadap berat badannya bisa dipengaruhi oleh gen-nya," kata Wedow, dikutip dari Indian Express.
Untuk studi ini, peneliti menggunakan data dari National Longitudinal Study of Adolescent to Adult Health yang mengambil sampel dari lebih 20.000 orang dewasa muda sampai dewasa, termasuk 100 anak kembar yang pertama kali ditanyai soal kesehatannya di tahun 1994.
Semua partisipan dimintai informasi dalam empat rentang waktu berkesinambungan selama tahun 2008. Dikutip dari Medical Daily, disebutkan faktor genetik juga bisa memengaruhi berat badan. Menurut dr Andrew Whittle, salah satu peneliti metabolik di Univesitas Cambridge, Inggris, bobot yang sulit turun bisa dikarenakan lemak menghasilkan protein yang disebut sLR11
Protein ini akan membuat tubuh berhenti memproses pembakaran lemak dan mencegah untuk penurunan berat badan. Maka, dengan semakin banyak lemak seseorang, sLR11 yang diproduksi juga akan semakin banyak. Sehingga, proses thermogenesis akan semakin terhambat dan tubuh akan sulit menghasilkan panas untuk membakar kalori yang akibatnya sulit untuk penurunan berat badan.
Bagi pasien obesitas yang menjalani operasi penurunan berat badan, jumlah lemak yang mereka hilang setelah operasi akan berbanding lurus dengan penurunan tingkat sLR11 yang diproduksi oleh sel-sel lemak. Para peneliti menduga protein sLR11 dirancang untuk membuat sistem penyimpanan yang lebih efektif dalam tubuh untuk mempertahankan energi dan suhu tubuh dalam jangka panjang.