19/07/2025
PART 1
Magelang, 2001
“Kalau kamu nggak mau minum, aku akan mengakhiri hdpku!” ucap gadis berbulu mata lentik dengan tatapan kosong yang seolah sudah tak bersemangat untuk menjalani hidup. Namanya Jihan.
“Aduh, Mbak, iling, Mbak.” Dengan aksen Jawa, pemuda desa yang berhasil menjadi seorang tantara setelah jatuh bangun saat mendaftar itu mulai resah, ia tak menduga akan menemui kejadian seperti ini.
“Ayo minum! Cepat!” ucap Jihan lagi, serp1han kaca dari botol yang sebelumnya dipecahkannya itu lebih didekatkan ke per gelang an tangannya hingga kulitnya sedikit mengeluarkan drh.
“Iya, Mbak, ya, Mbak, sedikit aja, ya, Mbak.”
Tanpa pikir panjang, Tegar pun meneguk segelas minuman haram itu. Sejak malam itu, dunia Tegar mulai berubah drastis. Pemuda desa lugu yang baru mulai merintis kehidupannya sebagai tantara muda itu, kini harus terjebak dalam situasi luar biasa yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
♡♡
Segalanya berawal dari permintaan kecil kawan letingnya.
“Gar, mau nolongin?” tanya Amran ragu-ragu. Sungkan sebenarnya minta tolong karena ini bukan sekali dua kali ia meminta tolong Tegar.
“Apaan??” Tegar balik bertanya.
“Tolongin aku, d**g, jemput Mbak Jihan.” Amran teman satu kamar Tegar di barak dan tantara muda yang berkulit agak gelap itu adalah ajudan Letkol Haryo—komandan batalyon kesatuan.
“Sopo tho Mbak Jihan? Lho kan emang tugas ajudan antar jemput, hahaha,” canda Tegar. Ia duduk ditemani segelas teh panas dan singkong rebus.
Amran yang berdiri dengan gusar masih berusaha membujuk kawannya. “Halah nggak usah kebanyakan ketawa, tolonglah Mas Bro, aku mau jemput pacarku, nih. Mbak Jihan itu keponakannya komandan dari Jakarta, baru tiga hari dia di sini. Mau ya?”
“Yoweslah, lha jemput tok tho? Jemputnya di mana?” tanya Tegar lagi.
“H0tel Grand Nuansa kmr 43.”
♡♡
Suara ketukan menggema di lorong hotel. Tangan kekar Tegar berusaha mengetuk dengan tak terlalu keras, meski tetap saja suara ketukan itu terdengar nyaring karena situasi lorong hotel yang sepi.
“Siapa, ya?” Suara merdu perempuan dari balik pintu terdengar. Meski merdu, suara itu terkesan tak bernyawa. Pintu kmr nomor 43 itu pun terbuka. Seindah suaranya, si pemilik suara pun berparas indah. Bibirnya mungil dengan alisnya yang tajam. Sayang, tatapan matanya kosong. Ia menatap seperti menerawang objek yang samar.
“Selamat malam, Mbak. Apa benar dengan Mbak Jihan?” tanya Tegar ramah. Untuk beberapa saat Tegar belum merasakan keanehan pada lawan bicaranya.
“Ya, kamu siapa?”
“Saya, nama saya Tegar, Mbak, anggota Pak Haryo. Mau jemput Mbak Jihan,” jelas Tegar.
Untuk beberapa saat mereka saling tatap. Tegar juga pria normal, tentu saja ada desiran halus kala matanya menangkap sosok rupawan gadis di depannya.
Ayu, wajahnya ayu, batin Tegar dalam hati. Namun, setelah mengamati Jihan untuk waktu yang cukup sampai akhirnya ia menyimpulkan ada sesuatu yang aneh, Tegar pun mulai merasa kalau ada yang janggal. Cara Jihan memandang itu kosong dan hampa.
“Ya, silakan masuk,” balas Jihan singkat.
Sesuatu kembali mengejutkan Tegar saat netranya menangkap keberadaan beberapa botol minuman krs. Bau alk0h0l menyeruak, akhirnya Tegar menyadari kalau yang janggal pada diri Jihan adalah ... gadis cantik itu mabyuk.
Jihan menyuruh Tegar duduk di sofa panjang, setengah sempoyongan gadis berambut panjang melewati bahu itu pun kemudian ikut duduk di sofa.
“Hei, kamu ….”
“Saya, Mbak?” tanya Tegar dengan mimik bingung.
“Iya, siapa lagi!” bentak Jihan.
“Ayo temani aku minum.”
Situasi mulai memburuk karena Tegar yang tak biasa minum minuman seperti itu terp4ksa menolak. Selain karena tak bisa, ia pun tak mau menyentuh barang-barang seperti itu. Memang sedari dulu Tegar adalah sosok simpel yang menjalani hari dengan apa adanya saja. Hidupnya tak muluk-muluk dan tak ada keinginan untuk ikut-ikutan seperti beberapa kawan lainnya.
“Maaf, Mbak, alhamdulillah saya tidak pernah minum begituan,” tolak sopan Tegar.
Jihan terbahak dengan ekspresi mengejek. “Kamu dari kampung, ya! Pantas,” ucap Jihan, kemudian ia memec4hkan botol dan mengambil salah satu serpyihan kyaca botol itu lalu mengarahkan ke perglgn tangannya. Tegar kaget bukan kepalang.
“Duh, Gusti, apa lagi ini!” seru Tegar, kalut.
“Kalau kamu nggak mau minum, aku akan mengakhiri hdpku,” ancam Jihan.
“Aduh, Mbak, iling, Mbak,” Tegar berusaha membujuk Jihan.
“Ayo minum! Cepat!” ancam Jihan lagi, serpyhan kyaca botol itu lebih didekatkan ke tangannya hingga kulitnya sedikit mengeluarkan drh.
“Iya, Mbak, ya, Mbak, sedikit aja, ya, Mbak.” Tanpa pikir panjang Tegar pun meneguk segelas minuman haram itu. Sebab memang Tegar tidak pernah “minum” sama sekali, minum segelas saja langsung membuatnya tak sadar diri.
PART 2
Beberapa minggu kemudian.
”Gar, dipanggil Bu Komandan!” seru Amran, tetapi rupanya Tegar tak menanggapi.
“Gar! Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini bengong aja. Kesambet baru tahu rasa!” ucap Arman, geregetan.
“Apa tho Ran,” balas Tegar polos.
“Gar, kamu dipanggil Bu Komandan, disuruh ke rumahnya. Carikan tiket pesawat buat Mbak Jihan,” tambah Arman lagi.
“Waduuuh, kalau bisa jangan akulah,” tolak Tegar kalang kabut.
♡♡
Mau tak mau, pada akhirnya Tegar pun mengiyakan perintah itu. Sangat gugup rasanya bertemu Jihan lagi. Jihan pun terbelalak kaget saat tahu siapa yang mengantarnya mencari tiket, tak lain adalah Tegar. Di dalam mobil pun mereka tak berbicara sepatah kata pun, bahkan sampai p**ang. Akan tetapi, saat akan sampai di rumah Pak Haryo, Jihan mengucapkan beberapa kata yang membuat Tegar menghela napas panjang.
“Kejadian malam itu lupakan saja, anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita,” ucap Jihan datar, tatapan matanya masih sama, kosong.
“Maaf, tapi, Mbak …,” potong Tegar.
“Sudahlah, ikuti saja kata-kataku, aku nggak kenal kamu! Apa pun yang terjadi, aku yang akan tanggung sendiri, kamu tidak usah ikut campur,” balas Jihan dengan nada kasar. Ia kemudian membuka pintu mobil dan berlalu masuk ke rumah dinas itu.
Perasaan Tegar campur aduk, antara bingung, kaget, serba salah. “Ya Allah Gusti. Salah apa aku ini?” lirih Tegar. Ia teringat kejadian di kyamar nomor 43. Karena tak sadar diri dengan apa yang terjadi malam itu, Tegar dan Jihan bangun keesokan paginya sudah dalam keadaan yang tidak semestinya dilakukan pasangan yang bukan mahram.
Tegar memejamkan mata sesaat seakan tak percaya apa yang terjadi sekarang, semua karena ketidaksengajaan, tetapi ada rasa bersalah kepada Jihan, meskipun semua di luar kemauannya.
“Tegar,” panggil seseorang yang ternyata Bu Haryo.
“Eh, siap, Ibu,” jawab Tegar spontan.
“Minum dulu di dalam, Mbok Dar sudah bikin kopi. Oh, ya, Amran juga ada di dalam, tadi habis ngembalikan properti,” kata Bu Haryo ramah.
♡♡
“Ran, kamu di sini tho!”
“Yo, ngopi dululah, Mas Bro, heheee.” Amran cengar-cengir.
“Aku langsung p**ang yo, sudah sore,” ucap Tegar.
“Nopo buru-buru, Mas Tegar, mosok nggak mau minum kopi ala Mbok Dar.” Suara Mbok Darmi dari arah belakang memecah suasana kemudian wanita senja itu langsung menyam-bangi Tegar juga Amran.
“Eh, Mbok Dar, wah pasti saya habisin dulu kopi ala Mbok Dar. Gimana kabarnya, Mbok? Sehat tho?” tanya Tegar.
“Alhamdulillah apik, Mas, yowes yo, Mas, aku tak nungguin tukang rujak dulu, dari kemarin nungguin tukang rujak nggak lewat-lewat, mumet mumet mumet aku,” tutur Mbok Dar sambil menggelengkan pelan kepalanya. Terlihat sekali kalau Mbok Darmi memang sedang pusing, wajahnya terlihat kusam senada dengan kebaya cokelat usang yang dikenakannya.
“Ah, si mbok ini kayak orang ngidam aja, mau makan rujak,” canda Amran disertai tawa lantang. Tegar melirik untuk mengingatkan Amran jangan agar terlalu keras bersuara, bagaimana pun ini masih di kediaman komandan.
“Eh, bukan buat aku, Mas Amran, tapi buat Mbak Jihan.”
Spontan kata-kata Mbok Darmi barusan cukup membuat Tegar berkeringat dingin dengan degup jantung yang berdetak semakin cepat, tengkuknya terasa panas, ia menelan ludah.
Sesampainya mereka di barak, Tegar hanya bengong, melamun saja, banyak pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikirannya.
Mungkin nggak, ya, Jihan, hmm ... hamil. Ah, masa iya? Kejadiannya begitu cepat, hmm, pasti tidak. Namun, seandainya iya ... oh, apa yang harus kulakukan? Bukan karena tidak mau bertanggung jawab, tetapi Jihan itu ... apa dia bisa menerima, hfft, perbedaannya jauh sekali, antara langit bumi, aku cuman anak desa dari keluarga petani miskyin, Jihan, hmm, aku dengar dia anak pengusaha kayya rayya. Tapi kenapa ya hidupnya salah pergaulan, mabuuk -mabuukan, halah ... aku jadi pusing memikirkan hal ini! Ah, seandainya waktu bisa diputar kembali!
Azan Magrib berkumandang, renungan Tegar pun terpecah.
Hmm, sudah azan, sebaiknya aku solat dulu, memohon petunjuk dan pengampunan, gumamnya, ia berusaha membangun kembali keimanannya setelah kekacauan menghinggapi dirinya akhir-akhir ini.
♡♡
Malam ini, kok, rasanya dingin banget, ya? pikir Tegar. Pemuda berkulit sedikit gelap itu berjalan ke dapur, mengikuti indera penciumannya.
Wangi aroma kopi ini ….
Di rumah khusus bujangan itu berderet panjang sekitar delapan rumah tinggal yang biasa disebut barak bujangan, kebetulan ia satu rumah dengan Amran.
Tegar penasaran kenapa ada aroma kopi seenak ini dari arah dapurnya. Ia melangkah ke dapur, langkahnya perlahan, kemudian mengintip ruangan sempit itu. Sungguh terkejutnya Tegar, ia melihat sosok perempuan yang membelakanginya. Namun, gerakan tangan perempuan itu jelas sekali sedang mengaduk sesuatu, ia mengaduk kopi di sebuah gelas bening.
“Kamu siapa?”
Perempuan itu berbalik dan tersenyum. Lalu ia memegang gelas berisi kopi di tangannya. Perempuan beralis tajam itu melangkah mendekati Tegar. Senyumnya terkesan hangat dan menenangkan.
Tegar bingung dengan penglihatannya.
“Jihan?”
Ia mengucek-ngucek matanya memastikan bahwa penglihatannya tak salah. Perempuan yang dipanggil Jihan itu tak menjawab, ia tersenyum, gelas berisi kopi itu kemudian di letakkannya kemudian kakinya yang putih bersih melangkah mendekati Tegar.
Tegar tak bereaksi apa pun selain raut mukanya yang kebingungan. Jihan mendekatinya yang masih dilanda rasa gamam. Semakin dekat, Tegar pun semakin gelisah.
Jihan meraih tangan pria yang masih diselimuti kegelisahan itu, meski kali ini Tegar tak menolak, seolah tangannya sangat lemah dan tak bertulang. Jihan masih memegang tangan kanan Tegar dan mendekatkan tangan laki-laki kekar itu ke perutnya.
“Di dalam rahimku ini, adalah anakmu ....”
Ucapan perempuan berbibir mungil itu mengejutkan Tegar. Namun, anehnya lidahnya sangat kaku untuk digerakkan. Tak ada yang mampu dilakukan Tegar selain hanya menatap perempuan muda di depannya.
Bunyi ketukan pintu terdengar lantang seolah dipukul dengan tenaga yang cukup kuat, lain dari ketukan pintu biasanya.
“Tegaaar!” Suara seorang dari luar yang memanggil namanya.
“Tegaaar!” Suara itu kembali memanggilnya. Tegar sontak kaget dan terbangun. Dengan cepat ia membuka mata, mendapati dirinya di sofa ruang tamu.
“Astagfirullah, ternyata tadi itu hanya mimpi.” Ia tersadar hal yang tampak nyata tadi ternyata hanyalah sebuah mimpi, Jihan hadir dalam mimpinya.
Suara ketukan pintu berulang.
“Tegaaar!”
“Iya, tunggu, Ran,” balas Tegar, ia tahu itu suara Amran yang memanggilnya dan mengetuk-ngetuk pintu hingga membangunkannya dari mimpi aneh tadi.
Baru beberapa detik pintu terbuka, Amran sudah memberond**g dengan beberapa kata.
“Gar, Anis mau ke sini. Rumah sudah kamu beresin belum?”
Anis adalah kekasih Amran.
“Iya, sudah.”
“Ok, thanks, Bro. Oh ya, Anis ke sini bawa temannya yang aku bilang mau dikenalkan sama kamu, yang namanya Sarah.”
Tegar mengingat-ingat. “Oh, yang wartawati itu, ya? Tapi, Ran, aku nggak mau ngasih harapan, ya, kalau berteman biasa aja nggak masalah.”
Amran memasang tampang kecut. “Kamu ini jangan kuper-kuper banget, tho, Gar. Ayolah, siapa tahu kamu cocok tho sama Sarah. Lagian dia manis, kok.” Amran memang paling pintar merayu kawannya satu itu, akhirnya Tegar pun mengiyakan, meski tetap ia menyuarakan kalau jangan berharap padanya. Tegar belum mau menjalin hubungan dengan siapa pun.
Setelah itu Amran segera berlalu pergi menjemput Anis dan temannya di ujung gerbang batalyon.
PART 3
Di warung nasi goreng yang tak jauh dari batalyon, Amran mengajak Anis dan temannya serta Tegar. Pemuda berhidung besar itu memesan empat piring nasi goreng dan empat gelas teh hangat. Mereka mengobrol ringan. Amran dan Anis berusaha mendekatkan Tegar dan Sarah. Tegar tak mau mengecewakan Amran, ia tetap berusaha ngobrol sewajarnya dengan Sarah.
Empat piring nasi goreng akhirnya dihidangkan di meja. Sorot mata lega Amran terbaca karena tak harus menunggu lama. Tegar pun mulai membuka toples acar dan menuangkannya di piring nasi gorengnya. Mereka berempat mulai menikmati nasi goreng ala Pak Mad itu, warung nasi goreng langganan para bujangan di barak.
Tetapi baru beberapa sendok suapan, kegiatan makan Tegar terhenti saat seseorang datang.
“Pak, pesan nasi gorengnya satu,” ujar pembeli yang baru datang itu.
Secara tak sengaja pembeli itu bertemu mata dengan Tegar.
Jihan?
Dia lagi! Jihan pun membatin kemudian tetap berusaha bersikap wajar dan cuek seperti pembawaannya sebelumnya.
Tegar menunduk, meneruskan makannya, meski ia beberapa kali curi pandang. Jihan juga sebenarnya terkejut, tak menyangka bertemu Tegar, tetapi tak ingin ia perlihatkan terang-terangan dan ia tak mau sama sekali menoleh ke arah meja Tegar. Ia mengalihkan pandangannya ke hal lainnya dan sesekali bermain handphone-nya.
“Loh, Mbak Jihan?” sapa Amran dengan suara lantang, lelaki kelahiran Riau yang sebenarnya berasal dari suku Jawa itu tentu saja mengenal Jihan. Beberapa kali ia bertemu perempuan muda itu di rumah komandannya. Kendati beberapa kali bertemu dan berakhir dengan balasan sikap Jihan yang hanya dibalas datar saja oleh Jihan.
“Langganan nasi goreng ini juga?” basa-basi Amran. Anis dan Sarah jadi ikut-ikutan menyoroti Jihan. Bahkan Anis bertanya-tanya siapa perempuan cantik yang disapa kekasihnya, naluri seorang kekasih muncul, melihat Jihan dengan rupanya yang ayu terlihat sebagai ancaman.
“Iya.” Seperti biasa, Jihan menjawab datar-datar saja kemudian berpaling kembali. Setelah pesanannya siap, segera ia bayar dan berlalu pergi dari tempat itu.
“Siapa dia, Mas? Sombong banget kelihatannya,” bisik sinis Anis.
“Oh, itu Mbak Jihan, keponakannya komandan.”
“Pantesan aja kesannya sombong, cih! Baru segitu aja!” sengit Anis.
Sarah tersenyum. “Kita nggak levelnya dia, Nis, orang kaya sombong udah biasa.”
Amran tak terlalu menggubris, ia sibuk menyantap nasi goreng di depannya, seperti orang yang tak makan seharian.
“Kamu pernah ngantar dia juga, Mas?” selidik Anis.
Dengan mulut penuh nasi, Amran menjawab, “Ya, pernahlah. Disuruh Ibu Komandan.”
Mendengar pengakuan itu membuat Anis mendelik. “Trus?”
“Ya, nggak terus-terus, kalau antar, udah, langsung p**ang.” Amran menoleh ke kekasihnya. “Ya gitu aja, kok. Lagian Mbak Jihan itu pendiam, kayak nggak s**a ngomong. Aku kira tadinya dia nggak bisa ngomong, loh! Tapi cantik banget memang dia, iya nggak, Gar?”
Amran memang lugu, ia tak sensitif terhadap pertanyaan-pertanyaan Anis yang sebenarnya agak cemburu.
Dilempar pertanyaan spontan macam itu membuat Tegar gelagapan. “Eh.”
“Kamu kan juga udah pernah ngantar dia, pernah ngomong nggak sama kamu, Gar?”
Empat pasang mata kedua perempuan muda di meja itu spontan melirik ke Tegar.
“Kenapa tho semua jadi ngelihatin aku?”
“Ya enggak, nanya aja, Gar.”
Anis memotong, “Kayaknya sama Mas Tegar juga mbak itu nggak pernah ngomong, kelihatan, sih, sombong.”
Tegar terdiam sesaat, ia teringat mimpinya beberapa waktu lalu. “Ran, aku pergi sebentar ya,” ujarnya.
“Mau ke mana?”
Tegar berdiri, setengah meninggalkan bangkunya. “Beli rok ok,” jawabnya singkat lalu pergi.
Amran melongo. “Hah? Sejak kapan anak itu me rok ok.”
Jihan menyadari ada seseorang yang mengikutinya lalu ia mempercepat langkah. Namun, seseorang terus mengikuti langkahnya, ia berhenti sesaat.
Pria yang mengikutinya dari belakang ternyata Tegar, pemuda itu pun terkejut dan mendadak menghentikan langkahnya juga. Jihan membalikkan badan secara tiba-tiba. Tegar terkejut sekaligus canggung, hal lain tak terlintas dalam pikirannya selain memasang tampang nyengir.
♡♡
“Orang kampung, kamu ngikutin aku, ya?”
Tegar setengah berlari ke arah Jihan. “Apa kabar, Mbak Jihan?”
“Nggak usah basa-basi, aku nggak kenal kamu!”
Tegar tak menghiraukan kata-kata ketus Jihan, ia terus bertanya. “Mbak Jihan kapan p**ang ke Jakarta?”
“Besok. Jangan panggil aku mbak-mbek-mbak-mbek, panggil Jihan aja!” bentak Jihan lagi.
Tegar tertawa canggung. “Eh, iya.”
“Sudah nggak ada urusan lagi, ‘kan? Aku mau p**ang, jangan ikuti aku!” ketus Jihan lagi kemudian berlalu.
“Jihan, tunggu dulu!” panggil Tegar.
Jihan terus berjalan tak menghentikan langkahnya. Sadar akan itu, Tegar mempercepat laju kakinya, melewati Jihan lalu mencegat langkah perempuan yang sedang manatapnya dengan ekspresi tak ramah.
“Mau apa sih kamu?”
”Aku ... aku ... hanya ingin memastikan.”
Perasaan Jihan sudah tak enak dengan kalimat yang diucapkan Tegar.
“Aku berfirasat kamu ... hamil ...,” ucap Tegar dengan wajah dan ekspresi yang serius kali ini.
Jihan membelalak, ia kebingungan dan terlihat cemas yang tak wajar.
“Jangan mengatakan seperti itu lagi!”
“Tolong jawab saja, iya atau tidak.”
Jihan menggigit bibirnya, napasnya naik turun, ia serasa di ujung tanduk. Jihan menatap tajam Tegar. “Tidak!”
“Sungguhkah?”
“Jangan ganggu aku, aku besok sudah akan p**ang dan aku tak ada urusan apa pun dengan kamu. Sana pergilah, pacarmu pasti sudah menunggumu di warung nasi goreng tadi.”
Agak sedikit kaget, tapi ia tahu maksud Jihan, mungkin maksudnya adalah Sarah.
“Dia bukan pacarku.”
“Terserah. Aku nggak mau berurusan denganmu.” Jihan berlalu pergi.
Tegar bercekak pinggang dengan sikapnya yang mulai kalut. Ia berteriak, “Aku nggak akan tinggal diam itu sungguh terjadi!”
Jihan menoleh sengit. “Pergi kamu! Jangan kacaukan hidupku!”
PART 4
Setiba di barak, Tegar segera mengambil peralatan mandi. Tak ia sadari itu menjadi perhatian Amran.
“Mau mandi?”
“Iya,” jawabnya singkat tanpa peduli dengan tatapan bingung Amran.
“Tumben mandi malam-malam. Ih, dingin loh!”
Segera Tegar ke kamar mandi tanpa peduli dengan tatapan bingung kawan sekamarnya itu.
Air dingin diguyur Tegar berkali-kali di atas kepalanya. Pikirannya kacau. Tak terbayangkan akan seperti ini.
Tegar sadar betul ini bukan perkara simpel, ini perkara besar, yang tidak hanya berimbas pada kariernya, tetapi juga untuk Jihan. Sangat yakin, perempuan itu tak mungkin mau menerimanya, apalagi mereka tak saling kenal. Perbedaan status juga salah satu pemicunya yang membuat hal ini semakin tak mudah.
Semalaman Tegar tak dapat tidur, ia gelisah memikirkan besok Jihan sudah akan p**ang. Kesempatan untuknya bertanggung jawab hanya sampai besok batas waktunya. Jika Jihan telah p**ang, entah kapan lagi ia bisa bertemu dan semua serba tak pasti. Ia takkan tahu apakah benar-benar mengandung anaknya atau tidak.
Hingga sang fajar menyingsing, Tegar tak dapat memejamkan mata. Amran terbangun, heran melihat situasi kawannya. Pemuda itu hanya menebak asal saja.
“Kamu nggak tidur semalaman?”
“Nggak bisa tidur,” balas Tegar dengan kepalanya yang berat. Ia lalu terduduk di ranjangnya. Merenung.
Amran berdiri, mengambil seragam dinas yang tergantung, bermaksud mandi.
“Gar, kayaknya semalam Sarah naruh harapan besar ke kamu.”
Tegar tidak berniat menjawab.
“Dia bilang ke Anis, kalau kamu tipe dia banget. Tunggu apa lagi, Gar. Sarah kan manis, mandiri, sudah kerja p**a. Cocoklah kamu ama dia.”
Lagi-lagi Tegar diam saja. Amran bergeleng. “Oh, dasar, bocah iki, diajak ngomong, kok!” Ia kemudian meninggalkan Tegar yang masih merenung. Sekitar lima belas menit Amran selesai membersihkan diri di kamar mandi dan masih mendapati Tegar merenung di ujung ranjangnya.
“Woi!” Amran menepuk pundak kawannya. I