14/02/2026
Cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah salah satu bentuk cinta kepada Allah سبحانه وتعالى. Siapa yang mencintai seorang raja, tentu mencintai utusannya. Dan Rasulullah ﷺ adalah kekasih Tuhan semesta alam, yang membawa seluruh kebaikan kepada kita.
Beliau ﷺ telah memberitahukan kedudukan beliau yang seharusnya ada di dalam hati kita agar iman kita menjadi sempurna. Beliau bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
Dari Zahrah bin Ma‘bad, dari kakeknya, ia berkata: “Kami bersama Nabi ﷺ, dan beliau sedang memegang tangan Umar bin Khattab. Umar berkata: ‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.’ Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Tidak sempurna iman seseorang hingga aku lebih ia cintai daripada dirinya sendiri.’ Umar berkata: ‘Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sekarang, wahai Umar.’”
Ibnu Rajab al-Hanbali berkata:
“Cinta kepada Nabi ﷺ termasuk pokok iman, dan ia berjalan seiring dengan cinta kepada Allah عز وجل. Allah telah menggandengkan keduanya, serta mengancam orang yang mendahulukan kecintaan kepada hal-hal yang secara tabiat dicintai — seperti keluarga, harta, tanah air, dan lainnya — di atas keduanya.”
Maka kesempurnaan iman seorang hamba tidak akan terwujud sampai kecintaannya kepada Nabi ﷺ mencapai derajat yang beliau kehendaki dari Umar رضي الله عنه. Itulah tingkatan yang seharusnya diidamkan setiap muslim. Hal ini tidak bertentangan dengan cinta kepada Allah, karena engkau mencintai Rasulullah ﷺ karena Allah. Dasar cintamu kepada Rasulullah ﷺ adalah cinta kepada Allah. Tidak ada makhluk yang Allah tampakkan padanya keindahan dan kesempurnaan sifat-Nya seperti Rasulullah ﷺ. Engkau mencintai pancaran sifat-sifat Ilahi yang Rasulullah ﷺ menjadi cermin yang memantulkannya kepada kita. Maka cinta hanya untuk Allah semata, dan mencintai Rasulullah ﷺ sepenuh hati adalah bagian dari cinta kepada Allah — tidak ada pertentangan di antara keduanya.
Para tabi‘in dan generasi salaf juga memiliki bukti nyata yang menunjukkan bahwa mereka telah mencapai kesempurnaan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Ubaidah bin Amr as-Salmani berkata:
“Seandainya aku memiliki sehelai rambut beliau — yaitu rambut Nabi ﷺ — itu lebih aku cintai daripada seluruh emas dan perak yang ada di permukaan bumi dan di dalamnya.”
Imam adz-Dzahabi mengomentari:
“Perkataan Ubaidah ini adalah ukuran kesempurnaan cinta, yaitu lebih memilih sehelai rambut Nabi daripada seluruh emas dan perak yang dimiliki manusia.”
Perkataan ini diucapkan oleh seorang imam yang hidup sekitar lima puluh tahun setelah Nabi ﷺ. Maka apa yang akan kita katakan di zaman kita jika kita menemukan sebagian rambut beliau dengan sanad yang sahih, atau tali sandal beliau, atau potongan kukunya, atau serpihan bejana yang pernah beliau gunakan untuk minum?
Jika seorang kaya mengeluarkan sebagian besar hartanya untuk mendapatkan sesuatu dari itu, apakah engkau akan menganggapnya boros atau bodoh? Tidak, demi Allah.
Engkau tidak akan menjadi mukmin sejati hingga Nabi ﷺ lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri, anakmu, hartamu, dan seluruh manusia.
Tsabit al-Bunani jika melihat Anas bin Malik, ia memegang tangannya lalu menciumnya, seraya berkata:
“Tangan yang pernah menyentuh tangan Rasulullah ﷺ.”
Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada Sang Kekasih yang dicintai, penyejuk hati, beserta keluarga dan para pengikutnya.