08/09/2025
Harga Diri Wanita di Zaman Sekarang
Dulu, banyak orang percaya bahwa seorang wanita cukup di rumah, mengurus suami dan anak-anak, sementara suami bekerja dan mencari nafkah. Tapi zaman sudah berubah.
Kini, harga diri seorang wanita tidak lagi diukur dari seberapa tunduk atau diamnya ia menerima keadaan, tapi dari keberanian untuk bekerja apapun pekerjaannya, selama halal. Karena jujur saja, banyak istri yang akhirnya memilih bekerja bukan karena tak mau dinafkahi, tapi karena merasa nafkah yang diberikan seringkali diperlakukan seperti “utang”.
Istri dianggap seperti penumpang gratis dalam hidup suami. Dikasih makan, tapi seolah harus tunduk tanpa suara. Diminta diam, walau hatinya terus disakiti. Bahkan ada yang lebih parah—suami merasa nafkah adalah tiket untuk merendahkan, menguasai, hingga menyakiti fisik maupun mental istri.
Bukankah itu ironi?
Nafkah seharusnya bentuk cinta dan tanggung jawab. Tapi di tangan yang salah, nafkah berubah jadi senjata untuk merendahkan harga diri wanita.
Betapa pedihnya perasaan seorang istri ketika ia harus meminta uang belanja seperti pengemis. Harus ribut dulu hanya untuk kebutuhan sehari-hari, padahal itu kewajiban suami. Bahkan ketika akhirnya diberi, nominalnya tidak seberapa, tapi sikapnya seperti baru saja menghadiahkan dunia.
Lalu yang lebih menyakitkan, setiap rupiah yang diberikan pun masih dipertanyakan, “Uang itu habis buat apa?” Seolah-olah istri tidak tahu cara mengelola. Padahal, istri sering menahan keinginan dirinya sendiri demi anak-anak dan keluarga.
Dari luka-luka itulah, banyak istri mulai berpikir: lebih baik aku bekerja. Lebih baik aku punya uang sendiri. Dengan begitu, aku bebas memenuhi kebutuhanku, bebas memberi orang tua tanpa rasa bersalah, bebas membeli sesuatu tanpa harus dihina atau dicurigai.
Bekerja bagi seorang istri di zaman sekarang bukan sekadar mencari tambahan penghasilan. Itu adalah cara menjaga harga diri, menjaga kewarasan, dan menjaga hati agar tidak terus diinjak.
Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang lebih berkuasa, tapi siapa yang lebih bisa menghargai. Dan jika seorang suami lupa menghargai, jangan heran jika seorang istri memilih bangkit dengan caranya sendiri.