02/03/2026
Dua Wajah Teheran-Tel Aviv: Dari Pelukan Hangat ke Seteru Abadi 🇮🇷🇮🇱
​Sejarah Timur Tengah sering kali digambarkan sebagai garis lurus permusuhan, namun hubungan antara Iran dan Israel membuktikan bahwa geopolitik adalah panggung yang cair. Sebelum rudal dan retorika panas mendominasi berita utama, kedua bangsa ini pernah menjalani "pernikahan siri" yang strategis selama hampir tiga dekade.
​Fase Aliansi: Sahabat di Balik Layar (1950–1979)
​Pada era 1950-an, di bawah kepemimpinan Raja (Shah) Mohammad Reza Pahlavi, Iran dan Israel menemukan titik temu dalam kepentingan nasional. Bagi Iran, Israel adalah pintu gerbang menuju teknologi Barat dan penyeimbang kekuatan terhadap nasionalisme Arab yang dipimpin Mesir. Bagi Israel, Iran adalah pilar utama "Doktrin Periferal"—sebuah strategi menjalin hubungan dengan negara non-Arab untuk memecah isolasi di kawasan.
​Hubungan ini bukan sekadar diplomasi formal, melainkan kerja sama mendalam:
​Energi & Ekonomi: Iran menjadi pemasok utama minyak bagi Israel saat dunia Arab melakukan boikot. Jalur p**a Eilat-Ashkelon menjadi bukti fisik kemesraan ini.
​Intelijen & Militer: Mossad dan dinas intelijen Iran, SAVAK, bekerja sama erat. Instruktur militer Israel melatih personel Iran, sementara teknologi pertanian Israel membantu modernisasi pedesaan Iran.
​Kehidupan Sosial: Pesawat El Al terbang rutin antara Tel Aviv dan Teheran, membawa teknisi, pebisnis, dan wisatawan yang merasa diterima di kedua ibu kota.
​Prahara 1979: Ketika Ideologi Mengubah Segalanya
​Titik balik dramatis terjadi saat Revolusi Islam 1979 meletus. Ayatollah Khomeini mengubah total haluan negara. Iran yang tadinya sekutu strategis, bertransformasi menjadi penentang paling vokal terhadap eksistensi Israel.
​Gedung kedutaan Israel di Teheran langsung diserahkan kepada Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Israel kini dijuluki sebagai "Setan Kecil". Namun, di balik kecaman publik yang tajam, logika perang terkadang memaksa kedua pihak untuk tetap "bersalaman" di bawah meja.
​Anomali Perang Iran-Irak (1980–1988)
​Saat Irak di bawah Saddam Hussein menginvasi Iran pada 1980, peta persahabatan menjadi sangat rumit. Israel, yang melihat Irak sebagai ancaman militer yang lebih besar dan nyata, memilih untuk membantu Iran secara rahasia.
​Melalui skandal yang kemudian dikenal sebagai Iran-Contra, Israel berperan sebagai perantara pengiriman senjata dan suku cadang jet tempur dari Amerika Serikat ke Iran. Di sini, pragmatisme mengalahkan ideologi: Iran membutuhkan senjata untuk bertahan hidup dari gempuran Irak, sementara Israel ingin memastikan kekuatan militer Arab (Irak) tidak mendominasi kawasan.
​Era Dingin dan Perang Bayangan (1990-an – Sekarang)
​Setelah perang dengan Irak berakhir alasan untuk bekerja sama secara rahasia pun hilang. Sejak 1990-an hingga hari ini, hubungan kedua negara memasuki fase permusuhan total yang dikenal sebagai "Proxy War" atau perang bayangan.
​Persaingan ini kini berpusat pada tiga isu utama:
​Program Nuklir: Israel memandang ambisi nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial.
​Jejaring Regional: Dukungan Iran terhadap kelompok seperti Hizbullah dan Hamas yang berbatasan langsung dengan Israel.
​Sabotase: Serangan siber, pembunuhan ilmuwan, dan serangan terhadap kapal-kapal di laut lepas.
Sejarah mencatat bahwa Iran dan Israel tidak terlahir sebagai musuh alami. Permusuhan mereka saat ini bukanlah warisan kuno, melainkan hasil dari pergeseran ideologi politik dan persaingan pengaruh di Timur Tengah. Dari rekan bisnis minyak hingga lawan di medan perang siber, perjalanan kedua negara ini adalah potret nyata bagaimana kepentingan nasional dapat menyatukan, namun ideologi dapat memisahkan secara tajam.