19/01/2024
Pertama-tama, Selamat ulang tahun Sartre, berapa hari lalu. Ini adalah teks yg seharusnya lahir tanggal 21 Juni (hmm seandainya Sartre lahir satu hari berikutnya, secara romantik kita memiliki zodiak yg sama, hehe). Tentu saja Sartre yg diam di surga sana tak peduli tulisan ini, tapi biarlah (di surga, karena baginya neraka adalah orang lain, atau mungkin dia justru bertemu Garcin, Inez & Estelle?)
Kedua, Selamat sore kamuuu ^^. Ups, bukan, yg kedua, kali ini sy tidak sedang menulis suatu miskuotasi atas Sartre (sebagaimana template biasa yg terilhami Dewan Kesepian Jakarta), atau setidaknya, ini bukan sekedar suatu miskuotasi, ini adalah suatu interpretasi, yup, miskuotasi adalah sebentuk interpretasi (/dekonstruksi?). Ini adalah upaya pelampauan atas interpretasi parsial atas Sartre.
Ketiga, kita sedang membicarakan konsepsi Cinta, sebagai salah satu perwujudan relasi interpersonal dalam lanskap filosofis Sartrean. Tanpa berpretensi untuk dapat menjawab pertanyaan "what does love means to you?"; Ini adalah suatu upaya penjabaran (yg teramat singkat dan miskin) atas cinta, cinta menurut Sartre (persisnya, bagaimana konsep ini lahir dan berkembang seturut balikan dan belokan filosofis Sartre, setidaknya ada tiga babak; anarkisme yg diwakili periode Nausea, eksistensialis yg diwakil periode L Étre et le Néant, dan marxis yg diwakili periode Critique de la Raison Dialectique (dan khususnya, tulisan posthumous, Notebooks for an Ethics)
"Hell is Other People", kalimat ini sesuai dengan kejujuran linguistik, seharusnya diterjemahkah menjadi "Neraka adalah Orang Lain", penerjemahannya menjadi "Orang lain adalah Neraka" merupakan suatu pengkhianatan linguistik. Dalam aspek ini, penambahan kalimat (kecuali kamu) akan membuat pasase ini nonsensikal. Nah begitulah batas dari kejujuran linguistik, suatu metode translasi yg dapat membatasi kekayaan makna. Destruksi, karenanya, merupakan preseden wajib bagi munculnya makna baru. Destruksi ini diabsahkan oleh penafian Sartre sendiri, pada pernyataan bahwa "Hell is Other People" mewakili posisi etis-ontologisnya. Suatu klaim yg diragukan jika kita hanya menilik korpus Sartrean pada periode Being and Nothingness dan sebelumnya. Hal ini yg akan dibuktikan sekarang.
Menolak pernyataan Heidegger, Sartre menyatakan, bahwa, alih-alih relasi interpersonal dalam being-in-the-world adalah Mittsein, relasi interpersonal dicirikan (atau bahkan didirikan) oleh konflik (suatu konsekuensi logis dari definisi Sartre atas kesadaran sbg Nothingness). Selain kita menemukan, dalam bentuk sastrawinya di Nausea (tentang bagaimana Roquentin menghayati relasinya dengan orang lain) kita menemukan, dalam Being and Nothingness (dalam bentuk filosofisnya) validasi konseptual-filosofis dari "Orang lain adalah neraka" ingat dengan paragraf ini?:
"Aku duduk di kursi sendiri . . . . . ." Ini adalah konsep Sartrean, The Look, dimana ia menerangkan bagaimana lahirnya aspek dari diri kita yg ia sebut "Being-for-Others" kemudian dalam contoh seseorang yg sedang mengintip melalui lubang kunci. Yang paling jelas, Sartre memberikan satu bab khusus untuk membahas relasi ini (concrete Relation with others). Dengan fakta ini, Sartre di suga sana tentu terdiam sejenak, sebelum dia akan mengucapkan, "Anoo, sumimasen-desu, dakedoooo..." Nah, inilah yg dimaksud sebelumnya. Suatu konsekuensi dari perkembangan filosofis, atau mungkin, balikkan Heideggerian Sartre (memeluk Mittsein)
Sebelum itu, kita harus memberi justifikasi atas penerjemahan kedua (Orang Lain adalah Neraka) nah, singkatnya Huis Clos (No Exit) adalah suatu sandiwara yg ditulis sartre atas permintaan tiga temannya, ..... Sandiwara dengan tokoh Garcin, Inez dan Estelle ini bertempat di Neraka, ya, Huis Clos ingin memberikan makna baru bagi neraka, alih-alih tempat penyiksaan dengan semua yg kita temui dalam korpus eskatologis secara umum, atau sebagaimana secara ilustratif digambarkan dalam komik fenomenal waktu ituz Siksa Kubur, Neraka bukanlah semua itu, Neraka itu adalah orang lain. Adalah bagaimana Garcin Inez dan Estelle berinteraksi, adalah cerminaan bagaimana manusia, secara umum, saling mengeksploitasi, berupaya mendominasi, saling bersaing dalam neraka dunia: KAPITALISME. Ini, adalah bagaimana sy memahami zeitgeist dari Being and Nothingness, alih-alih menyebutnya sebagai manifestasi Eksistensialisme Sartre, tidak lain ini adalah upaya filosofis Sartre untuk menggambarkan relasi manusia dalam kapitalisme.
Pada periode terakhir di mana Sartre merengkuh mittsein sebagai penciri dan pendiri relasi interpersonal, kita dapat menjustifikasi penambahan kalimat 'kecuali kamu, iya kamu'. Sebelumnya, kita telah memberi keabsahan pada pasase Orang Lain adalah Neraka, singkatnya, meskipun di satu sisi mengkhianati kejujuran linguistik, di sisi lain, justru ia konsisten dengan sejarah zeitgeist korpus Sartrean, dan juga merupakan konsekuensi eksistensialis dari pemikiran Sartre pada tahap paling akhir. Jika "Neraka adalah orang Lain" merupakan suatu frase yg mencoba mendekonstruksi makna neraka sebagaimana dipahami pada umumnya, "Orang Lain adalah Neraka" adalah penerapannya pada setting non-fiksi, pada level manusia pre-eskatologis; persisnya, "Orang Lain adalah Neraka" merupakan upaya penggambaran manusia pada level fenomenologis kita secara umum (kita sedang tidak tinggal di neraka, kita tinggal di dunia; dan apabila di dunia ini ada yg bisa disebut neraka, maka adalah orang lain). Jika penerjemahan pertama merupakan upaya menjelaskan definisi neraka, penerjemahan kedua merupakan upaya menjelaskan manusia, orang lain, les autres. Tentu saja, pemahaman semacam ini akan dianggap irelevan bagi kalangan analitik khususnya dalam aksioma identitas; A=A. (Orang Lain = Neraka) akan sama dengan (Neraka = Orang Lain). Yup, kita akan memahami perbedaan subtil ini dalam kerangka intuitif, bukan logis.
Terakhir, satu hal yg membedakan Sartre, dan para eksistensialis secara umum, adalah deskripsi fenomenologis dari teori mereka yg ndakik dan njlimet. Kita akan membahas bagaimana frase 'kecuali kamu' menjadi suatu dekonstruksi sekaligus deskripsi 'holistis' atas konsepsi Sartre mengenai cinta. Laiknya kalimat tahlil yg dimulai dengan menafikan (Tidak Ada Tuhan) kemudian diakhiri dengan afirmasi (Kecuali Allah), laiknya suatu dialektika yg berawal dari tesis kemudian antitesis, laiknya Zarathustra yg naik ke gunung kemudian turun untuk mengabarkan kematian Tuhan, laiknya Syekh Lemah Abang yg menuju ekstasi dan kembali dengan pengakuan bahwa 'Tuhan adalah Aku, Aku adalah Tuhan'. Penambahan frase ini merupakan apa yg disebut Sartre sebagai konversi, apa yg didapat setelah refleksi murni.
Tulisan ini dibuat di tengah-tengah perjalanan kondanhan sehingga tidak memiliki referensi yg jelas, karenanya, sumimasen-desu. Dan satu hal lagi, orang lain adalah neraka, kecuali kamu. Ya, ribuan notifikasi yg masuk di hapekuuu, hmmm, sungguh menyiksakuuuuu, aku hanya perlu satu notifikasi pesan dari kamu untuk merubah siksaan ini menjadi suatu kebahagiaan. Kamu yg di sana, aku rindu kamuu, hehe. Itu merupakan salah satu deskripsi fenomenologis dari konsep ini. Yup, demikian posting hari ini. Semoga kita semua bahagia Kamerad!!!
(A)dmin
Tunas Gibin