Kyai Kampung

Kyai Kampung Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Kyai Kampung, Grocers, Yogyakarta City.

06/03/2025

🛍 SARUNG MENTERI AGAMA 🛍

(Buku Catatan Seorang Santri Henry Sutopo)

Saat Usia sekitar 22 Tahun... habis Sholat Ashar di bulan Ramadhan...saya dipanggil Mbah Kyai Ali Maksum... dapat dhawuh perintah untuk menggantikan Beliau menjadi Imam dan Ceramah Sholat Taroweh di rumah Prof KH Mukti Ali (mantan Menteri Agama) belakang RS Panti Rapih Yogyakarta.

Saya grogi bingung mau jawab gimana... Tapi karena itu perintah Kyai, saya cuma menjawab : Nggih insya Allah! ".

Saya berfikir... perintah itu tentu ada maksud dan sudah dipertimbangkan oleh Mbah Kyai... langsung saya teringat Beliau pernah menjelaskan bahwa mencari Ilmu itu ada dua jalan : Pertama dengan cara bil istifaadah...mengambil faedah dari orang lain, dan yang Kedua... bil ifaadah.. memberi faedah (mengajar) kepada orang lain.. (Imam Hanafi).

Mungkin dalam konteks yang Kedua itulah perintah itu diberikan kepada saya ... Agar saya tetap belajar tapi sambil mengajar.

Malamnya habis Maghrib saya dijemput pakai Mobil melaksanakan perintah itu dengan full grogi dan gemetar pol polan. Di dalam Mobil mulutku tidak berhenti berdoa, dari doa Robbisyrokhli sodry... baca sholawat pokoknya semua doa saya baca... paling yang tidak kubaca cuma doa Allohumma inni a'uudzubika minal khubutsi wal khobaaits.

Alkhamdulillah...akhirnya semua berjalan lancar dan p**angnya oleh Ibu Mukti Ali saya diberi dua Tas bingkisan yang antara lain berisi Sebuah Sarung Samarinda Asli, bahkan ada tulisannya... MENTERI AGAMA.

Sarung itu saya anggap sebagai Jimat yang berharga... seumur umur belum pernah punya sarung sebagus itu... ditambah nilai monumentalnya karena yang mengasih adalah Menteri Agama.

Saking sayangnya dengan sarung itu...saya hanya pakai setahun dua kali... Untuk Sholat Idul fitri dan Idul adha. Itu saja sehabis untuk Sholat segera masuk almari simpanan.

Dua tahun kemudian... Di bulan puasa p**a, ada Saudaraku (Paman) datang ke rumah minta Sarung kepadaku, karena ia tahu kalau menjelang Lebaran biasanya dapat bingkisan sarung baru yang banyak.

Saat mau ambilkan sarung untuk Paman... Tiba-tiba saya ingat ayat :

لن تنالوا البر حتى تتفقوا مما تحبون./ال عمران ٩٢

Kamu sekali kali tidak sampai (dianggap) melakukan kebajikan (yang sempurna) sehingga kamu mau memberikan sesuatu yang kamu cintai ... Ali 'Imran 92.

Saya termangu melihat beberapa sarung baru yang mau saya kasihkan ... Jujur banyak pilihannya...tapi yang paling kucintai ya sarung Menteri Agama itu... Kecuali paling bagus, paling mahal, juga paling monumental menurutku.

Antara ragu, eman-eman , dan tidak ikhlas campur aduk jadi satu... Namun mengingat ayat di atas yang saya juga sering baca dan menjadi bahan ceramah...Terbayang resiko di akhirat , ketika orang ngomong tapi ia sendiri tidak melakukan, maka lidah akan ia potongi sendiri pakai gunting besi yang berkarat... *Laa yufattaru 'anhum*... Alias terus menerus.

Itu resiko Muballig Penceramah termasuk Kyai... *Kaburo maqtan... Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa apa yang tiada kamu kerjakan*... Ash Shaff 3.

Mengingat resiko di atas.. Akhirnya sarung Menteri Agama itu saya bungkus koran dan dengan berat hati saya serahkan ke Paman.
Sebenarnya saya berharap begitu diterima Paman segera pamit...agar tidak kelamaan hatiku bergelut dengan rasa masih sayang dan setengah terpaksa.

Celakanya Paman malah ngajak ngobrol sambil membuka bungkusan sarung itu... Begitu melihat isi bungkusan langsung mata Paman terbelalak, sambil merentangkan sarung di depanku... :"Wow...sarung kok bagus sekali!.. Apa tidak keliru kok dikasihkan aku?".

Cepat kujawab:"Tidak Man... Dah dipakai aja!". Saya ngomong cuma di mulut, hati sebenarnya kurang ikhlas.
Bahkan Paman malah bilang :"Haa...ini ada tulisan Menteri Agama... beneran nggak keliru ini?".
:"Beneran Man dah silahkan bawa p**ang..!".saya setengah mengusir.

Paman : Wah... Makasih banget syukron-syukron... semoga kamu dapat ganti yang lebih baik! ".
Batinku nyaut :" Nggak bakal terkabul doamu Paman! ".

Akhirnya Paman pamit sambil senyam senyum mendekap bungkusan sarung di dadanya...
Sedangkan saya mengantarkan sampai di halaman sambil ngelus-elus dada sendiri setengah bergumam :Ikhlas... Ikhlas.. Ikhlaaaaaas... Sampai Paman tidak terlihat.

Saya sebenarnya tahu... Bahwa memberikan sesuatu yang *terbaik* itu hukumnya tidak wajib...semisal ada kegiatan bakti sosial... Kemudian ada pengump**an pakaian *Pantas Pakai*... Bukan berarti yang ikut mengumpulkan tidak mendapat pahala dan yang dikumpulkan adalah harus *pakaian yang terbaik*... Namun itulah kebajikan yang paling baik.

Ketika *Sarung terbaik* yang saya punya sudah saya berikan kepada orang lain... Juga bukan berarti saya telah melakukan KEBAIKAN yang pasti berpahala... Karena jujur belum ada keikhlasan hati yang penuh di sana.

Namun saya tidak berfikir dalam... Apakah yang saya lakukan ini dapat pahala atau tidak... Yang penting saya sudah pernah melakukannya walau kurang ikhlas...mending daripada membaca tulisan ini kemudian faham maksudnya tapi seumur hidup belum pernah mencoba mengamalkan...Maaf guyon!.

🖋️📚📚📚📚

NEGERI OPLOSANPenulis : Henry Sutopo Alquran adalah Petunjuk paling terpercaya lengkap dan pasti benar.QS Albaqoroh 42 و...
28/02/2025

NEGERI OPLOSAN

Penulis : Henry Sutopo

Alquran adalah Petunjuk paling terpercaya lengkap dan pasti benar.

QS Albaqoroh 42

ولا تلبسوا الحق بالباطل وتكتموا الحق وانتم تعلمون.
Dan janganlah kamu mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan jangan kamu sembunyikan kebenaran sedang kamu mengetahui.

Di luar Tafsir Ayat tersebut bermakna bahwa segala sesuatu harus ditunjukkan sesuai aslinya tidak boleh dicampur aduk atau dioplos.

Negara Indonesia dengan jumlah terbanyak umat islamnya di Dunia dikenal sebagai Bangsa Ahli Meng oplos.

Apa saja yang ada di Negeri Indonesia bisa dioplos untuk nilai tambah dan keuntungan mulai dari Beras Oplosan sampai Pertamax Oplosan.

Tukang Oplosan sebenarnya sudah tahu bahwa tindakan meng oplos adalah kejahatan kecuali mengoplos Cat agar muncul warna sesuai keinginan atau Penjual Es Buah mengoplos irisan aneka Buah dengan Sirup dan Es agar menjadi Minuman Segar.

Saking hobinya dengan serba oplosan Orang Indonesia ada yang keseharian harus tergantung dengan Minuman OPLOSAN.

Di Indonesia banyak Undang2 yang dibuat oleh Wakil Rakyat bukan murni untuk kepentingan Rakyat tetapi hasil Oplosan dengan kepentingan Oligarki pemilik Modal tentunya yang dirugikan adalah Rakyat tetapi Wakilnya tidak peduli yang penting dapat Cuan dari yang nitip Oplosan Undang2 tersebut.

Fitrah Manusia diciptakan oleh Tuhan YME dengan hati dan pikiran bersih tetapi karena dioplos dengan hati pikiran Syetan maka muncullah Koruptor yang sangat merugikan Rakyat.

Tidak terbayangkan...para Koruptor Pengoplos Pertamax yang merugikan Negara Ratusan Triliun besok di Neraka akan dibakar di atas Lautan Pertamax Oplosan yang panasnya dilipat gandakan.

Ya Allah ampunilah Dosa mereka...berilah kesadaran mereka untuk mengembalikan Uang hasil Korupsi...berilah mereka keberanian untuk mengatakan bahwa Uang hasil korupsi itu sebagian untuk Beaya Pilpres jika memang benar.

Ya Allah... Jadikanlah Negeri yang Merdeka karena Rahmat Mu ini Negeri yang penuh Berkah dan Maghfiroh bukan Negeri Oplosan...

Krapyak 1 Romadhon 1446 Hijriah.

ZAMAN EDAN(Buku Catatan Seorang Santri henry sutopo Edisi Terbaru Tahun 2025) Penggalan Syair Jawa yang ditulis oleh Puj...
26/02/2025

ZAMAN EDAN

(Buku Catatan Seorang Santri henry sutopo Edisi Terbaru Tahun 2025)

Penggalan Syair Jawa yang ditulis oleh Pujangga Kraton Surakarta Ronggo Warsito Abad 19 berbunyi *Saiki Zamane Zaman Edan yen ora melu Edan ora keduman* Zamannya sudah Zaman Gila siapa yang tidak ikut gila tidak akan kebagian...

Gambaran syair itu sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi termasuk di Negara kita Indonesia.

Edan itu berfikir dan bertindak semau sendiri tanpa ada pertimbangan apakah hal itu merugikan orang lain yang penting happy keinginan tercapai.

Korupsi Mark up anggaran dsb dianggap sesuatu yang lumrah terjadi hampir di semua lini instansi dan bagi yang tidak ikutan tidak akan dapat apa2.

Jika sudah sampai pada titik keinginan nafsu harus dituruti maka jurus edan akan dilakukan atas nama legitimasi banyak orang yang melakukan.

Syair diatas lanjutannya: *Sak beja2 ne wong kang edan isih Bejo wong kang eling lan waspada* (seberuntungnya Orang yang gila masih beruntung orang yang ingat dan waspada).

Sebenarnya bagi Orang yang kuat Iman pepatah *Melu Edan* itu tidak berlaku karena Rasulullah SAW bersabda :

بدا الإسلام غريبا وسيعود كما بدا غريبا فطوبى للغرباء/رواه مسلم

Islam itu mula2 dianggap asing dan akan kembali asing seperti semula...maka berbahagialah Orang2 yang terasing /HR Muslim.

Artinya ketika lingkungan sudah gila dan rusak kita tidak perlu larut dan ikutan Gila walaupun jadi terasing.

Malaikat Roqib dan Atid itu melakukan waskat 24 Jam dimanapun dan kapanpun manusia berada...bagi Hamba yang Beriman CCTV Alloh SWT itu terpasang di setiap sudut manusia hidup dan semuanya besok akan terpampang nyata untuk mendapatkan balasan...

فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره.../ الزلزلة 7-8

Barangsiapa melakukan kebaikan sebesar dzarroh maka ia akan melihat (balasan) pahalanya dan barangsiapa melakukan kejelekan seberat dzarroh maka akan melihat (balasan) Siksanya... Az zalzalah 7-8

Jika ada yang membaca Tulisan ini tetapi tetap melakukan Korupsi dan tindakan maksiat lainnya dengan dalih itu dianggap lumrah karena banyak yang melakukan berarti dia perlu dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena GILA BENERAN...

Krapyak 9 Oktober 2023

KYAI TIDAK BOLEH NGAJIPenulis : henry sutopo Entah apa maksudnya di Tahun 80 an Era kejayaan Orde Baru Para Kyai dibatas...
16/02/2025

KYAI TIDAK BOLEH NGAJI

Penulis : henry sutopo

Entah apa maksudnya di Tahun 80 an Era kejayaan Orde Baru Para Kyai dibatasi kiprahnya Ngaji terutama jika keluar Kabupaten yang bukan Wilayahnya.

Saya KTP Bantul jika mau Ngaji di luar Bantul harus membawa Surat Rekomendasi yang dikeluarkan Kemenag dan minta Stempel ke Kodim dan Polres sambil menyodorkan Resume Materi Pengajian yang mau disampaikan.

Adalah Mbah Kyai Mabarun Bantul dan Mbah Kyai Asyhari Abta yang mengalami larangan Naik Panggung Ngaji oleh Muspika setempat padahal sudah hadir di Lokasi..Mbah Kyai Mabarun peristiwanya di Gunungkidul dan Mbah Kyai Asyhari Abta tidak boleh naik Panggung di Kulon Progo.

Peristiwa Mbah Kyai Mabarun di Gunungkidul mengusik jiwa Jiwa Jihad saya sebagai Seorang Santri membayangkan Seorang Mbah Kyai Mabarun jauh2 naik Honda S 90 Z diusir tidak boleh Ngaji...Panitia setempat yang Pro Kyai termasuk Pak Dukuhnya saya datangi dan saya minta untuk Ngundang saya Ngaji di lokasi Mbah Kyai Mabarun di larang naik Panggung.

Skenario berjalan tiba saatnya Hari H saya berangkat dengan adik naik Sepeda motor ke Gunungkidul jarak kurang lebih 50 KM dari Krapyak.

Untuk nambah semangat dan Percaya diri saya pinjam Jaket Tentara punya tetangga sambil berkalung serban Ala Yasser Arafat Pemimpin Gerilyawan Palestina...selama perjalanan saya baca Doa Wirid Khizib menghadapi musuh yang saya hafal.

Tiba di Lokasi Pengajian langsung menuju rumah Bpk Kepala Dukuh ternyata saya sudah ditunggu Trio Muspika yakni Pak Camat Pak Kapolsek dan Pak Danramil dengan Seragam Dinas masing2.

Begitu masuk Ruangan dengan Tensi tinggi hampir meledak Mereka saya ajak Salaman Tangannya saya remas kuat sambil membaca Ayat Summun bukmun umyun fahum la yarji'uun agak keras.

Mereka bertiga mentalnya agak down kena shock terapy melihat Penampilan saya dan bacaan doa menaklukkan Anjing menggonggong yang saya baca ...😆

Tidak banyak basa basi di depan mereka bertiga saya memperkenalkan diri sebagai Seorang Dai yang berwatak Gali Preman bahwa saya tidak segan2 akan menghajar bila perlu membunuh Orang yang menghalangi saya Dakwah tanpa takut dihukum.

Allohu Akbar...gertakan saya menjadikan Pak Camat yang membawa Stofmap memasukkan Stopmapnya di bawah meja sambil berbisik kepada Pak Dukuh agar saya diantar menuju Panggung Majlis utk naik mimbar.

Di Mimbar saya ber api2 Pidato bahwa Orang yang Anti Pengajian harus diusir dari NKRI dengan Dalil lagu Indonesia Raya bait... *Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya*

Saya terangkan makna Bangunlah jiwanya itu termasuk Ngaji harus didahulukan dari pada Pembangunan Fisik.

Muspika yang ikut dengarkan Ceramah saya cengar cengir dilihat Orang Banyak yang Hadir.

Alhamdulillah setelah Peristiwa itu Majlis Pengajian lancar tidak ada kendala bahkan di Wilayah tersebut sekarang berdiri Cabang Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Seminggu Peristiwa tersebut saya ketemu Mbah Kyai Mabarun sambil cerita bahwa Arogansi Muspika yang ngusir Beliau sudah saya balas.

Mbah Kyai Mabarun cuma komentar :" Matur nuwun sayang aku tidak bisa Acting berlagak Preman kayak kamu!".

Krapyak 16 Pebruari 2025

PANGGUNG KRAPYAK DAN SUMBU FILOSOFIPenulis: Henry SutopoCerita atau Tulisan Sejarah bukanlah Sebuah Kebenaran Mutlak yan...
29/01/2025

PANGGUNG KRAPYAK DAN SUMBU FILOSOFI

Penulis: Henry Sutopo

Cerita atau Tulisan Sejarah bukanlah Sebuah Kebenaran Mutlak yang tidak bisa dibantah kecuali ada Fakta Objektif dan Data Valid atau tertulis di Kitab Suci.

Sebuah Filosofi Sejarah sangat mungkin untuk multi Tafsir/ dibelokkan bahkan bisa dihilangkan tergantung kepada Siapa Penulisnya atau Siapa yang berkuasa dengan motivasi tertentu.

Filosofi adalah Hasil Pemikiran untuk mencari kebenaran yang bersifat SPEKULATIF atau PEREKAAN demikian Kata Plato Filosof Yunani Kuno.

Sedang Imajinasi adalah Daya pikir KHAYALAN atau PENGGAMBARAN PIKIRAN Seseorang terhadap Sesuatu yang ada baik kebendaan maupun Cerita sehingga NILAI KEBENARANNYA lemah secara Ilmiah.

Dari beberapa Sumber yang ada dan sudah beredar umum Panggung Krapyak adalah Bagian dari SUMBU FILOSOFI yang terbentang dalam GARIS IMAJINER antara Laut Selatan - Panggung Krapyak - Kraton - Tugu dan Gunung Merapi yang saat ini sudah diakui UNESCO Sebagai Salah satu WARISAN BUDAYA DUNIA.

Panggung Krapyak Filosofinya adalah Awal sangkan paraning dumadi yang digambarkan sebagai Yoni/ RAHIM alat Kelamin Perempuan sedang Tugu adalah Lingga/alat Kelamin Lelaki.

Panggung Krapyak dimaknai Yoni/Rahim karena ada Pohon Asem di Sekitarnya dan adanya Kampung Mijen yang bermakna Wiji Benih dan seterusnya.

Penulis berpendapat Filosofi Makna Perekaan Panggung Krapyak dan Tugu sebagai Lingga Yoni adalah FILOSOFI JANGGAL dan tidak kuat dengan alasan :

1. Panggung Krapyak dibangun pada Abad 18 oleh Hamengku Buwono I yang Bergelar Ngarsa Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Abdurrohman Sayyidin Panatagama Kholifatulloh Ingkang Jumeneng Kaping Setunggal ing Ngayojokarto Hadiningrat (1755 - 1792 M).

2. Konsep Dasar Sultan HB I dalam membangun Kraton adalah Hamemayu Hayuning Bawono (membuat lingkungan Alam yang Asri Indah).

3. HB 1 mempunyai Guru Ngaji bernama Kyai Muhammad Fakih/Kyai Welit/Kyai Seda Laut yang Tinggal di Wonokromo Pleret Bantul sebelah Selatan Kraton (sekarang Masjid Pathok Negara Wonokromo).

4. Dalam beberapa Literatur termasuk Serat Cebolek RM Sujana/HB 1 disamping Arsitek handal/ cakap dalam Olah kanuragan juga Ahli Ibadah Sholat lima waktu/Puasa Senin kamis dan membaca Alquran.

5. Sejak HB 1 bertahta di Kraton sudah ada Pusaka yang dikeramatkan yaitu Kyai Tunggul Wulung berwujud Bendera Kain dari KISWAH KA'BAH berisi Tulisan Syahadat /Asmaul Husna/Surat Al Kautsar ditambah Pusaka Bendera lain Berwarna Hijau yang bertulisan Arab.

Dari Lima Poin di atas dapat disimpulkan bahwa HB 1 adalah Raja yang sangat Agamis menjunjung tinggi nilai luhur sehingga yang jauh dari kemungkinan membuat Panggung Krapyak dan Tugu sebagai Simbol *Alat Kelamin*.

Lingga - Yoni adalah peninggalan Peradaban Hindu sedangkan Panggung Krapyak dibangun setelah Berdirinya MATARAM ISLAM selang hampir Dua Abad (1586 M - 1755 M).

Panggung Krapyak secara Fisik penampakannya jauh dari Penggambaran YONI seperti yang ada di beberapa Situs Candi Hindu kecuali Hasil Imajinasi yang menabrak Rasionalitas dan Nilai-nilai Sejarah yang Kredibel.

Demikian p**a Penulis anggap janggal jika Filosofi Kehidupan Kraton Jogja berawal dari arah Selatan ke Utara dibuktikan dengan adanya Plengkung Gading/Nirbaya sebagai Satu2 nya Tempat Keluar Jenazah Raja yang mangkat sejak Kerajaan Mataram untuk menuju Astana Kasuwargan Pajimatan Imogiri Makam HB 1 di arah Selatan Kraton.

Bahwa HB 1 membangun Panggung Krapyak adalah di ilhami dari Bangunan Ka'bah sedang Tugu adalah Alif Mutakallim Wahdah yakni Tuhan yang Maha Esa sebagai Sumber Awal kehidupan Sangkan Paraning Dumadi.

Pada masanya HB 1 sangat arif dengan Alam Bawono bahwasanya Air adalah Sumber Kehidupan yang di Wilayah Kraton Ngayojokarto Hadiningrat mengalir dari Arah Utara (Gunung Merapi) ke Selatan (Laut Kidul).

Sehingga arah Sumbu Filosofi kehidupan adalah dari Utara ke selatan bukan sebaliknya.

Panggung Krapyak Ilham dari Bangunan Ka'bah disamping berfungsi sebagai Benteng/Tempat Istirahat Raja Berburu Menjangan/Tempat Meditasi Raja menghadap Gunung Merapi juga Sebagai Simbol Tujuan serta Tugas Hidup Manusia (Wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya'buduuni).

Panggung Krapyak bentuk mirip Ka'bah dengan EMPAT PINTU yang saling berhubungan adalah lambang Manunggaling Kawulo lan Gusti tanpa sekat bersifat Kosmopolit Universal.

Realita yang ada saat ini di sekitar Panggung Krapyak adalah Komplek Pondok Pesantren yang siang malam para Santri lewat bahkan tinggal berdiam di sekitar Panggung Krapyak.

Simbah Kyai Munawwir yang masih Keluarga Kraton dulu membuka Pesantren di dekat Panggung Krapyak tentu juga dengan pertimbangan khusus bahkan saat ini Beberapa Logo Yayasan di Pesantren Krapyak memakai Background Panggung Krapyak yang Versi mereka dilambangkan Yoni/Kelamin Perempuan...sungguh terlalu menyesatkan!...

Pembelokan makna Sejarah dari aslinya adalah hal yang lumrah apalagi dilakukan dengan sengaja oleh Orang yang tidak takut dengan KUWALAT.

PENUTUP :

Revitalisasi Panggung Krapyak dengan segala Permasalahannya diharapkan membawa dampak positif di segala bidang dan tetap menghargai kearifan lokal salah satu contohnya ada aturan bagi Wisatawan baik asing maupun domestik untuk berpakaian Sopan seperti yang diberlakukan di Pesarean Para Raja Imogiri Bantul.

Krapyak Kulon RT 05 Senin pagi 30 Oktober 2023.

DIANGGAP ORANG ALIMPenulis : Ibnu Asyrofi. Ada Ungkapanلا يعرف اهل الفضل إلا أهلها...Tidak akan tahu kelebihan Seseorang...
21/12/2024

DIANGGAP ORANG ALIM

Penulis : Ibnu Asyrofi.

Ada Ungkapan
لا يعرف اهل الفضل إلا أهلها...
Tidak akan tahu kelebihan Seseorang kecuali Orang yang punya kelebihan.

Saya bukan Orang yang punya kelebihan apalagi Ahlul Ilmi namun punya kegelisahan melihat kehidupan Umat Islam terutama di kalangan Awam.

Banyak Orang Awam begitu mudah menganggap Seseorang Sebagai Tokoh Agama atau Orang Alim dan menjadi Panutan kemudian dipanggil Kyai, Abah, Gus, Habib dsb padahal Orang tersebut Realitas Keilmuan dan kehidupan se hari2 kurang tepat dengan Anggapan tersebut.

Rasulullah SAW bersabda :
ان الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء فاتخذ الناس رءوسا جهالا...الحديث /خ

Sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan Ilmu dengan mencabutnya dari Manusia tetapi dengan meninggalnya Para Ulama kemudian Manusia akan mengangkat Para Pemuka Agama yang Bodoh, jika ditanya mereka akan berfatwa tanpa Dasar Ilmu maka mereka akan tersesat dan menyesatkan (HR Bukhori).

Sekarang ini muncul Orang orang yang tidak punya Background Pesantren asalnya tidak dikenal Sebagai Tokoh Agama lantas menjadi terkenal Viral banyak Pengikut kemudian dianggap Orang Alim.

Tidak menafikan jika Allah SWT berkehendak menjadikan Orang Biasa lantas lewat AnugerahNya memberi Karunia Ilmu Laduni sehingga Orang tersebut mendadak jadi Alim.

Tetapi Standarisasi Umum yang dianggap Orang Alim adalah Orang yang pernah mondok di Pesantren punya Guru yang bersanad minimal bisa Baca Alquran dengan baik dan benar Faham Ilmu Tauhid, Feqih, Tasawuf... syukur faham Nahwu Shorof bisa baca Kitab Gundul walau tidak menjadi syarat mutlak.

Tetapi yang muncul saat ini adalah Orang tidak punya Standar di atas hanya karena Branding tertentu misal bisa Sholawatan atau Framing numpang Keramat Kuburan ditambah banyak Hafalan Doa berdandan Agamis kemudian dianggap Orang Alim yang penuh berkah.

Dalam Konteks Dakwah Siapapun berkewajiban melakukan sesuai dengan kemampuan masing2 tidak harus Orang Alim bahkan Rasulullah SAW bersabda :
بلغوا عني ولو أية...
Sampaikanlan dariku walau Satu Ayat...namun jangan dimaknai Sampaikanlan dariku CUKUP SATU AYAT.

Maaf... Saya tidak bisa meneruskan Tulisan ini karena bingung sendiri mau nulis apa lagi?

Krapyak 20 Desember 2024

THORIQOH KOK RIBUTPenulis : Santri Krapyak.Orang Awam menganggap Jamaah Thoriqoh adalah Kump**an Orang2  Khusyu' dan Ikh...
18/12/2024

THORIQOH KOK RIBUT

Penulis : Santri Krapyak.

Orang Awam menganggap Jamaah Thoriqoh adalah Kump**an Orang2 Khusyu' dan Ikhlas lahir batin yang sedang menempuh Jalan untuk mendekat kepada Allah SWT.

Salah satu Ta'rif Ikhlas adalah :

افراد الحق عن ملاحظة
المخلوقين...

*Menyendirikan (hanya karena) Allah menyampingkan perhatian Makhluk*.

Berarti Aslinya Orang berthoriqoh baik yang Mu'tabaroh maupun Ghoiru Mu' tabaroh hanya tertuju Kepada Allah SWT tidak perlu Legalitas Keduniaan, tidak peduli tidak punya Pengikut, tidak ambisi Kekuasaan dan TIDAK2 yang lain.

Warga NU dalam berthoriqoh mengikuti Thoriqoh Mu'tabaroh yang bersanad nyambung kepada Rasulullah SAW kredibel lolos Tes DNA tanpa Perdebatan.

Kalau kemudian muncul keributan dalam Jamaah Thoriqoh hanya masalah Kepengurusan dan Legalitas Dunyawiyyah apakah nanti akan muncul aliran Thoriqoh Baru yaitu THORIQOH RIBUTIYYAH?

18 Desember 2024



*Gambar hanya pemanis

*MANAQIB KH. M. MUNAWWIR PENDIRI PONDOK PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA*Manaqib ini berisi tentang:1. Nasab2. Masa Belajar3...
09/12/2024

*MANAQIB KH. M. MUNAWWIR PENDIRI PONDOK PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA*

Manaqib ini berisi tentang:

1. Nasab
2. Masa Belajar
3. Akhlaq
4. Da’wah
5. Karomah
6. Maqolah
7. Wafat dan Penerus Beliau

*1. Nasab KH. M. Munawwir*

Simbah KH. M. Munawwir adalah putra KH. Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashari.

Dahulu, ada seorang ulama pejuang, KH. Hasan Bashari namanya, atau yang lebih dikenal dengan nama Kyai Hasan Besari ajudan Pangeran Diponegoro. Beliau sangat ingin menghafalkan Kitab Suci al-Quran namun terasa berat setelah mencobanya berkali-kali.

Akhirnya beliau melakukan Riyadhah dan bermujahadah, hingga suatu saat Allah S.W.T mengilhamkan bahwa apa yang dicita-citakan itu baru akan dikaruniakan kepada keturunannya.

Begitu p**a anak beliau, KH. Abdullah Rosyad, selama 9 tahun riyadhah menghafalkan al-Quran, ketika berada di Tanah Suci Makkah, beliau mendapat ilham bahwa yang akan dianugerahi hafal al-Quran adalah anak-cucunya.

KH. Abdullah Rosyad dikaruniai 11 orang anak dari 4 orang istri, salah satunya adalah KH. M. Munawwir yang merupakan buah pernikahan beliau dengan Nyai Khadijah (Bantul).

*2. Masa Belajar KH. M. Munawwir*

Guru pertama beliau adalah Ayah beliau sendiri. Sebagai targhib (penyemangat) nderes al-Quran, Sang Ayah memberikan hadiah sebesar Rp 2,50 jika dalam tempo satu minggu dapat mengkhatamkannya sekali. Ternyata hal ini terlaksana dengan baik, bahkan terus berlangsung sekalipun hadiah tak diberikan lagi.

KH. M. Munawwir tidak hanya belajar qira’at (bacaan) dan menghafal al-Quran, tetapi juga ilmu-ilmu lain yang beliau timba dari para ulama di masa itu, diantaranya :

• KH. Abdullah (Kanggotan – Bantul)
• KH. Chalil (Bangkalan – Madura)
• KH. Shalih (Darat – Semarang)
• KH. Abdurrahman (Watucongol – Magelang)

Setelah itu, pada tahun 1888 M. beliau melanjutkan pengajian al-Quran serta pengembaraan menimba ilmu ke Haramain (dua Tanah Suci), baik di Makkah al-Mukarramah maupun di Madinah al-Munawwarah.

Adapun Guru-guru beliau di sana antara lain :

• Syaikh Abdullah Sanqara
• Syaikh Syarbini
• Syaikh Mukri
• Syaikh Ibrahim Huzaimi
• Syaikh Manshur
• Syaikh Abdus Syakur
• Syaikh Mushthafa
• Syaikh Yusuf Hajar (Guru beliau dalam qira’ah sab’ah)

Pernah dalam suatu perjalanan dari Makkah ke Madinah, tepatnya di Rabigh, beliau berjumpa dengan seorang tua yang tidak beliau kenal. Pak Tua mengajak berjabat tangan, lantas beliau minta didoakan agar menjadi seorang hafidz al-Quran sejati.

Lalu Pak Tua menjawab :
“Insyaa-Allah.”

Menurut KH. Arwani Amin (Kudus), orang tua itu adalah Nabiyullah Khadhir As.

KH. M. Munawwir ahli dalam qira’ah sab’ah (7 bacaan al-Quran). Dan salah satunya adalah qira’ah Imam ‘Ashim riwayat Imam Hafsh.

Berikut inilah Sanad Qira’ah Imam ‘Ashim riwayat Hafsh KH. M. Munawwir sampai kepada Nabi Muhammad S.A.W yaitu dari :

1) Syaikh Abdulkarim bin Umar al-Badri ad-Dimyathi, dari
2) Syaikh Isma’il, dari
3) Syaikh Ahmad ar-Rasyidi, dari
4) Syaikh Mushthafa bin Abdurrahman al-Azmiri, dari
5) Syaikh Hijaziy, dari
6) Syaikh Ali bin Sulaiman al-Manshuriy, dari
7) Syaikh Sulthan al-Muzahiy, dari
8) Syaikh Saifuddin bin ‘Athaillah al-Fadhaliy, dari
9) Syaikh Tahazah al-Yamani, dari
10) Syaikh Namruddin ath-Thablawiy, dari
11) Syaikh Zakariyya al-Anshari, dari
12) Syaikh Ahmad al-Asyuthi, dari
13) Syaikh Muhammad ibn al-Jazariy, dari
14) Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Khaliq al-Mishri asy-Syafi’i, dari
15) Al-Imam Abi al-Hasan bin asy-Syuja’ bin Salim bin Ali bin Musa al-‘Abbasi al-Mishri, dari
16) Al-Imam Abi Qasim asy-Syathibi, dari
17) Al-Imam Abi al-Hasan bin Huzail, dari
18) Ibnu Dawud Sulaiman bin Najjah, dari
19) Al-Hafidz Abi ‘Amr ad-Daniy, dari
20) Abi al-Hasan ath-Thahir, dari
21) Syaikh Abi al-‘Abbas al-Asynawiy, dari
22) ‘Ubaid ibnu ash-Shabbagh, dari
23) Al-Imam Hafsh, dari
24) Al-Imam ‘Ashim, dari
25) Abdurrahman as-Salma, dari
26) Sadatina Utsman bin ‘Affan, ‘Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, ‘Ali bin Abi Thalib, dari
27) Rasulullah Muhammad S.A.W dari
28) Robbul ‘Alamin Allah S.W.T dengan perantaraan Malaikat Jibril As.

Beliau menekuni al-Quran dengan Riyadhah, yakni sekali khatam dalam 7 hari 7 malam selama 3 tahun, lalu sekali khatam dalam 3 hari 3 malam selama 3 tahun, lalu sekali khatam dalam sehari semalam selama 3 tahun, dan terakhir adalah riyadhah membaca al-Quran selama 40 hari tanpa henti hingga mulut beliau berdarah karenanya.

Setelah 21 tahun menimba ilmu di Tanah Suci, beliau pun kembali ke kediaman beliau di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1909 M.

*3. Akhlaq KH. M. Munawwir*

KH. M. Munawwir selalu memilih awal waktu untuk menunaikan shalat, lengkap dengan shalat sunnah Rawatibnya. Shalat Witir beliau tunaikan 11 raka’at dengan hafalan al-Quran sebagai bacaannya. Begitu juga dalam mudawamah beliau terhadap shalat Isyroq (setelah terbit matahari), shalat Dhuha dan shalat Tahajjud.

Beliau mewiridkan al-Quran tiap ba’da Ashar dan ba’da Shubuh. Walau sudah hafal, seringkali beliau tetap menggunakan Mushaf. Bahkan kemanapun beliau bepergian, baik berjalan kaki maupun berkendara, wirid al-Quran tetap terjaga. Beliau mengkhatamkan al-Quran sekali tiap satu minggu, yakni pada hari Kamis sore. Demikianlah beliau mewiridkan al-Quran semenjak berusia 15 tahun.

Waktu siang beliau lewatkan dengan mengajarkan al-Quran, dan di waktu senggang beliau masuk ke dalam kamar khusus (dahulu terletak di sebelah utara Masjid) untuk bertawajjuh kepada Allah S.W.T. Sedangkan di malam hari beliau istirahat secara bergilir di antara istri-istri dengan demikian adilnya.

Beliau memiliki 5 orang istri, adapun istri kelima, dinikahi setelah wafatnya istri pertama, yakni :

1. Nyai R.A. Mursyidah (Kraton Yogyakarta)
2. Nyai Hj. Sukis (Wates Yogyakarta)
3. Nyai Salimah (Wonokromo Yogyakarta)
4. Nyai Rumiyah (Jombang – Jawa Timur)
5. Nyai Khadijah (Kanggotan – Yogyakarta)

Begitulah KH. M. Munawwir hidup beserta keluarga di tengah ketenangan, kerukunan, istiqamah dan wibawa, dengan berkah al-Quran al-Karim.

Orang hafal al-Quran (Hafidz) yang beliau akui adalah orang yang bertakwa kepada Allah, dan shalat Tarawih dengan hafalan al-Quran sebagai bacaannya.

Begitu besar pengagungan beliau terhadap al-Quran, sampai-sampai undangan Haflah Khatmil Quran hanya beliau sampaikan kepada mereka yang jika memegang Mushaf al-Quran selalu dalam keadaan suci dari hadats.

Pernah terjadi seorang santri asal Kotagede dengan sengaja memegang Mushaf al-Quran dalam keadaan hadats. Setelah diusut oleh KH. M. Munawwir, akhirnya santri tersebut mengakuinya.

Atas pengakuannya, si santri dita’zir, kemudian dikeluarkan dari Pesantren dalam keadaan sudah menghafalkan al-Quran 23,5 juz.

Setiap setengah bulan sekali beliau memotong rambut. Juga tak pernah diketahui membuka tutup kepala, selalu tertutup, baik itu dengan kopyah atau sorban maupun keduanya. Menggunting kuku selalu beliau lakukan tiap hari Jum’at.

Pakaian beliau sederhana namun sempurna untuk melakukan ibadah, rapi dan bersetrika. Jubah, sarung, sorban, kopyah dan tasbih selalu tersedia.

Pakaian dinas Kraton Yogyakarta selalu beliau kenakan ketika menghadiri acara-acara resmi Kraton. Untuk bepergian, beliau sering mengenakan baju jas hitam, sorban, dan sarung.

Beliau tidak s**a makan sampai kenyang, terlebih lagi di bulan Ramadhan, yakni cukup dengan satu cawan nasi ketan untuk sekali makan. Jika ada pemberian bantuan dari orang, beliau pergunakan sesuai dengan tujuan pemberinya. Jika ada kelebihan, maka akan dikembalikan lagi kepada pemberinya.

Walau beliau termasuk dalam Abdi Dalem (anggota dalam) Kraton, namun beliau tidak s**a mendengarkan pementasan Gong Barzanji. Sebagai hiburan, beliau senang sekali mendengarkan lantunan shalawat-shalawat, Burdah dan tentunya Tilawatil Quran.

Para santri beliau perintahkan untuk berziarah di Pemakaman Dongkelan tiap Kamis sore. Tiap berziarah, beliau membaca surat Yasin dan Tahlil. Apabila terjadi suatu peristiwa yang menyangkut ummat pada umumnya, beliau mengumpulkan semua santri untuk bersama-sama tawajjuh dan memanjatkan do’a kehadirat Allah, biasanya dengan membaca shalawat Nariyyah 4.444 kali atau surat Yasin 41 kali.

Selain mengasuh santri, beliau tak lantas meninggalkan tugas sebagai kepala rumah tangga. Tiap ba’da Shubuh, beliau mengajar al-Quran kepada segenap keluarga dan pembantu rumah tangga. Nafkah dari beliau, baik untuk istri-istri maupun anak-anak, selalu cukup menurut kebutuhan masing-masing. Suasana keluarga senantiasa tenang, tenteram, rukun, dan tidak sembarang orang keluar-masuk rumah selain atas ijin dan perkenan dari beliau.

Hampir-hampir beliau tak pernah marah kepada santrinya, selain dalam hal yang mengharuskannya. Pernah suatu waktu beliau tiduran di muka kamar santri, tiba-tiba bantal yang beliau pakai diambil secara tiba-tiba oleh seorang santri, sampai terdengar suara kepala beliau mengenai lantai.

Lantas beliau memanggil santri yang mengambil bantal tadi seraya berkata: “Nak... saya pinjam bantalmu, karena bantal yang saya pakai baru saja diambil oleh seorang santri.”

Seringkali beliau memberikan sangu kepada santri yang mohon ijin p**ang ke kampung halamannya, dan sangat memperhatikan kehidupan santri-santrinya.

Para santri pun dianjurkan untuk bertamasya ke luar pesantren, biasanya sekali tiap setengah bulan, sebagai pelepas penat.

Sebagai layaknya seorang ulama, KH. M. Munawwir juga akrab dan sering mendapat kunjungan dari para ulama lain, diantaranya :

1) Murid-murid Syaikh Yusuf Hajar dari Madinah
2) KH. Sa’id (Gedongan – Cirebon)
3) KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
4) KH. R. Asnawi (Kudus)
5) KH. Manshur (Popongan)
6) KH. Siroj (Payaman – Magelang)
7) KH. Dalhar (Watucongol – Magelang)
8) KH. Ma’shum (Lasem)
9) KH. R. Adnan (Solo)
10) KH. Dimyati (Tremas – Pacitan)
11) KH. Idris (Jamsaren – Solo)
12) KH. Abbas (Buntet – Cirebon)
13) KH. Siroj (Gedongan – Cirebon)
14) KH. Harun (Kempek – Cirebon)
15) KH. Muhammad (Tegalgubuk – Cirebon)
16) Para Kyai dari Jombang dan Pare
17) Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan IX
18) B.R.T. Suronegoro
19) KH. Asy’ari (Wonosobo) yang merupakan teman semasa belajar di Tanah Suci.

Selain dikunjungi, beliau juga kerapkali mengadakan kunjungan balasan terhadap para ulama yang lain, seperti kepada KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. Ahmad Dahlan (Yogyakarta), maupun yang lainnya.

Beliau juga mendapat kepercayaan dari pihak Kraton untuk menjadi anggota JEMANGAH, yakni jama’ah shalat tetap yang terdiri dari 41 orang ulama, dimaksudkan sebagai penolak bencana Negara.

*4. Dakwah KH. M. Munawwir*

Sep**ang dari Makkah pada tahun 1909 M, beliau lantas mendakwahkan al-Quran di sekitar kediaman beliau di Kauman. Tepatnya di sebuah langgar kecil milik beliau, tempat tersebut sekarang sudah menjadi Gedung Nasyiatul ‘Aisyiyyah Yogyakarta.

Lantas pindah ke Gading, tinggal bersama kakak beliau, KH. Mudzakkir. Namun karena berbagai sebab, juga atas saran dari KH. Sa’id (Pengasuh Pesantren Gedongan, Cirebon), pada tahun 1910 M beliau pun hijrah ke Krapyak setelah selesainya pembangunan tempat tinggal dan komplek pesantren di sana, di tanah milik Bapak Jopanggung yang kemudian dibeli dengan uang amal dari Haji Ali.

Pada 15 November 1910, Pesantren Krapyak mulai ditempati untuk mengajar al-Quran. Dilanjutkan dengan pembangunan Masjid atas prakarsa KH. Abdul Jalil.

Konon, KH. Abdul Jalil dalam memilih tempat untuk pembangunan masjid, adalah dengan menggariskan tongkatnya di atas tanah sehingga membentuk batas-batas wilayah yang akan dibangun masjid. Dengan kehendak Allah, wilayah yang dilingkupi garis itu tidak ditumbuhi rumput.

KH. M. Munawwir selalu mengerahkan segenap santri untuk melakukan amaliyah membaca surat Yasin tiap selesai pembangunan berlangsung. Pembangunan terus berlanjut secara bertahap, mulai dari masjid, akses jalan, dan gedung komplek santri hingga tahun 1930 M.

Di Pesantren Krapyak inilah beliau memulai berkonsentrasi dalam pengajaran al-Quran. Para santri sangat menghormati beliau, bukan karena takut, melainkan karena haibah, wibawa beliau.

Pengajian pokok yang diasuh langsung oleh KH. M. Munawwir adalah Kitab Suci al-Quran, yakni terbagi atas 2 bagian; BIN-NADZOR (membaca) dan BIL-GHOIB (menghafal).

Santri bermula dari surat al-Fatihah, lantas Lafadz Tahiyyat sampai dengan shalawat Aali Sayyidina Muhammad, kemudian surat an-Nas sampai surat an-Naba’, baru kemudian surat al-Fatihah diteruskan ke surat al-Baqarah sampai khatam surat an-Nas.

Selain itu, pengajian kitab-kitab juga digelar sebagai penyempurna. Suatu hari pada tahun 1910, seorang santri dari Purworejo, yang dianggap mampu oleh beliau diperintahkan: “Ajarkanlah ilmu fiqh kepada santri-santri di hari Jum’at, biarlah mereka mengenal air.”

Begitu seterusnya berkembang, baik kitab fiqh maupun tafsir, makin menonjol disamping pengajian al-Quran yang utama.

Beliau mengajar secara sistem MUSYAFAHAH, yakni sorogan, tiap santri langsung membaca di hadapan beliau. jika ada kesalahan beliau langsung membetulkannya.

Adab (Tata Krama) dalam pengajian al-Quran sangat beliau tekankan kepada para santri. Berbagai aturan dan ta’ziran beliau berlakukan terhadap para santri.

Untuk santri yang telah khatam, maka dipanjatkanlah doa untuknya langsung oleh KH. M. Munawwir, lantas diberikanlah baginya sebuah Ijazah, yang intinya berisi pengakuan ilmu dari guru kepada muridnya serta Tarattubur-Ruwat (Urutan Riwayat) atau Sanad dari Sang Guru sampai kepada Rasulullah S.A.W secara lengkap.

Banyak diantara murid-murid beliau yang juga meneruskan perjuangan di kampung masing-masing, berupa mendakwahkan Islam pada umumnya, dan pengajaran al-Quran pada khususnya. Misal :

1. KH. Arwani Amin (Kudus)
2. KH. Badawi (Kaliwungu – Semarang)
3. Kyai Zuhdi (Nganjuk – Kertosono)
4. KH. Umar (Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan – Solo)
5. Kyai Umar (Kempek – Cirebon)
6. KH. Noor (Tegalarum – Kertosono)
7. KH. Muntaha (Pesantren Al-Asy’ariyyah, Kalibeber – Wonosobo)
8. KH. Murtadha (Buntet – Cirebon)
9. Kyai Ma’shum (Gedongan – Cirebon)
10. KH. Abu Amar (Kroya)
11. KH. Suhaimi (Pesantren Tamrinus Shibyan, Benda – Bumiayu)
12. Kyai Syathibi (Kyangkong – Kutoarjo)
13. KH. Anshor (Pepedan – Bumiayu)
14. KH. Hasbullah (Wonokromo – Yogyakarta)
15. Kyai Muhyiddin (Jejeran – Yogyakarta)
16. Haji Mahfudz (Purworejo)

Untuk para Mutakharrijiin (Alumni), beliau senantiasa menjalin hubungan dan bimbingan, bahkan berupa kunjungan ke tempat masing-masing.

*5. Karomah KH. M. Munawwir*

KH. Abdullah Anshar (Gerjen – Sleman) mengetahui beliau wafat, maka menangislah ia serta mengatakan tak kerasan lagi hidup di dunia tanpa beliau. Setelah p**ang ke rumah, KH. Abdullah langsung menyusul p**ang ke Rahmatullah.

Kyai Aqil Sirodj (Kempek - Cirebon) dikala masih berusia sekitar 8 tahun belum bisa mengucap dengan jelas bunyi “R”. Namun setelah minum air bekas cucian tangan beliau, langsung dapat membaca “R” dengan jelas.

Kala mengajar, biasanya beliau sambil tiduran, bahkan kadang benar-benar tertidur. Namun bila ada santri yang keliru membaca, beliau langsung bangun dan mengingatkannya.

Saat baru berusia 10 tahun, beliau berangkat mondok kepada KH. Cholil di Bangkalan, Madura. Sampai di sana, saat akan dikumandangkan iqamat, KH. Cholil tidak berkenan menjadi imam shalat seraya berkata: “Mestinya yang berhak menjadi imam shalat adalah anak ini (yakni KH. M. Munawwir). Walaupun ia masih kecil tetapi ahli qira’at.”

Sewaktu awal di Tanah Suci, beliau mengirimkan surat kepada ayahnya, menyatakan niat untuk menghapalkan al-Quran. Namun ayah beliau belum memperkenankannya, sehingga berniat mengirimkan surat balasan.

Namun, belum sempat mengirimkan surat balasan, sang Ayah sudah mendapat surat kedua dari putranya yang menyatakan bahwa ia sudah terlanjur hafal. Dihafalkannya dalam waktu 70 hari (keterangan lain menyatakan 40 hari).

Dan masih banyak lagi karomah KH. M. Munawwir yang lainnya.

*6. Maqalah KH. M. Munawwir*

1) Sebuah hadits riwayat Abi Hurairah Ra bahwa Nabi Muhammad S.A.W Bersabda :
“Wahai Abu Hurairah, pelajarilah al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lain. Tetaplah engkau seperti itu hingga mati. Sesungguhnya jikalau kamu mati dalam keadaan seperti itu, malaikat berhaji ke kuburmu sebagaimana kaum mukminin berhaji ke Baitullah al-Haram.”

2) Sebuah sya’ir '
“Semua ilmu termuat di dalam al-Quran – Hanya saja orang-orang tak mampu memahami seluruh kandungannya.”

3) “Jikalau engkau bermaksud akan sesuatu, maka bacalah surat Yasin.”

4) “Kalau mengaji al-Quran, maka kajilah sampai khatam, supaya menjadi orang mulia.”

5) “Waktu luang yang tidak digunakan untuk nderes al-Quran adalah kerugian yang besar.

6) “Setelah seseorang hafal al-Quran, maka haruslah ia Tidak s**a omong kosong dan tidak menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja mencari dunia.”

7) “Wahai putera dan menantuku yang mempunyai tanggungan al-Quran, apabila kalian belum lancar benar maka jangan sampai merangkap apapun baik berdagang ataupun lainnya.”

8) “Orang hafal al-Quran berkewajiban memeliharanya, maka dari itu jangan melakukan hal-hal -termasuk menuntut ilmu- yang tidak fardhu, sekiranya dapat menyebabkan hafalannya hilang.”

9) “Kalau kamu tidak mengaji qira’at sab’ah kepadaku, maka mengajilah kepada Arwani Amin Kudus.”

10) “Buah al-Quran adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.”

11) Beliau berkata kepada KH. Basyir :
“Marilah uzlah seperti saya, guna mengajarkan al-Quran. Kalau kita memikirkan harta dunia, maka akan binasalah al-Quran nanti.”

12) Beliau berkata kepada putri beliau, Nyai Hindun :
“Orang hafal al-Quran, mengamalkan isi kitab Majmu’ dan Mudzakarat, insya-Allah menjadi orang shalihah.”

13) Beliau tidak mengijinkan santri-santrinya menjadi Pegawai Negeri Pemerintah Penjajah pada waktu itu.

14) Beliau menyampaikan apa yang pernah diterima dari guru beliau, KH. Cholil Bangkalan :
“Apabila hidayah tiba, permusuhan pun musnah. Jadilah engkau bagaikan Air, dibutuhkan oleh siapa dan apa saja. Jika tidak begitu, maka jadilah seperti Batu, tidak ada bahaya maupun manfaat (secara aktif –red). Janganlah engkau laksana Kalajengking, siapa melihat maka ia pun takut.”

15) “Seyogyanya engkau hadiahkan berkah surat al-Fatihah kepada segenap kaum muslimin yang masih hidup, lebih-lebih diwaktu tertimpa marabahaya atau berperangai buruk, barangkali dapat menjadi obatnya. Sebagaimana guru saya KH. Cholil pernah mengajarkan (di nomor 16).”

16) Beliau menyampaikan apa yang disampaikan guru beliau, KH. Cholil :
“Teman-teman sekalian, jikalau engkau menghadiahkan berkah surat al-Fatihah jangan hanya kepada muslimin yang sudah meninggal saja, tetapi juga yang masih hidup, syukurlah jika kepadaku juga. Sebab Nabi Muhammad S.A.W pernah bersabda: ‘UDDA NAFSAKA MIN AHLIL QUBUUR (anggaplah dirimu termasuk ahli Qubur).”

17) “Apabila engkau memohon kepada Allah, maka mohonlah Kesejahteraan (‘Aafiyah).”

18) “Kelak di akhir jaman, Shin akan menguasai seluruh daerah.”

19) Sebuah sya’ir :
“Aku tak bisa mendapatkan kembali apa yang telah meninggalkan diriku, baik dengan LAHFA (kalau), dengan LAITA (seandainya), ataupun dengan LAU-INNI (andaikan saya).”

20) “Selama saya masih hidup, puteraku yang lelaki selalu saya suruh memakai kopyah. Sedangkan yang perempuan segera saya carikan jodoh, tak usah menunggu orang lain yang datang melamarnya.”

*7. Wafat dan Penerus KH. M. Munawwir*

Sebagaimana manusia pada umumnya, KH. M. Munawwir menderita sakit selama 16 hari. Pada mulanya terasa ringan, namun lama-kelamaan semakin parah. Tiga hari terakhir saat beliau sakit, beliau tidak tidur.

Selama sakit, selalu berkumandanglah bacaan surat Yasin 41 kali yang dilantunkan oleh rombongan-rombongan secara bergantian. Satu rombongan selesai membaca, maka rombongan lain menyusulnya, demikian tak ada putusnya.

Akhirnya, beliau KH. M. Munawwir wafat ba’da Jum’at tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 M di kediaman beliau di komplek Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Dikala beliau menghembuskan nafas terakhir, ditunggui oleh seorang putri beliau, Nyai Jamalah, yakni ketika rombongan pembaca surat Yasin belum hadir.

Shalat Jenazah dilaksanakan bergiliran lantaran banyaknya orang yang bertakziyyah. Imam shalat Jenazah kala itu adalah KH. Manshur (Popongan – Solo), KH. R. Asnawi (Bendan – Kudus), dan besan beliau KH. Ma’shum (Suditan - Lasem).

Beliau tidak dimakamkan di kompleks Pesantren Krapyak, melainkan di Pemakaman Dongkelan, yakni sekitar 2 km dari kompleks Pesantren.

Dan sepanjang jalan itulah, terlihat kaum muslimin dari berbagai golongan penuh sesak mengiring dan bermaksud mengangkat jenazah beliau, sampai-sampai keranda jenazah beliau cukup ‘dioperkan’ dari tangan ke tangan yang lain, sampai di Pemakaman Dongkelan.

Jenazah KH. M. Munawwir dikebumikan di sana, dan selama lebih dari seminggu pusara beliau selalu penuh dengan penziarah dari berbagai daerah untuk membaca al-Quran.

Beliau wafat meninggalkan Pesantren yang merupakan tonggak pemisah suasana. Suasana sebelum dibangun pesantren, Krapyak dikenal sebagai tempat rawan, penuh kegelapan, abangan dan sedikit yang menjalankan ajaran Islam.

Bersamaan dengan didirikannya Pesantren, banyak p**a usaha busuk dari golongan-golongan Klenik yang dengki dan selalu merintangi perintisan Pesantren.

Namun upaya-upaya itu musnah, dan suasana gelap beralih menjadi ramai dan meriah dengan alunan Ayat-ayat Suci al-Quran dengan segala konsekuensinya.

Almarhum KH. M. Munawwir berwasiyat, agar keluarga melanjutkan perjuangan Pesantren, tepatnya kepada 2 orang putra dan 4 orang menantu. Akan tetapi karena beberapa udzur, perjuangan Pesantren dikawal secara langsung oleh 3 tokoh yang dikenal sebagai Tiga Serangkai yakni;

1) KH. R. Abdullah Affandi (putra beliau dari Nyai R.A. Mursyidah asal Kraton Yogyakarta).
Disamping menangani pengajian al-Quran, beliau juga mengurusi hubungan Pesantren dengan dunia luar. Beliau wafat pada 1 Januari 1968.

2) KH. R. Abdul Qadir (putra beliau dari Nyai R.A. Mursyidah asal Kraton Yogyakarta).

Pada tahun 1953, para santri penghafal al-Quran dikelompokkan menjadi satu dalam sebuah wadah, yakni Madrasatul Huffadz yang disponsori oleh KH. R. Abdul Qadir, dibantu KH. Mufid Mas’ud (menantu KH. M. Munawwir), Kyai Nawawi (menantu KH. M. Munawwir) dan Hasyim Yusuf dari Nganjuk.

Ada 2 sistem yang ditempuh di Madrasatul Huffadz :
Pertama, adalah Sistem Perseorangan, yakni Kyai menurut kepada santri untuk menghafalkan suatu ayat, surat maupun juz.

Kedua, adalah Sistem Jama’ah Mudarasah, yakni seorang santri disuruh menghafal suatu ayat, surat atau juz, kemudian membacanya lantas berhenti dan dilanjutkan oleh santri yang lain, demikian sampai khatam 30 juz.

Untuk mentashhih kembali hafalan santri-santri yang sudah khatam, maka diharuskan melakukan ‘Ardhah secara Musyafahah sampai tiga kali khatam. Untuk menguji kelancaran hafalan, adalah dengan dibacanya suatu ayat oleh Kyai dan santri disuruh melanjutkannya.

Begitu p**a ditanyakan kepada santri tentang letak ayat tersebut dalam surat apa, halaman berapa, bagian mana, lembar kiri atau kanan, ayat nomor berapa, sampai surat baru masih berapa ayat lagi.

Seperti itulah seluk beluk menghafalkan al-Quran di Madrasatul Huffadz saat itu. Setelah hafal seluruh al-Quran, maka selama 41 hari dilanjutkan Mudarasah (nderes) dengan mengkhatamkan 41 kali juga. KH. R. Abdul Qadir wafat pada 2 Februari 1961.

3) KH. ‘Ali Ma’shum (menantu beliau asal Lasem, suami dari Nyai Hj. Hasyimah).
Beliau sudah turut mengasuh Pesantren sejak 1943. Beliau adalah perintis dan pengasuh pengajian kitab-kitab selepas KH. M. Munawwir wafat, yakni sejak kep**angan beliau dari Tanah Suci dalam rangka menimba ilmu.

Dalam penyelenggarannya, beliau menerapkan beberapa sistem, yakni Sistem Madrasi (Klasik) dan Sistem Kuliyah, yang masing-masing dilengkapi dengan Pengajian Sorogan (individual).

Adapun Pengajian Sorogan ini, beliau berlakukan dengan model Semi-Otodidak, yakni dengan ditentukannya suatu kitab oleh KH. ‘Ali Ma’shum untuk dikaji seorang santri.

Tiap sore hari, santri tersebut harus menghadap beliau untuk membaca kitab. Dalam hal ini, santri harus berusaha mempelajarinya sendiri, baik dalam cara membaca maupun menela’ah maknanya, baik dengan bertanya maupun berdiskusi dengan rekan dan kitab yang sudah ada maknanya.

Sedangkan KH. ‘Ali Ma’shum cukup menyimak bacaan santri sambil mengajukan beberapa pertanyaan, dan membenarkan jika ada kesalahan membaca maupun memahami isinya.

Dengan sistem ini, beliau maupun santri telah banyak menghemat waktu serta membuahkan hasil yang memuaskan lagi cermat. KH. ‘Ali Ma’shum wafat pada 1989.

Demikianlah estafet kepemimpinan Pesantren terus bergulir, semakin berkembang seiring bertambahnya usia, baik dalam metode maupun corak Pesantren, namun tak lepas dari sentuhan khas salafiyahnya. Dan tentunya, tetap berkonsentrasi pada misi awal yang dirintis Sang Muassis (Pendiri), yakni membumikan al-Quran, memasyarakatkan al-Quran dan meng-al-Quran-kan masyarakat.

================[

Biografi ini disadur dari Buku yang berjudul “MANAQIBUS SYAIKH: K.H.M. MOENAUWIR ALMARHUM: PENDIRI PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA” yang diterbitkan oleh MAJLIS AHLEIN (Keluarga Besar Bani Munawwir) Pesantren Krapyak, keluaran tahun 1975.

Address

Yogyakarta City

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kyai Kampung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category